Parents, saat mendampingi anak belajar sering kesal dan marah-marah? 😤
“Udah belajar kok masih salah terus!” “Fokus dong!” “Gimana sih kamu?”
Saya sebagai guru sekaligus bapak paham banget rasanya.
Thread ini berisi cara praktis supaya kita bisa mendampingi anak belajar dengan lebih sabar 👇
📚 List beasiswa luar negeri yang ngga wajib balik ke Indonesia:
• MEXT Scholarship (Jepang)
• Global Korea Scholarship / GKS (Korea Selatan)
• Turkiye Burslari Scholarship (Turki)
• Erasmus Mundus Joint Master Degree (Berbagai negara di Eropa)
• DAAD Scholarship (Jerman)
• Stipendium Hungaricum (Hungaria)
• Romanian Government Scholarship (Rumania)
• Russian Government Scholarship (Rusia)
• MoE Taiwan Scholarship (Taiwan)
• Invest Your Talent in Italy (Italia)
• KAUST Fellowship (Arab Saudi)
• Swedish Institute Scholarship (Swedia)
• Swiss Government Excellence Scholarships (Swiss)
• Eiffel Excellence Scholarship (Prancis)
• Chinese Government Scholarship (Tiongkok)
banyak banget jujur, kalau kalian minat yang mana? ✋🏼 barangkali dikabulkan
Sering nggak berantem sama pasangan masalah suhu AC saat mau tidur? 🤔
Si suami udah menggigil sampai bungkus badan pakai selimut tebal, eh si istri malah bilang masih gerah, keringatan, dan minta remote AC diturunin lagi suhunya.
Secara sains, fenomena ini ternyata WAJAR banget dan ada penjelasan medisnya. Selama ini kita tahu teori kalau wanita lebih cepat kedinginan dibanding pria, tapi khusus di malam hari saat mau tidur, kondisinya justru berbalik 180 derajat!
Ini dia 4 alasan ilmiah kenapa suami kedinginan tapi istri malah kegerahan di kamar tidur:
1. "Mesin" Tubuh Pria Drop Total Saat Tidur (Basal Metabolic Rate)
Pria memang punya massa otot lebih banyak yang berfungsi sebagai kompor alami di siang hari. Tapi sains mencatat, begitu pria mulai rileks dan tertidur di malam hari, laju metabolisme mereka langsung drop ke titik terendah. Karena tidak ada aktivitas fisik, produksi panas dari otot pria mati total. Suhu tubuh suami merosot tajam, bikin mereka jadi super sensitif sama dingin dan langsung berburu selimut tebal.
2. Tubuh Istri Sedang Berjuang "Membuang Panas Dalam"
Secara biologis, manusia tidak akan bisa jatuh tidur nyenyak kalau suhu inti tubuhnya (core body temperature) belum turun sekitar 1°C. Nah, karena faktor hormon reproduksi (seperti progesteron), tubuh wanita punya kecenderungan menahan panas di dalam.
Saat menjelang tidur, tubuh istri harus bekerja ekstra keras membuang panas inti itu keluar melalui kulit. Proses pelepasan panas dari dalam ke luar inilah yang membuat kulit wanita terasa panas dan mereka merasakan gerah yang luar biasa dari dalam tubuhnya.
3. Efek Kasur yang Menjebak Radiasi Panas
Ini melibatkan hukum fisika perpindahan panas. Pria rata-rata memiliki massa tubuh yang lebih besar, sehingga mereka memancarkan radiasi panas yang cukup tinggi ke permukaan kasur dan sprei di awal malam. Panas yang terjebak di kasur ini akhirnya merembet ke area tidur istri di sebelahnya. Efeknya, istri merasakan microclimate (suhu mikro) di kasurnya menjadi sangat pengap, sehingga mereka butuh udara AC yang jauh lebih dingin untuk menyeimbangkannya.
4. Perbedaan Jam Biologis (Ritme Sirkadian) Suhu Tubuh
Sains kronobiologi menemukan bahwa grafik suhu tubuh wanita dan pria memiliki jam puncak yang berbeda. Suhu tubuh wanita sering kali justru mencapai titik tertingginya (paling panas) di malam hari menjelang tidur. Kebalikan dengan pria yang suhu tubuhnya sudah mulai menurun sejak sore atau awal malam.
Kesimpulannya:
Teori siang hari di mana wanita lebih cepat kedinginan itu tidak berlaku di kamar tidur pada malam hari.
Saat malam tiba:
Suami: Butuh selimut (karena "mesin" tubuhnya mendingin dengan cepat).
Istri: Butuh AC dingin (karena tubuhnya sedang berjuang membuang panas ke luar).
Jadi buat para suami, jangan heran lagi ya kalau istrinya hobi nurunin suhu AC malam-malam. Tarik aja selimutnya lebih rapat! 🛌💤
Gimana, kondisi kamar tidur kalian gini juga gak?
Jujur The Guardian keren banget sih.
Mereka nyediain panduan Piala Dunia 2026 secara lengkap dan gratis cooy.
Gokil sih setiap 48 negara dan total 1.248 yang ikut World Cup dibahas satu-satu secara mendetail. Kita bisa lihat setiap pemain kunci sampai kelebihan + kekurangan tim
Ijin untuk nulis agak panjang tentang hal di luar sepakbola.
Hal yg menurut gue lebih esensial, sangat esensial tepatnya, dan layak dibagikan, dalam semangat utk impact not impress seperti yg disampaikan om @zoelfick
Bismillah
Gue udah cukup tua, dan dah ngelewatin bnyk hal, ga enak, enak, enak banget. Dan dlm perjalanan sampe umur gue sekarang, pernah tiba di sebuah persimpangan. Dimana akhirnya gue memilih satu arah, logika.
Karna beragam pergaulan, informasi, pengetahuan yg gue dapet, sekian puluh tahun gue mengedepankan logika. Tanpa benar benar meninggalkan Tuhan.
Masih selalu berterimakasih, atau mengadu ke Tuhan untuk segala nikmat, rejeki, karunia, dan juga kesedihan, cobaan.
Yang gue tinggal adalah, ibadah.
Lalu beberapa purnama lalu, gue terlibat diskusi dengan seorang sahabat, yang barengan belajar ttg hidup dari aspek spiritual secara umum.
Karna background kami telco, akhirnya kami tiba di sebuah diskusi tentang ibadah - dalam hal ini sholat, dan demi memahami esensi Sholat ini, kami gunakan analogi dari dunia telco.
Dan sepertinya bagi pengguna sosmed seperti kita ini, akan relate dengan analogi ini.
Kami menganalogikan ibadah sebagai signalling, di dunia cellular - adalah sesuatu yang diperlukan gadget kita supaya bisa terus ngobrol dengan "central network" nya operator, via tower BTS, wifi router, hotspot dsb.
Pengibaratan dalam diskusi tadi, akhirnya berujung pada kesimpulan kurleb begini
Kalo kita ga ibadah, artinya ga ada signalling tadi. Jadi gimana central nya provider, tau ada client yg butuh dilayani?
Bagaimana Tuhan akan mengenali kita? Bagaimana Tuhan tau, kita sedang butuh apa?
Wong kita nya aja ga connect, ga ada signal yg keterima di pusat.
Tapi pak, kan Tuhan Maha Tau.
Bener Tuhan Maha Tau, bagaimana jika gantian Tuhan nanya ke kita.
Tapi lo dulu dah bikin perjanjian ama gue sebelum lu gue kirim ke dunia.
(QS : Al A'raf 172)
Maka jika dalam perjanjian itu sudah bersaksi bahwa Alloh adalah Tuhan kita, artinya kita harus menjalankan apa yang diperintahkan.
QS Adz-Dzariyat : 56
Manusia dan jin diciptakan untuk ibadah kepada Alloh.
Jadi kalo perintah ga dilakukan (bagian dari kesaksian kita kepadaNya) mosok kita minta sesuatu mulu dari Dia ?
Tuhan ga butuh ibadah kita.
Kita yang butuh ibadah, supaya itu tadi, tetap nyambung dan dikenali, ada kita (client) yang sewaktu waktu butuh akses X, IG atau Youtube (ibaratkan, minta kesehatan, kesejahteraan, pengampunan)
Tapi pak, ibadah kan ga cuma sholat?
Bener, tapi Sholat adalah ibadah yg paling intimate, antara kita dan Tuhan saja. Satu satunya yg ga bisa disambi ngerjain yang lain. Ya kan?
Ngopi di cafe, seringkali buru" minta akses wi-fi. Masuk parkiran di basement, blank spot ga ada sinyal aja panik karena ga bisa sosmed-an. Butuh selalu connect
Lha kok gak connect ke PUSAT nya segala PUSAT tenang tenang aja.
Disclaimer : gue bukan orang suci alim, masih cetek. Cuma ingin berbagi, pengalaman perjalanan hidup, sedang diarahkan ke track yg semestinya, oleh Tuhan
Semoga bermanfaat.
Mohon koreksi gus @hayder_imron@hasyimmah pak @MuhammadiyinGL
Bayi 4 bulan. Lagi tengkurep di kasur. Fokus lihat tangannya sendiri. Jari-jari kecil bergerak-gerak. Matanya serius.
Bapak datang dari belakang. Langsung angkat. Gak bilang apa-apa.
Bayi kaget. Badan menegang. Tangan terlempar ke samping. Nangis.
"Lah kan cuma digendong. Lebay amat."
Pak, bayi Bapak bukan boneka yang bisa diangkat kapan saja dari posisi manapun tanpa aba-aba. Dia MANUSIA KECIL.
Saya ada cerita seorang bapak.
Dia kerja 20 tahun buat biayain anaknya kuliah S1.
Lembur.
Utang.
Sampai jual tanah warisan.
Anaknya lulus. IPK bagus.
Wisuda lengkap dengan toga.
Sekarang anaknya kerja serabutan. Gaji di bawah UMR.
Dan si bapak masih senyum bilang,
"Mungkin belum rezekinya."
Yang bikin saya merenung bukan cerita anaknya.
Tapi cerita si bapak.
Dia lahir tahun 70-an.
Gak tamat SMA pun bisa buka toko,
punya rumah,
besarin anak dengan layak.
Logikanya simpel dan masuk akal:
"Dulu gw gak sekolah tinggi aja bisa. Kalau anak gw kuliah,
hidupnya pasti jauh lebih baik dari bapaknya."
Logika itu benar. Di zamannya.
Masalahnya bukan orang tua yang salah didik.
Bukan juga anaknya yang kurang usaha.
Tapi janji yang mereka pegang sudah kedaluwarsa.
Ijazah dulu adalah tiket.
Sekarang ijazah adalah syarat minimum.
Yang bahkan kadang pun masih belum cukup.
Dua hal yang kelihatannya sama, tapi sebetulnya beda jauh.
Bayangin ya.
Tahun 1995,
fresh graduate langsung diperebutkan perusahaan.
Sekarang,
lowongan entry level minta pengalaman 2 tahun,
skill digital, bisa multitasking, dan siap ditempatkan di mana saja.
Gajinya?
UMR aja belum tentu.
Hampir sama kalau dikonversi ke harga waktu itu.
Tapi harga rumah, kontrakan, dan beras sudah tidak ikut berdiam di angka yang sama.
Generasi 90-an pasti hafal nasihat ini:
"Rajin sekolah, biar dapat kerja bagus."
"Kuliah dulu, baru enak hidupnya."
"Investasi terbaik itu pendidikan."
Nasihat itu bukan bohong.
Di zamannya, itu benar dan terbukti.
Tapi zamannya sudah ganti.
Nasihatnya tidak ikut ganti.
Dan anak-anak kita tumbuh sambil pegang peta zaman dulu
yang sudah tidak cocok sama jalanan yang mereka hadapi sekarang.
Saya pernah ngobrol panjang sama seorang teman.
Dia cerita,
"Bokap gw sampai jual motor buat bayar UKT semester terakhir gw."
Saya tanya, "Sekarang kerjanya apa?"
"Freelance desain. Kadang ada job, kadang enggak."
"Bokap lu tau?"
"Tau. Dia bilang sabar, rezeki ada aja. Tapi gw liat matanya... dia bingung."
Si bapak bingung bukan karena anaknya gagal.
Tapi karena cara yang dulu berhasil sekarang tidak lagi bekerja.
Dan dia tidak punya peta baru untuk dikasih ke anaknya.
Kalau anakmu masih sekolah atau mau kuliah,
jangan cuma pikirin jurusannya.
Tapi ajarin juga:
1. Ajarin dia cara kerja uang sejak kecil.
2. Bekali satu skill konkret yang bisa langsung menghasilkan.
Sebelum dia lulus dan bingung mau mulai dari mana.
3. Kasih ruang buat gagal kecil sekarang.
Biar dia gak gagal besar pertama kali justru di dunia nyata.
4. Jangan cuma bekali ijazah. Bekali juga kemampuan bertahan.
Bukan berarti kuliah tidak penting. Tapi kuliah saja sudah tidak cukup.
Soalnya begini.
Orang tua yang paling menyiapkan anaknya bukan yang paling banyak bayar biaya kuliah.
Tapi yang paling jujur bisa ngomong ke anaknya:
"Dunia yang kamu masuki berbeda dari dunia yang Ayah dan Ibu kenal.
Kita harus cari tau bareng-bareng."
Kejujuran itu lebih berharga dari SPP mana pun.
Dan seperti biasa, selalu ada dua kubu.
Kubu pertama bilang,
"Orang tua salah. Harusnya ajarin skill, bukan kejar gelar."
Kubu kedua bilang,
"Orang tua sudah benar. Anaknya yang kurang mau usaha."
Tapi ada kemungkinan ketiga yang jarang ada yang mau nyebut:
Dua-duanya sudah berusaha sebaik yang mereka bisa dengan informasi yang mereka punya.
Tapi sistemnya yang tidak pernah jujur ke keduanya.
Generasi kita mungkin adalah generasi pertama yang hidupnya lebih susah dari orang tuanya.
Bukan karena malas. Bukan karena manja.
Tapi karena peta yang diajarkan ternyata sudah tidak relevan saat mereka datang.
Dan orang tua mereka masih dengan tulus menunjuk ke peta yang didapat dulu.
💚 SUMPAH GEDEG BANGETTT. JURI SAMA MC NYA GA BANGET, PLEASE VIRALIN SEVIRAL VIRALNYA. KASIAN ADIK ADIK TIM C YANG UDAH BERANI SPEAK UP TAPI MALAH DIPOJOKIN JURI SAMA MC NYA 🙄
banyak laki-laki tidak hancur karena miskin, mereka hancur karena pulang pun tidak menemukan ketenangan.
di luar, dia dituntut jadi kuat.
di rumah, dia ditutut jangan pernah lemah.
harus berhasil.
harus tahan banting.
harus selalu punya jawaban.
harus selalu terlihat baik-baik saja.
padahal laki-laki juga manusia.
dia bisa lelah.
bisa takut.
bisa kehilangan arah.
dan kadang, diamnya bukan karena tidak peduli—
tapi karena terlalu penuh, bahkan untuk bercerita pun tidak tahu harus mulai dari mana.
laki-laki jarang bercerita,
bukan karena mereka tidak punya luka,
tapi karena dunia terlalu sering meminta
mereka sembuh
tanpa pernah memberi ruang untuk terluka.
dan sayangnya,
sering kali luka yang paling dalam bukan datang dari dunia luar,
tapi dari orang yang dianggapnya bisa memberikan ketenangan.
dicela karena penghasilannya,
dibandingkan dengan laki-laki lain.
direndahkan karena belum mampu memenuhi semua keinginan pasangannya.
sampai akhirnya dia mengerti,
tidak semua pulang itu menenangkan.
maka perempuan qana'ah menjadi mahal.
qana'ah itu bukan sekadar menerima, tapi juga tau batas antara syukur dan tuntutan berlebihan.
tidak semua laki-laki butuh perempuan yang paling cantik.
banyak yang hanya butuh satu orang yang berkata:
"aku tau hidupmu sedang berat,
tapi aku percaya kamu bisa lewatin ini semua,
kita hadapi sama-sama ya."
kalimat sederhana.
tapi bagi laki-laki, itu bisa menjadi alasan untuk bertahan lebih lama.
karena dihormati, dihargai, dipercaya, diyakinkan lebih menyentuh daripada dicintai.
perempuan yg qana'ah menjaga harkat dan martabat suaminya.
dia tidak membuka aibnya.
tidak meruntuhkan wibawanya termasuk di depan anak-anaknya.
tidak menjadikan kekurangan ekonomi sebagai senjata.
tidak membandingkan suaminya dengan laki-laki lain.
dia paham,
harga diri laki-laki sering kali berdiri di balik satu kalimat sederhana:
"aku percaya sama kamu"
dan dari kalimat itu,
laki-laki rela mati berjuang untuk keluarganya.
ingin jadi yang paling kuat.
paling bisa diandalkan.
paling berwibawa di mata istri dan anak-anaknya.
dari situlah qawwam tumbuh.
dan qawwam bukan cuma soal siapa yang mencari nafkah.
qawwam juga bukan prestasi tapi amanah yang Allah kasih.
Allah berfirman:
"ar-rijaalu qawwamuuna 'alan-nisaa.."
laki-laki adalah pemimpin bagi perempuan, karena mereka memikul tanggung jawab dan menafkahkan hartanya.
tapi qawwam bukan berarti paling berkuasa.
qawwam itu melindungi.
memberi rasa aman.
menjadi tempat berteduh, bukan sumber luka.
dia berpikir sebelum berkata:
"kalau aku begini,
dia sakit hati gak ya?"
dia mengingat hal-hal kecil.
dia mendengar tanpa menghakimi.
dia membuat perempuan merasa:
aku dicintai.
aku berharga.
aku dipertimbangkan.
aku diutamakan.
aku tidak sendiri.
karena perempuan tidak selalu butuh laki-laki paling kaya, tapi laki-laki yang paling hadir.
hubungan bukan tentang siapa yang paling dominan, siapa yang paling berkuasa.
tapi tentang siapa yang paham cara menjaga.
perempuan dengan qana'ah.
laki-laki dengan qawwam.
dua-duanya bukan saling menyerang, tapi saling menenangkan.
karena cinta yang dewasa bukan tentang "kamu harus jadi seperti yang aku mau"
tapi
"aku ingin jadi tempat paling aman buat kamu pulang."
dan percayalah,
laki-laki yg merasa dihargai akan berjuang jauh lebih keras dibanding laki-laki yg hanya terus dituntut.
karena gak ada laki-laki yg takut berperang,
jika ia tahu ada rumah
yg layak untuk ia menangkan.
wallahu a'lam.
Halo.
Saya sering memakai kereta api untuk perjalanan rutin Semarang-Jakarta, dan sebaliknya. Di kereta, saya sering mendapati contoh seperti ini.
Dan salat seperti ini: tidak sah (jika yang dikerjakan adalah salat fardu).
Pertama, semangat shalatnya patut diapresiasi. Tapi harus diketahui bahwa salat itu ada fikihnya, dan contoh di bawah ini bisa jadi melewatkannya.
Berdiri (qiyam) adalah rukun salat fardu. Kecuali si Mas salat sunnah, maka tidak perlu berdiri (meski bukan di kereta, salat sunnah dengan duduk diperbolehkan).
Maka berdiri, meskipun sedang di kendaraan apapun (termasuk kereta), masih menjadi wajib bagi orang salat. Fikih menjelaskan: jika kalian mampu berdiri, ya wajib berdiri.
Ada pengecualian, tapi sempit:
1. Kalau kendaraannya terlalu bergoyan sehingga berdiri benar-benar membahayakan kalian,
2. Tidak ada ruang sama sekali untuk berdiri, atau
3. Khawatir waktu salatnya habis sementara turun tidak mungkin.
Sebagai pengguna setia KAI, saya cukup tahu betul umumnya sudah ada musala yang bersih di gerbong dekat restoran.
Kalau ada musala, dan fisiknya si Mas mampu berdiri, maka salat di kursi penumpang seperti ini: belum sah menurut kebanyakan ulama (jumhur).
Sekali lagi, niat si Mas sudah benar, dan harus diapresiasi.
Tinggal mengubah caranya saja.
🙏
SETIAP UMUR PUNYA UJIANNYA
usia 0-7 tahun?
- ujian: pembentukan adab.
- solusi: beri teladan, bukan hukuman.
- karena anak belajar dari yang dia lihat, bukan dari yang kamu omongin.
usia 7-14 tahun?
- ujian: kedisiplinan.
- solusi: rutin, konsisten, tegas tapi lembut.
- karena mereka butuh struktur, bukan kekerasan.
usia 15-21 tahun?
- ujian: pergaulan dan pengaruh lingkungan.
- solusi: bangun komunikasi terbuka, jadi tempat curhat, bukan hakim.
- karena mereka butuh didengar, bukan dinasihati.
usia 21-35 tahun?
- ujian: karier, jodoh, dan kegalauan masa depan.
- solusi: belajar manajemen waktu, tingkatkan kapasitas diri, dekatkan diri pada allah.
- karena ini fase paling berat, tapi juga paling menentukan.
usia 35 tahun ke atas?
- ujian: tanggung jawab dan makna hidup.
- solusi: fokus pada kualitas ibadah dan ketenangan batin.
- karena kamu sudah gak butuh validasi orang, kamu butuh kedamaian hati.
-pemerintah
gue suka banget kalimat ini:
“Orang yang gak terbiasa komunikasi sehat, tiap masukan kerasa kayak sindiran.
Orang yang kurang tanggung jawab, tiap kritik kerasa kayak disudutkan.”
Ego itu harus dikontrol, bukan diturutin.
Karena kalau ego yang selalu pegang kendali, semua hal bakal diputer jadi soal harga diri.
Dikit-dikit ngerasa diserang, dikit-dikit pengen ngebela diri, padahal belum tentu orang lain punya niat seburuk itu.
Ego bikin kita susah denger, susah nerima, dan akhirnya susah berkembang.
Padahal gak semua masukan itu jatuhin kadang itu cara orang lain biar kita bisa jadi versi yang lebih baik.
Kalau ego terus diturutin, yang ada kita bakal stuck di situ-situ aja.
Gak belajar, gak berubah, cuma makin pinter ngehindar dan nyalahin keadaan.
University of Queensland bikin kursus persiapan IELTS yang bisa diakses gratis.
80+ jam materi interaktif, dibuat oleh orang-orang yang sama yang ngajar di salah satu pusat testing IELTS resmi.
Bukan tips YouTube random, tapi kurikulum yang beneran dirancang untuk bantu kamu naik skor.
Jujur, menjadi bapak-bapak usia 40-an yang harus bersikap "tega" ke anak sendiri itu menguras mental. Apalagi kalau berhadapan dengan anak perempuan umur 6 tahun yang lagi jago-jagonya negosiasi.
Kadang rasanya pengen menyerah saja. Mengiyakan apa yang dia mau supaya rumah tenang, dan saya bisa duduk sebentar nyeruput kopi hitam tanpa dengar suara rengekan.
Istri saya adalah seorang perawat NICU. Setiap hari dia merawat bayi-bayi prematur yang butuh presisi dan kedisiplinan tingkat tinggi. Jadi buat dia, urusan rutinitas anak di rumah—jadwal tidur, jam belajar, dan batas waktu main gadget—adalah hal mutlak. Kalau istri lagi dapat shift jaga malam, otomatis sayalah sang "Panglima Tempur" yang harus menegakkan semua aturan itu sendirian.
Tiap jam 8 malam, dramanya sering mengalahkan sinetron.
"Yah, 5 menit lagi ya YouTube-nya!"
"Yah, aku belum ngantuk, mau main block sebentar lagi!"
Mendengar dia menangis karena iPad-nya saya tarik, batin ini rasanya perang. Saya sempat mikir, "Apa saya terlalu keras ya sama anak sendiri?"
Tapi kemudian saya menemukan grafik dari Family Studies di bawah ini. Rasanya seperti ditampar, sekaligus dipeluk.
Di grafik itu ada satu temuan yang sangat valid, Stricter parenting is harder. Menetapkan aturan yang ketat itu memang bikin orang tua lebih pusing, capek, dan stress (lihat bar warna krem). Jauh lebih gampang ngasih anak HP supaya mereka diam.
TAPI, coba perhatikan bar warna biru dan abu-abunya.
Ternyata, aturan yang bikin kita capek itu—seperti menetapkan jam tidur yang ketat (strict bedtime) dan membatasi gadget (screen time limits)—justru meningkatkan kualitas hubungan orang tua dan anak secara drastis. Dan hebatnya lagi, ini bukan cuma klaim dari kacamata kita sebagai orang tua, tapi anak-anak juga merasakannya!
Pantas saja. Walaupun semalam dia menangis tersedu-sedu karena saya suruh berhenti nonton dan masuk kamar, pagi ini dia bangun dengan sangat segar.
Tiba-tiba dia lari, memeluk kaki saya dari belakang pas saya lagi menyeduh kopi di dapur, sambil menyengir lebar, "Ayah, ayo temenin adek main Lego!"
Tidak ada dendam. Yang ada hanya anak yang merasa aman, karena dia tahu kapan batasnya, kapan dia harus berhenti, dan kapan dia harus istirahat.
Ternyata anak-anak kita butuh ketegasan untuk merasa diperhatikan. Capeknya berdebat tiap malam dan menahan rasa "nggak tegaan" itu adalah investasi jangka panjang untuk kedekatan kita dengan mereka di masa depan.
Bismillah. Mari kuat-kuatkan mental jadi orang tua yang tega demi kebaikan mereka sendiri. 💪
Bagaimana dengan Bapak/Ibu di sini? Ada yang sering perang batin juga setiap menyuruh anak tidur atau menarik gadget dari tangan mereka? Apa trik kalian supaya tetap waras menghadapi fasenya?
RULES HIDUP DI DUNIA KERJA
1. jangan pernah jadi pahlawan.
2. datang tepat waktu, pulang wajar.
3. jangan terlalu jujur di tempat kerja.
4. kantor itu kerja bukan keluarga.
5. email, chat, dan omongan itu bukti.
6. jangan pamer dan jangan mengeluh.
7. upgrade skillmu biar susah diganti.
8. atasan gak selalu benar, tapi penentu.
9. kerja secukupnya, hidup sepenuhnya.
Guru saya pernah bilang...
"Saat kamu di luar jam kerjamu, tinggalkan posisimu, jabatanmu, dan gajimu.”
Dulu aku cuma manggut-manggut. Tapi makin kesini, aku ngerti maksudnya.
Di luar kerja, orang gak butuh tau kamu manager, supervisor, atau punya gaji dua digit.
Bergaullah tanpa seragam. Bersikaplah tanpa pangkat.
Justru di situ kerendahan hati diuji.
Kadang yang bikin orang nyaman bukan ilmu kita, tapi rendahnya nada bicara. Tidak menggurui, tidak pula meninggi.