Kenapa pas SMA dulu belajar akuntansi gak menarik, tapi sekarang belajar otodidak aja menarik?
Karena dulu gak dapet konteksnya belajar akuntansi buat apa, jadi kerasa abstrak. Nilainya cuma angka di rapor, sekarang hal2 abstrak tadi jadi lebih punya konteks.
@levelsio As a gym bro, here's my personal observation: a healthy diet, consistent training, and a good amount of sleep make me stronger and happier. I even become more confident in expressing myself and more optimistic about the future.
Bismillah, ini Ririe istrinya Ibam, baru recover akun ini 🙏🏼
Terimakasih doa & support untuk Ibam sekeluarga yang sedang berjuang melewati masalah hukum saat ini..
Berikut cuplikan video cerita Ibam, perkenankan juga aku sebagai istri cerita soal yang keluarga kami alami..
📝
Aku mengenal Ibam sejak 2010 ketika dia sedang kuliah beasiswa di Eropa. Setahun kemudian kami menikah dan nekat memulai hidup baru dari nol di Belanda.
Di awal pernikahan kami, Ibam bekerja sebagai software engineer di perusahaan AI logistik di Rotterdam, sementara aku lanjut kuliah S2 di Tilburg pada tahun 2013.
Jujur, kami memulai pernikahan dengan penuh keterbatasan. Akad nikah dan resepsi kami juga sederhana di rumah supaya bisa berhemat.
Sesampainya di Belanda, we had to build everything on our own karena keluarga kami bukan yang bisa "menyuntik" dana kapanpun kalau kami ada kekurangan.
Ketika aku mulai kuliah, kami pindah ke kota kecil, Dordrecht. Di sana kami berbagi satu rumah kecil mungil dengan keluarga lain. Semua demi berhemat uang untuk bayar kuliahku.
Tapi alhamdulillah, atas izin Allah, di tengah keterbatasan itu, aku lulus S2 dan kami dikaruniai kehamilan anak pertama.
Dari masa-masa sulit itu, aku mengenal satu hal pasti tentang suamiku: Ibam adalah pekerja keras dengan integritas tinggi. Dia sangat detail, perfeksionis, dan selalu berjalan lurus sesuai aturan. Ngga pernah neko-neko.
Tahun 2016, kami berada di persimpangan jalan. Sahabatnya mengajak Ibam pulang ke Indonesia untuk membantu Bukalapak. Berat sekali rasanya meninggalkan Belanda yang sudah nyaman. Tapi setelah diskusi panjang dengan keluarga, kami memutuskan untuk pulang.
Di Indonesia, Ibam mencurahkan seluruh tenaganya untuk membangun tim engineering di sana. Dia selalu semangat kalau cerita soal ketemu pelapak dan gimana mereka terbantu pakai aplikasi yang timnya bangun.
But, as his wife, aku juga melihat ada harga yang harus dibayar: kesehatannya.
Ibam memang punya riwayat jantung bawaan dari Ibu dan Kakeknya. Jantungnya selalu berkerja ekstra keras, detaknya selalu di atas 105 bpm walau sedang istirahat. Yang tadinya di Belanda ngga pernah sakit-sakitan, sejak balik ke Indonesia setiap tahun selalu saja ada penyakit berat yang datang dan perlu macam-macam operasi dan rawat inap.
Puncaknya di tahun 2023, tubuhnya seakan kasih sinyal mau kolaps. Siang hari ketika sedang kerja, Ibam tiba-tiba muntah-muntah dan oleng tidak bisa jalan. Kami segera bawa Ibam ke UGD. Alhamdulillah, kondisinya bisa distabilkan.
Beberapa bulan kemudian setelah di MRI, ternyata Ibam kena stroke ringan yang merusak saraf vestibularnya. Sejak itu aktivitasnya mulai terhambat. Belum lagi, setahun sebelumnya dia juga didiagnosa diabetes, yang juga turunan dari keluarganya.
Jujur, aku tidak paham apakah semua penyakit ini saling berkaitan atau tidak, karena aku bukan dokter. Yang jelas, as someone closest to him, I can see that Ibam has not been physically well for the past few years.
Mundur sedikit ke Desember 2019. Waktu itu Ibam dapat tawaran dari Facebook di Inggris. Setelah bolak-balik wawancara ke London, he got the offer. I still remember how happy he was when he told me about it.
Sebagai istri yang waktu itu sedang hamil anak kedua, aku sudah membayangkan akan melahirkan dan membesarkan anak-anak kami di sana.
Tapi di saat bersamaan, Ibam dihubungi tim yang sedang bantu-bantu Kemendikbud. Mereka punya visi besar soal aplikasi untuk pendidikan Indonesia. Ibam galau. Tapi setelah ngobrol dengan mereka, dia cerita ke aku:
"Kalau Facebook, 5-10 tahun lagi insya Allah masih ada. Tapi kesempatan bantu pemerintah dan pendidikan lewat teknologi kayak gini, langka banget rasanya. Ilmuku bangun aplikasi insya Allah bisa lebih bermanfaat buat banyak orang dengan kita tetap di Indo dan bikin aplikasi buat pendidikan Indonesia."
Dan yang bikin kami lebih yakin, tim itu bilang semua biaya konsultan ditanggung sebuah yayasan dan ngga akan membebani negara sama sekali.
Dengan bismillah dan istikharah, kami menolak London. Meski penghasilan jadi turun, kami yakin rezeki sudah diatur Allah. We said goodbye to London.
Tahun berganti. Ibam bekerja sebagai konsultan eksternal kementerian sejak Januari 2020. Setelah kondisi kesehatannya makin nurun pasca stroke ringan, Ibam curhat ke aku kalau dia ingin resign. Dia ingin bangun startup sendiri sama temannya supaya bisa kerja sambil bedrest dari rumah.
Di Juli 2024, setelah nabung dan kumpulin modal, mimpi sederhana itu akhirnya dimulai. Dia resign dan bikin startup AI yang support kesehatan mental.
Tapi mimpi itu ngga bertahan lama. Tanggal 23 Mei 2025, hidup kami berubah drastis.
Hari itu, ngga ada angin ngga ada hujan, rumah kami digeledah oleh APH (Aparat Penegak Hukum). Seumur hidup, belum pernah aku gemetar ketakutan seperti itu. Melihat petugas berseragam loreng hijau dan tim penyidik ada didalam rumah kami dengan jumlah yang ngga sedikit. Dengkul rasanya mau copot.
Apa yang mereka tuduhkan terhadap Ibam? Tindak Pidana Korupsi yang merugikan negara.
Rasanya seperti disambar petir. Ini kaya mimpi! Mustahil Ibam korupsi. Aku istri yang selalu bisa akses semua rekeningnya. Tidak pernah ada "uang kaget" atau dana ghaib masuk. Semua murni dari gajinya.
Rasanya saat itu juga aku ingin langsung menyodorkan mutasi rekening kami ke para penyidik dan bilang, "Silakan cek, Pak!" Tidak ada yang kami tutupi.
Lagipula, kalaupun Ibam dituduh merugikan negara, di bagian mana dia punya wewenang untuk ambil keputusan? Ibam selalu serahkan keputusan ke kementerian, he never had any authority to decide.
Juli 2025, mimpi buruk itu menjadi nyata. Ibam ditetapkan sebagai tersangka. Aku menangis sejadi-jadinya, membayangkan nasib anak-anak kami.
Coba bayangkan. Ibam itu posisinya cuma konsultan eksternal. Bukan pejabat, bukan PNS, apalagi pengambil keputusan. Tapi anehnya, dia malah dituduh "mengarahkan pengadaan" oleh para pejabat.
Padahal dari awal Ibam kasih masukan tertulis untuk Windows juga, bukan cuma Chromebook. Dan sudah wanti-wanti kalau mereka mau pakai Chromebook ada risiko yang mereka perlu pastiin dulu.
Tapi wanti-wantinya ngga didengar. Pejabat tetap jalan dengan keputusan mereka sendiri. Dan ketika jadi perkara, malah Ibam yang disalahin.
Logikanya, kalau ada niat jahat untuk mengarahkan, kenapa mesti wanti-wanti soal risikonya? Ibam sudah berbuat layaknya seorang konsultan, kasih masukan objektif lalu serahkan keputusan ke pejabat.
Yang lebih bikin nyesek, namanya dicatut di dalam SK dan kajian yang Ibam sendiri nggak pernah lihat wujudnya sampai kasus ini meledak. Di kajian itu ada kolom tanda tangan banyak orang dan kolom Ibam jelas-jelas kosong, tapi dia tetap dituduh yang nyusun kajiannya.
Sekarang, Ibam jadi tahanan kota karena kondisi jantungnya yang rentan. Kami kehilangan segalanya. Ibam kehilangan pekerjaan, startup-nya berhenti dan harus layoff semua karyawan, dan keluarga kami kehilangan sumber nafkah. Tabungan kami sekarang hampir habis.
Aku yang hanya ibu rumah tangga sekarang harus berdiri tegak mencari keadilan, termasuk mencari kuasa hukum yang sebisa mungkin pro bono karena kami ngga sanggup bayar pengacara Tipikor yang biayanya selangit.
However, I truly believe there will always be a silver lining in everything, and Allah’s plan is always the best. Mungkin ini cara Allah mau menaikkan derajat Ibam di sisi-Nya. Di balik status tersangka ini, aku tahu integritas suamiku tak pernah berubah sejak kami susah payah di Belanda dulu.
Aku memohon doa dan dukungan dari teman-teman semua untuk membagikan dan menyuarakan ketidakadilan ini.
Semoga Ibam diberikan kebebasan dan keadilan. Semoga kami dan anak-anak bisa kembali hidup normal, dan badai ini segera berlalu. Allahumma aamiin.
If you always put limit on everything you do, physical or anything else. It will spread into your work and into your life. There are no limits. There are only plateaus, and you must not stay there, you must go beyond them."
In quarter-life-crisis finding the meaning of life.
The information overload with AI is real. Everyone shares a copy of meeting notes after the calls, because everyone has an "AI assistant" making notes of the meeting. Even though everyone uses the same tool, everyone's notes are slightly different from each other.
Some people even add their own self-written notes + the AI note taking apps notes, and cook them together in yet another LLM and produce elaborate bullet points.
The meetings notes are mostly too verbose, because AI doesn't know how to write short, crisp bullets, which need not be grammatically correct. In way, AI knows how to "summarise", but not how to "take notes". Since all these notes are too verbose, people don't really read them, they ask yet another AI to further "summarise". In this whole journey, some actual key information gets lost. People are a lot less focussed in the meeting too now, given that they know their "AI assistant" is making notes anyway. They are half distracted, doing some other work parallelly during the meeting.
From roadmaps to technical docs to RFCs to performance reviews - AI has made it so much easier to ̶w̶r̶i̶t̶e̶ generate them, that there are just way more of them now. Instead of just writing up a POC - people throw a 6-pager RFC or tech-spec at you first. All the conventional wisdom says "great engineers write great architecture docs" and "great managers write great vision docs" - so now that ̶w̶r̶i̶t̶i̶n̶g̶ generating them is easier, everyone's writing tons of them. All career-guidance and professional how-to books advice you to "write more" to progress further in your career, because in the older world (Amazon meeting agenda 1-pagers, Stripe press releases), writing more would actually train you more to write more concise and succinct documents, and develop the muscle to coalesce opinions via the written word. Simply generating more docs via LLMs do not actually make you better at that. On the contrary, now that you generate more noise with too many documents, no one knows which ones are more important, and unable to keep up, start ignoring your ̶w̶r̶i̶t̶i̶n̶g̶s̶ generations.
The wiki has a "summarise with AI" button, the Zoom call has a "summarise with AI" button. The Google Doc has a "rewrite with AI" button. Everyone who is a "human in the chain" is turning out to be a glorified network packet switcher between different LLM models. Generate text, send to someone, who summarises it using another LLM, without reading it much (either the original, or the summary), and forwards it, to someone, who rewrites it again using AI and turns it into a presentation, which then is used in a meeting, which gets summarised using AI, and saved in the wiki.
There are more meetings now, because more people have the ability to write 'meeting agendas'. There are more 'stakeholders' now, because anyone can write a cursory 'remark' on your documents using the AI tool. There are bigger committees to review performance now, because all packets have started to look and read more or less the same, and harder to calibrate.
The internal AI tooling team's KPIs have been through the roof. They just got fresh budget to hire PhDs and purchase a GPU cluster to fine-tune yet another model only on "internal data", which increasingly is itself not human-generated content anymore.
Welcome to the post-genAI world. And ofcourse, you can use Grok3 to tl;dr-ify this post if it is too long to read (I am sure it is).
A couple reflections on the quantum computing breakthrough we just announced...
Most of us grew up learning there are three main types of matter that matter: solid, liquid, and gas. Today, that changed.
After a nearly 20 year pursuit, we’ve created an entirely new state of matter, unlocked by a new class of materials, topoconductors, that enable a fundamental leap in computing.
It powers Majorana 1, the first quantum processing unit built on a topological core.
We believe this breakthrough will allow us to create a truly meaningful quantum computer not in decades, as some have predicted, but in years.
The qubits created with topoconductors are faster, more reliable, and smaller.
They are 1/100th of a millimeter, meaning we now have a clear path to a million-qubit processor.
Imagine a chip that can fit in the palm of your hand yet is capable of solving problems that even all the computers on Earth today combined could not!
Sometimes researchers have to work on things for decades to make progress possible.
It takes patience and persistence to have big impact in the world.
And I am glad we get the opportunity to do just that at Microsoft.
This is our focus: When productivity rises, economies grow faster, benefiting every sector and every corner of the globe.
It’s not about hyping tech; it’s about building technology that truly serves the world.
The poor get free gov money
The rich legally avoid taxes
The middle class get absolutely rekt anywhere in the world: they work the hardest, pay the most % in tax, and receive no free money