Dibutuhkan anak, tapi sulit, bahkan sangat sulit diterima orang tua:
Anak itu individu yang punya jalan hidupnya sendiri.
Seringkali orang tua mindahin keinginan yang dulu enggak tercapai, kekecewaannya, ketakutannya, luka batinnya ke anak.
• Ayah Ganjar Pranowo polisi pangkat rendah, ikut menumpas pemerontakan PRRI.
• Kakek Anies Baswedan ikut memperjuangkan kemerdekaan RI dengan paguyuban Arabnya.
• Yang satu lagi? Ayahnya jadi sponsor pemberontakan PRRI dan nenek moyangnya ikut menangkap Pangeran Diponegoro.
Jadi, siapa yang sebenarnya Londo Ireng?
"Biarlah nanti dibalas di akhirat."
Stop normalisasi kalimat2 kaya gitu.
Kalau kita kebiasaan ngeliat ketidakadilan duniawi dengan frasa "biar Tuhan yang balas", kita sedang memberi panggung buat koruptor berikutnya.
Keadilan akhirat itu porsi Tuhan (bagi yg percaya dan penganut agama)
Tugas kita sebagai warga negara adalah memastikan koruptor dimiskinkan, dihukum berat, dan dihakimi di sini.
Sekarang juga.
@LambeSahamjja Sekolah people
Embege
Kopdes red white
Internet people
Universitas repvblik konoha
Polamu sudah kelihatan. Berjuang demi kepentinganmu sendiri. ogah memperbaiki negeri. Uang mengalir di sirkelmu. Diisi oleh orang2mu sendiri/tentara yg cuma yesman
kerja itu terasa kejam cm karena 3:
1. lu apply trs, tapi ga dpt kerjaan
2. lu dpt kerjaan, tapi bos/lead/env lu toxic
3. lu dpt kerjaan, tapi kompensasinya ga sesuai.
udah 3 ini aja, kalo udh di fase ga ngerasain 3 ini? kerja jd ga kejam, justru lebih enak kerja drpd kuliah.
Mentor yang bijak itu membangun kapasitas orang lain, bukan pamer superioritas diri. Niat baik tanpa empati dan kecerdasan emosional sama aja kayak intimidasi yang dibungkus motivasi.
Prinsip yang mau diajarkan mentornya gak salah. Dia ngajarin si anak magang kudu punya tanggungjawab, oritentasi solusi, cepat bereaksi kalo ada kendala, dan proaktif komunikasi sebelum ditanya. Itu bakal jadi modal bagus banget buat berkarir di korporasi manapun.
Tapi caranya terlalu barbar sampe menjurus ke toxic leadersip, karena:
1) Power trip berlebihan, pake instrumen formal kayak SP cuma untuk hal sepele di luar pekerjaan utama. Gak mendidik.
2) Gak menghargai batasan waktu pribadi. Menuntut respons cepat di weekend cuma demi urusan nonton film.
3) Performative Culture, obrolan internal di upload ke medsos demi validasi publik justru ngerusak esensi hubungan mentor-mentee, yaitu "rasa aman".
Outputnya bisa aja si anak magang ntar jadi profesional yang handal, taktis dan adaptif. Tapi ada juga risiko dia malah jadi anxiety, etikanya menyimpang dari kesan yang dia tangkap "hasil akhir lebih penting dari proses dan etika."
Humble suggestion buat FG dan early-starter: kerja di tempat prestigious dulu.
Mending magang di big eCommerce tapi plonga-plongo gak dikasih kerjaan tambahan (misal). Waktu luang lu? Explore AI sendiri aja xixixi. Tapi orang tau lu ex-Big Company. 😚