Micin salah apa sih sama kalian ampe dimusuhin? Gosip micin = gabagus ni uda lama banget, kalian kemakan brainwash orang amrik yg "takut" resto mereka sepi karena chinese food dimana2 enak dan lebih terjangkau.
Belajar bahasa itu seru. Belajar sejarah linguistik tak kalah serunya. Belajar untuk sekadar tahu, tidak untuk menjadi ahli ya.
Kita bisa dapat sekelebat tentang sebuah budaya dari bahasa yang digunakan. And somehow, it's rewarding.
Warung Madura deket rumah Gusmin bisa buka 24 jam tanpa pelatihan militer.
Paling cak-nya nempel koyo sama agak beraroma minyak kayu putih kalo malem-malem.
Buat yang berkeluarga, Sweden ๐ธ๐ช ini emang the best. Gue udah berapa kali ngobrol orang Sweden, dan mereka ngebanggain pajak yang mereka bayarkan, akan balik karena akan dirasakan langsung sama masyarakatnya.
Gue sebagai WNI could neveeerrrr ๐ญ๐ญ
Tahukah kamu, bahwa kalau kamu nggak suka americano, itu nggak apa-apa?
Kalau kamu belum pernah nyoba donat dari kios masa kini, itu pun ngak apa-apa.
Kalau kamu ngerasa salt bread rasanya aneh, itu juga nggak apa-apa.
Kalau kamu belum pernah denger lagu dari artis edgy yg temen2 kamu omongin, juga ga apa-apa.
Di antara banyaknya hal penting dalam hidup, banyak juga hal di dunia ini yg enaknya dibawa selow ajalah. Nggak juga gapapa..
Ini bukti anak yang tumbuh dengan privilege bisa konsen belajar, fokus mengembangkan diri dan bebas mengadvokasi kepentingan rakyat. Di kosan gak mikir, ntar malem indomie goreng telur ceplok atau sarimi ayam bawang. Tinggal go food.
Kalau benar Fatimah di FK ambil program KKI, berarti dari keluarga mapan.
Fyi, Admission Fee di KKI FK UI antara Rp60.000.000 hingga Rp70.000.000. Tuition Fee Rp50.000.000 per semester.
Sebuah inspirasi melahirkan generasi mapan dan kritis, tidak terjebak di zona nyaman.
Buat yang belum tau, sistem drainase bawah tanah terbesar dunia ada di bawah kota Tokyo.
Auto aktif ketika hujan deras. Mereka bisa pompa 200 ton air per detik dengan 78 pompa di kedalaman 50 meter mengalir di terowongan sepanjang 6.3 km di bawah tanah Tokyo.
Dibangun pada tahun 1992 - 2006 dengan memakan biaya sekitar $2.6 Milliar atau sekitar 46 Trilliun Rupiah.
Efeknya? Kerusakan banjir turun drastis dan World Bank Group perkirakan akan menghilangkan kerugian banjir sekitar $52 milliar per tahun di tahun 2050.
Ini bukti serius lawan banjir itu investasi jangka panjang.
Kapan Indonesia bisa punya sistem banjir seperti ini?
perbedaan mendasar zen rs dan malaka project (ferry, cania, dll) dalam melihat tan malaka : kang zen melihat kalo madilog itu digunakan tan sebagai cara berfikir revolusioner. sementara anak2 malaka project melihat madilog itu pelajaran logika aja, untuk melawan logika mistika.
Nikita Willy bikin para ibu relate ๐คญ
Jadi, putra sulungnya Niki kan masuk toko mainan. Niki awalnya bilang, "Lihat aja ya."
Saat Issa Xander mulai pegang action figure, Niki segera bilang, "Udah, udah. Besok-besok lagi kan hari ini enggak mau beli apa-apa."
Niki lanjut bilang, "Nih, Issa ingat-ingat aja dulu berdoa. Suatu saat pasti Isa ketemu lagi. Udah enggak boleh dipegang nanti kita dimarahin. Bye. Bye. Suatu saat
kita akan punya ya."
Pas bangun rumah, kami sengaja menyisihkan ruang untuk sebuah inner court. Selain membantu sirkulasi udara dan cahaya alami masuk ke dalam rumah, area ini juga jadi salah satu spot favorit buat main bareng anak.
Memang sering ada yang bilang, โSayang ya, space segitu bisa jadi kamar.โ Tapi buat kami, ruang terbuka ini justru memberi nilai yang lebih besar. Rumah terasa lebih lega, lebih sehat, dan punya suasana yang menenangkan untuk ditinggali setiap hari. ๐๐ก
ah, betul. selain doain buat penulis, bung hatta punya kedisiplinan lain. yakni mencuci tangan sebelum menyentuh lembaran kertas.
bung hatta betul2 menyiapkan diri dalam membaca. mengusahakan โbersihโ lahir batin.
rutinitas paginya di pengasingan, di banda neira konon begini: salat subuh, bertanam sayur, merawat ayam, olahraga, mandi, lalu baca dan nulis sampai jam 12 siang.
Kenapa NU, sih?
Akun fenomenal @TheKerupuk merespon sebuah tweet, baru saya baca tadi pagi. Sebuah kehormatan bagi saya karena di-tag akun misuwur ini.
Saya kira masalahnya apa, ternyata geger Munas NU kemarin di Ploso.
Sejauh yang saya tahu, NU (sebagai lembaga yang dinakhodai PBNU) memang lembaga yang sering diobok-obok. Muktamar di Cipasung adalah salah satu linimasa itu, dimana negara 'ikut serta' dalam mengobok-obok NU.
Bagaimana dengan sekarang?
Seperti yang kita tahu, Gus Yahya menjabat sebagai ketua umum PBNU (sampai sekarang). Sementara adiknya, Gus Yaqut, pernah menjabat sebagai Menag RI. Agak unik, memang; adiknya jadi Menteri, abangnya Ketum PBNU.
Suatu ketika Gus Yahya pernah mau dilengserkan dari jabatan Ketum PBNU, dan gaduh ini sempat ramai beberapa bulan hingga ada usulan untuk menyelenggarakan Muktamar NU bulan Agustus 2026 (setelah musim haji).
Bahwa Gus Yahya punya beberapa hal yang problematik, itu saya setuju. Soal tambang dan MBG, saya pun berseberangan dengan Gus Yahya.
Tidak hanya saya, bahkan Ketua PBNU seperti Mas @savicali juga banyak gak cocoknya. Apalagi soal MBG, ya.
Namanya juga organisasi terbesar Islam di dunia yang berisi banyak kepala, maka dinamika seperti ini lazim saja bagi saya.
Tapi jika dimakzulkan secara inkonstitusional, jelas ini perkara lain yang tidak bisa dianggap sepele. Sebagai Nahdliyin, saya menentang pemakzulan inkonstitusional itu.
Sebelum itu, ketika geger pemakzulan Ketum PBNU sedang memanas, saya mendengar selentingan dari petinggi PBNU, bahwa Gus Yahya pernah 'disandera' seperti ini:
"Sampean turun saja dari jabatan Ketum PBNU, nanti adik Sampean aman."
Apa yang terjadi pada Gus Yaqut, adik Gus Yahya, waktu itu?
Januari 2026 Gus Yaqut dijadikan tersangka oleh KPK gara-gara kasus kuota tambahan haji tahun 2024. Sekarang sudah ditahan KPK, dan dua kali diinvestigasi KPK (anehnya, tidak ada pertanyaan soal aliran dana korupsi).
Alkisah, Indonesia waktu itu dapat kuota tambahan haji sebanyak 20.000 kursi atas lobi Pak Jokowi. Pangeran Saudi akhirnya memenuhi janji itu, dan kesepakatan akhirnya ditandatangani.
Menurut KPK, seharusnya kursi itu dibagi sesuai rasio 92:8 (92% untuk haji reguler dan 8% untuk haji khusus). Tapi Gus Yaqut malah mengubahnya menjadi 50% untuk haji reguler, dan 50% untuk haji khusus.
KPK menduga perubahan kuota tambahan yang dilakukan Gus Yaqut, dari 92:8 menjadi 50:50 itu, telah merugikan negara dan menjadi ladang korupsi di Kemenag.
Awalnya, KPK menaksir kerugian negara mencapai Rp1 triliun. Kemudian diubah kerugiannya menjadi Rp611 miliar.
Permasalahannya, uang haji itu bukan duit APBN. Lebih tepatnya 'uang iuran' yang dikumpulkan dari calon jamaah haji.
Jadi, menyebut ini uang negara, alih-alih negara rugi, sebenarnya salah kamar.
Namun, taruhlah ada kerugian negara, maka satu-satunya lembaga yang berwenang menentukan rugi-tidaknya hanyalah BPK.
Saya sudah membaca laporan BPK yang diunggah di situs resminya, ternyata penyelenggaraan haji tahun 2023-2024 justru dinilai BPK memiliki efisiensi sebesar Rp601 miliar.
Dalam praperadilan, KPK mengklaim sudah mengantongi laporan investigasi dari BPK bahwa ada kerugian negara dalam kasus dugaan korupsi kuota haji tambahan tahun 2023-2024.
Tapi uniknya, laporan investigasi itu baru diserahkan KPK tanggal 4 Maret 2026, persis di tengah praperadilan. Ini artinya, saat Gus Yaqut ditetapkan KPK sebagai terangka, angka 'kerugian negara' itu memang belum ada.
Kan, lucu, men-tersangka-kan orang 'telah merugikan uang negara', tapi laporannya baru ada tiga bulan setelah penetapan.
Soal penyelenggaraan haji yang hampir pasti ada yang korup di sana, maka sudah maklum. Namanya juga aliran uang yang besar, sudah pasti tikus-tikusnya ada. Saya pun menunggu siapa saya tikus-tikus itu di pengadilan.
Namun apakah Gus Yaqut korupsi?
Saat rumahnya di geledah, KPK tidak menemukan bukti aliran dana korupsi ke Gus Yaqut. Bahkan soal suap ke Pansus Haji, justru pemberi uang itu mengaku bahwa Gus Yaqut tidak tahu-menahu soal uang itu.
Jadi, ceritanya ada utusan Pansus Haji minta uang $1 juta kepada staf-nya Gus Yaqut, dan harus tersedia dalam tiga hari. Gus Yaqut waktu itu sedang di Eropa, atas perintah Pak Jokowi.
Uang itu akhirnya terkumpul dan diberikan di Kalibata, tanpa sepengetahuan Gus Yaqut. Sepulangnya ke Indonesia, Gus Yaqut diberi tahu bahwa ada penyerahan uang, namun perintah pertamanya: menarik kembali uang itu!
Uang itupun akhirnya dikembalikan. Tapi apa kata KPK?
"Gus Yaqut berusaha menyuap Pansus Haji, tapi alhamdulillah tidak jadi. Bagus Pansus ini."
Hhe~
Soal kuota 50:50, ada pasal yang jarang diulas. Di sini, jelas bahwa kuota tambahan itu berbeda dengan kuota haji.
Untuk kuota haji, memang wajib memakai rasio 92:8. Tapi untuk kuota tambahan, menurut pakar hukum (salah satunya Pak Mahfud MD), diskresinya ada di tangan Menag.
Titik mulanya Gus Yaqut dijadikan tersangka ada di aturan ini, dan akhirnya melebar kemana-mana.
Saya juga tidak menaruh curiga pada KPK. Namun, jika saya membaca rilis KPK, BAP, pengakuan pelaku, dan investigasi Tempo bulan April 2026, kenapa banyak kontradiksi?
Di antara kontradiksi itu saya jelaskan di awal tadi.
Bahkan saya menduga, Gus Yahya (ketum PBNU) akan terus 'disandera' dengan menggantung nasib adiknya hingga Muktamar selesai.
Tapi ini hanya dugaan saya saja, sih.
Ada satu masa saya menjalani ritual memutar video Yt ngaji filsafat pak Faiz menjelang tidur. Ada yang sama?
Saya mungkin kurang peduli dengan apa materinya, yang jelas suara empuknya membuat saya seperti didongengi oleh seseorang yang sangat dekat, dg sepenuh rasa sayang.
Ya benar, di tangan pak Faiz, filsafat menjelma dongeng pengantar tidur yang pas.
Hingga setengah sadar saya bisa membayangkan Nietzsche berbagi anggur dengan Rumi, atau Hypatia bermain pedang dengan Tsun Zu, atau Sostrokartono berjualan teh botol, atau terserahlah.
Mendengarnya, filsafat jadi tidak terasa berat. Mungkin karena ya saya mendengar dongeng, bukan berfilsafat. Lagipula, buat apa menjelang tidur harus berfilsafat di tengah hidup yang berat?
Maka, mendengar suara pak Faiz seperti seperti mengajak berjalan menyusuri lorong2 gelap pikiran saya. Mengajak saya mencebur telaga setelah jiwa saya berdebu seharian. Lalu menemani kembali memasuki goa ketidaksadaran. Dan esoknya, saya bangun sudah dalam kondisi segar kembali.
Kini, sesekali saya mendengarkannya lagi, terutama di malam2 paling membuat saya tertekan, atau sangat gelisah susah tidur. Biasalah, kegelisahan khas WNI.
Bedanya, kali ini tak mesti berhasil membuat saya tidur lelap seperti dulu. Mungkin saya butuh bukan sekedar dongeng yang menenangkan.
Mungkin saja saya disuruh benar2 bertapa ke goa, laiknya Nabi dulu di goa Hira. Atau, mungkin ke alam bebas, melihat langit luas dengan hamparan peta angkasa.
Ya mungkin saja. Atau mungkin ketemu pak Faiz saja, sowan ke rumahnya, lalu menyeruput kopinya.
Ada yang mau kesana juga?