Neoliberalisme.
Kmrn abis bahas di kelas.
Garrett Hardin (1968) blg, The Tragedy of the Commons itu hasil dari Neoliberalisasi. Rebutan sumber daya, untungnya pribadi tapi biayanya ditanggung bersama.
Solusi Hardin? Privatisasi yg dibarengin kebijakan pemerintah yg ketat. 1/.
Agus Salim Memata-matai Hubungan Tjokroaminoto dengan Jerman
Agus Salim muda adalah orang yang berbakat dan cerdas (lulusan terbaik HBS di Hindia Belanda). Ia pernah bekerja di Konsulat Belanda di Jeddah. Dengan track record seperti itu, komisaris polisi Hindia Belanda merekrut Salim untuk menyusup ke Sarekat Islam dan memata-matai rapat-rapatnya. Khususnya hubungan Tjokroaminoto dengan Jerman.
Bahkan ia mengaku sendiri ditugasi seperti itu, dalam tulisannya di majalah Het Licht tahun 1927 ia menulis:
"Bantuan saya yang diminta adalah penyelidikan yang berhubung tersiarnya desas-desus bahwa Tjokroaminoto menjual SI kepada Jerman seharga 150.000 gulden. Dengan dana itu Tjkroaminoto akan melancarkan pemberontakan besar di tanah Jawa, sedang senjata dan perlengkapan lain disediakan oleh Jerman,”
Namun tuduhan itu tidak terbukti dan tidak berdasar. Akhirnya Salim berbalik mendukung Sarekat Islam sepenuhnya. Menjadi tangan kanan Tjokroaminoto, memimpin sayap modernis Pan-Islam, dan tentunya mendepak faksi Sarekat Islam Merah selamanya.
Nadiem dituduh kongkalikong dengan Google dalam pengadaan Chromebook
PADAHAL:
Google bukan penjual laptopnya.
Chromebook dibeli dari vendor lokal, sementara Google hanya menyediakan ChromeOS, seperti Microsoft menyediakan Windows.
Bahkan ChromeOS tidak memerlukan biaya lisensi tambahan seperti Windows, sehingga narasi bahwa kebijakan ini dibuat “bagi-bagi keuntungan” jelas tidak masuk akal
Tau gak? Waktu guru-guru panik karena Draf RUU Sisdiknas 2022 menghilangkan pasal-pasal tunjangan profesi guru, dan dikejar-kejar 78 aplikasi, Maudy ada di Bali jadi jubir Education Working Group G-20, haha hihi merayakan digitalisasi pendidikan.
Sudah menjadi nostalgia bagi saya, penderitaan guru disapu oleh influencer papan atas.
1/
Kasus Chromebook bukan sekadar perkara laptop.
Ini adalah cerita tentang bagaimana pendidikan nasional bisa diseret oleh arogansi kekuasaan, konflik kepentingan, tata kelola yang rusak, dan kultus teknologi.
Saya menyaksikan sebagian proses itu dari dekat.
Analoginya sederhana, Nadiem diibaratkan pasien, sedangkan Jamdatun sebagai dokternya.
Pasien BERKONSULTASI kepada dokter mengenai menu makanan yang harus dikonsumsi, dokter tau bahwa menurut rekam medis pasien tersebut memiliki GEJALA diabetes.
Berdasarkan pertimbangan tersebut maka dokter MENYARANKAN agar pasien tidak lagi mengkonsumsi gula tebu, namun menggantinya dengan gula dari daun stevia.
Pasien yang merasa bahwa dirinya sehat tidak mengindahkan sara dari dokter, dia tetap mengkonsumsi gula tebu.
Setahun berlalu, pasien mulai merasa ada perubahan drastis pada tubuhnya. Dia mengalami disfungsi ereksi dan muncul bercak hitam di area lipatan tubuh (seperti leher atau ketiak), yang menjadi tanda resistensi insulin.
Perubahan tersebut diketahui oleh istri si pasien, dia memaksa agar suaminya pergi ke RS untuk memeriksakan kesehatan, hasil medical check up menunjukkan bahwa kadar gula darah pasien meningkat dan melebihi ambang batas sehingga menyebabkan rusaknya pankreas.
Dokter menyarankan agar pasien menjalani perawatan, namun pasien menolak dan justru balik menyalahkan dokter. Alasannya dia sudah pernah berkonsultasi dengan dokter... Kan aneh banget ini pasien.. 🙈
Begitulah kira-kira yg terjadi dengan Nadiem, dimana dia memang pernah BERKONSULTASI dengan Jamdatun untuk meminta saran terkait rencana kebijakan pembelian laptop.
Karena Jamdatun mengetahui bahwa perusahaan Gojek milik Nadiem pernah disuntik investasi oleh Google pada tahun 2017, ketika itu Nadiem belum dilantik menjadi menteri.
Berdasarkan fakta tersebut, guna mencegah terjadinya konflik kepentingan dalam program pengadaan laptop, Jamdatun membuat garis merah dengan menyarankan pembelian laptop berbasis windows.
Mendapatkan saran tersebut, Nadiem malah ngeyel dam kekueh membeli laptop chromebook, akhirnya kini terlibat kasus hukum dan Nadiem dianggap t telah memperkaya korporasi. Nadiem gak terima lalu mencoba meraih simpati masyarakat dengan menyebarkan isu bahwa dibalik kebijakan yang diambilnya selalu berkonsultasi dengan Jamdatun, namun tidak menjelaskan bahwa dalam pengambilan keputusan dirinya sama sekali tak mau mengikuti saran dari Jamdatun.
Ya, konsultasi yang dilakukan oleh Nadiem cuma formalitas belaka, guna melegitimasi keputusan yang telah ditetapkan jauh sebelum dia menjabat sebagai menteri.
Begitulah modus yang coba disembunyikan oleh Nadiem dari perhatian publik.
[Program Kerja Prioritas Nasional: Apa yang (Memang) Prioritas?]
Berbeda dengan tahun lalu, tahun ini ada daftar prioritas Pemerintah yang jauh lebih jelas. Terdapat 60 program dalam 8 klaster, di tambah 4 program fondasional yang akan diprioritaskan Pemerintah di tahun 2027.
Trump has made China great again.
The question of the economics of China's success is back.
The key is China's mastery of managing change. For How China Escaped Shock Therapy I interviewed key intellectuals & officials who shaped China's approach to economic system reform.