Kasus kaya gini masih ada aja lho, padahal masih di pulau Jawa yang gak jauh dari kota
Awalnya berobat keluhannya badan gatal, tapi kok keliatan banget gizi kurang, padahal udah usia 13 tahun BB cuma 24 kg, TB 127 cm. Hasil antropometrinya jelas stunting + gizi kurang.
Pas ditengok di belakang leher lha ketemu gambaran multiple limfadenopati retroauricular begini, fix kudu di mantoux dulu sebelum ngobatin gatelnya
Boleh. Salah satu hal yang sering tidak disadari orang tua adalah bahwa banyak anak tidak takut pada matematika, tetapi justru takut pada pengalaman belajar matematika yang mereka alami.
Beberapa cara sederhana yang bisa dilakukan:
1. Kurangi pertanyaan "berapa hasilnya?"
Dan lebih sering tanyakan:
- "Kamu dapat jawaban itu dari mana?"
- "Menurutmu kenapa begitu?"
- "Ada cara lain nggak?"
Tujuannya agar anak melihat matematika sebagai proses berpikir, bukan lomba cepat menjawab.
2. Biasakan membahas perkiraan (estimasi)
Misalnya:
- "Menurutmu antrean ini sekitar berapa menit?"
- "Kalau kita jalan kaki ke sana kira-kira berapa langkah?"
- "Menurutmu ada berapa permen di toples itu?"
Estimasi adalah salah satu bentuk nalar matematis yang paling dekat dengan kehidupan sehari-hari.
3. Jangan buru-buru memperbaiki jawaban salah
Saat anak salah, coba tanyakan:
"Boleh ceritakan cara berpikirmu hingga sampai pada jawaban ini?"
Sering kali kesalahan justru memperlihatkan bagaimana logika anak bekerja. Yang seperti itu jauh lebih berharga daripada sekadar mengetahui jawaban benar. Kita juga jadi bisa mengoreksi/meluruskan logika yang kurang pas.
4. Mainkan permainan yang melibatkan strategi seperti catur, congklak, Uno, Sudoku, puzzle, permainan kartu, bahkan tebak-tebakan logika.
Banyak konsep matematika tumbuh dari kebiasaan mencari pola dan membuat keputusan, bukan dari lembar latihan.
5. Tunjukkan bahwa orang dewasa juga menggunakan matematika. Misalnya saat berbelanja:
- membandingkan harga,
- menghitung diskon,
- memperkirakan waktu tempuh,
- membagi makanan.
Anak perlu melihat bahwa matematika adalah alat berpikir orang dewasa, bukan sekadar mata pelajaran sekolah.
6. Rayakan cara berpikir, bukan hanya jawaban benar
Daripada bilang, "Pintar, jawabannya benar."
Cobalah pernyataan seperti, "Aku suka cara kamu mencoba tiga strategi berbeda sebelum menemukan jawabannya." Hal ini membantu anak mengaitkan matematika dengan usaha dan penalaran.
7. Kenalkan pola sebelum rumus
Misalnya sebelum menghafal perkalian, kenalkan pola bilangan:
2, 4, 6, 8, ...
5, 10, 15, 20, ...
Biarkan anak menemukan polanya sendiri. Rumus akan lebih masuk akal jika lahir dari pola yang sudah mereka lihat.
Yang paling penting adalah bahwa matematika awalnya bukan tentang angka. Matematika adalah kebiasaan bertanya "kenapa?", "bagaimana?", dan "apakah selalu begitu?"
Kalau anak sering diajak berpikir seperti itu sejak kecil, saat bertemu pecahan, aljabar, atau kalkulus nanti, mereka tidak melihat matematika sebagai monster dan akan melihatnya sebagai bahasa untuk menjelaskan pola yang sudah lama mereka kenal.
Izin menambahkan informasi.
Seorang ayah yang merokok sebelum punya anak dapat meningkatkan risiko kesehatan anak melalui kerusakan DNA pada spermanya.
Zat kimia dalam rokok, seperti nikotin, tar, dan karsinogen lainnya, dapat menyebabkan mutasi genetik yang diturunkan ke anak, meskipun ibu-nya tidak merokok.
Peningkatan kanker darah naik 3-4 kali lipat pada anak dengan seorang ayah yang merokok. Selain itu, risiko terjadinya kelainan jantung bawaan juga lebih tinggi pada anak dengan ayah seorang perokok.
Jadi pilih "makin ganteng" atau "anak lebih sehat"?
Semoga bermanfaat.
Sumber:
Liu (2011). Paternal Smoking and Risk of Childhood Acute Lymphoblastic Leukemia: Systematic Review and Meta-Analysis.
@karirfess Privilege terbesar orang kaya itu bukan tas atau mobil, tapi kesempatan buat jadi versi terbaik dirinya.
Lebih gampang jadi “wanita lembut, sabar, humble” kalau hidup aman, ayah fungsional, ibu waras. Emosional dan financial terpenuhi, .
Virtue is easier when life is kind to you
Di bulan caregiver awareness ini dan dalam rangka sharing is caring gw akhirnya tulis tentang suami gw sakit tumor otak. Awalnya cuma sering lupa https://t.co/xfmu592y6K
This is super creepy. INSANELY creepy. Random strangers taking high-res photos of you without asking. Then uploads it all. Then AI facial recognition can be used to find who that face belongs to etc etc.
Fuuuuuck all this.
Setiap tahun, diperkirakan ada lebih dari 135.000 kasus gigitan ular di Indonesia. Namun, hanya ada satu dokter subspesialis toksinologi di Indonesia. Dia adalah Dokter Tri Maharani.
Bagaimana cerita Dokter Maharani menangani pasien-pasiennya? Simak videonya.