1/
Kasus Chromebook bukan sekadar perkara laptop.
Ini adalah cerita tentang bagaimana pendidikan nasional bisa diseret oleh arogansi kekuasaan, konflik kepentingan, tata kelola yang rusak, dan kultus teknologi.
Saya menyaksikan sebagian proses itu dari dekat.
realita PNS yg ga bnyk orang tau. alat kerja seadanya, keluar uang pribadi u/ kerjaan, gaji under UMR, tukin/tpp jelata, beban administrasi bejibun, mandatory pusat nambah tanpa dukungan, naik pangkat njelimet, politik kantor dan sistem yg wadidaw, gaji naik 100-200 dicibir pula
Kok ada ya yang nyalahin selera audiens?
Audiens itu bukan charity case. Mereka (well, kita) perlu ngeluarin uang, waktu, dan energi lebih buat dateng ke bioskop. Konsumen gak tertarik beli kok disalahin 😅
@noirzaa Orang menilai mereka aneh, managing expectation yang buruk, atau belum sembuh dari trauma masa lalu. Padahal pengalaman menjadikan mereka paham betul apa yang mereka butuhkan. Tapi kejujuran mereka kerap disalah-artikan
Padahal yang mengkritisi itu fokusnya bukan menggulingkan. Cuma pengen programnya dikaji ulang karena lebih banyak mudarat daripada manfaatnya.
Tapi malah kaya nantang. Ayo coba saja gulingkan saya dengan mekanisme yang ada. Angel.
“membuat figur sulit tersentuh kritik. Karena argumen apapun akan dijawab scr emosional”
This was happened, alih2 dia menanggapi konteks kritik terhadap pemikiran dan argumen yang dia sampaikan, malah posting sana sini seperti mencari simpatisan publik dan mengamini pengkultusan
Duh kalo ini udah to much. Puncak terparah dr kultus individu adalah saat org rela mati bukan utk nilai, bukan utk cita2, tapi utk idolanya. Stop it, ini ga sehat.
Kalau kita bnr2 peduli ama Ferry, justru kita tidak perlu mengamini semua hal yg ingin ia dengar.
Logika “utang nyawa” bikin solidaritas kolektif berubah jadi relasi patron–klien. Perjuangan bersama bergeser jadi jasa individu.
Ini yang harus dikhawatirkan dari kultus individu: Hegemoni afektif selalu bekerja ke arah yang sama, membuat figur sulit tersentuh kritik. Karena argumen apapun akan dijawab scr emosional.
Untuk skrg ayo kembali ke isu honorer. Tapi kurasa penting utk orang-orang terdekat Ferry mulai mengingatkan betapa berbahayanya arah kereta yg tengah berjalan.
Saran gw gini: Kalo lu di sosmed & di kehidupan offline udah sering banget dikasih tau bahwa lu "salah paham", mending lu evaluasi diri aja, coba lihat bagaimana diri lu salah pahamnya, kata2 mana yang sering lu gagal pahami, makna2 tersirat mana yang sering kelewat
Catat itu banyak2, lalu pas membaca lagi di kemudian hari, STOP dan MIKIR: "Oh aku sering dibilang orang salah ini, apa mungkin si penulis ini maksudnya ini ya?". Gitu. Jangan jadi orang yang membatu selama-lamanya & tak merevisi diri. BELAJAR ulang cara menafsirkan teks dan omongan
Ciri-ciri yang lu orangnya sering gagal paham: Pas lu ngomong, terus orang lain sering bilang: "Eh ini maksudnya B, bukan A". Catat di hati, berapa kali itu terjadi biar bisa dipelajari; Biasakan diri untuk MENGUTAMAKAN pemahaman, jangan "ngotot" di penafsiran awal. Kalau orang bilang dia maksudnya lain, ya KAMU SALAH PAHAM. JANGAN NGEYEL LAGI
Penjelasan Ferry Irwandi tentang masalah gaji guru honorer telah digunakan oleh banyak pihak untuk menormalisasi nasib guru honorer agar mereka menyalahkan dirinya sendiri, yayasan, dan pemerintah daerah. Padahal, masalah guru adalah masalah kepemimpinan nasional.
-Thread-
Walaupun ga sepakat dibandinginnya sama verrel tapi gue setuju kalo ga semua yang vokal kritik langsung auto green flag jadi cawapres njir, jadi menteri aja juga ga dulu
Kita jauh dari kata menang. THP DPR malah jadi naik: dari Rp54 juta jadi 65,5 juta perbulan.
Di saat yang sama, kekayaan pejabat publik baik eksekutif maupun legislatif naik dari 19,6T ke 21,3T.
Rata-rata menteri kini memiliki kekayan 426 miliar. 671 kali lebih kaya dari rakyat biasa.
Pertanyaan: kenapa mereka bisa makin kaya tiap tahun, sedangkan rakyat mengalami penurunan kualitas hidup secara masif dan sistemik?
If you think you have a bigger platform than most people, use it to amplify their voices. Give them the stage and let them speak on their own. Don’t use it to put yourself on a pedestal.
Touch some grass(roots). 💁🏻♂️
🤯🤯BREAKING: temuan wartawan dibalik dalang penjarahan. 🤯🤯
Kesaksian oleh "paid actor" yg ketinggalan rombongan bernama Ahu:
-4 mobil konvoy berangkat bareng dari cimahi, terus lanjut jemput orang di bandung, bandung barat, sukabumi, cianjur sampai bogor rombongan 600 motor.
-Mampir ke tanggerang dulu, kamis nyampe senayan lemparin molotov.
-Sebelum berangkat, diperintshkan membuat dulu bom molotov. “Ada 160 botol dibuat,” isinya minyak tanah.
-Botol itu kemudian diangkut ke kendaraan minibus putih. “Macam Alphard tapi bukan, saya lupa namanya,” kayaknya hiace ya?
-Di DPR ketemu rombongan lain yang direkrut dengan cara yang sama dari daerah jawa & bekasi.
-Sebagian kelompok beraksi di DPR, rekan-rekan Ahu yang lain membakari halte-halte Transjakarta.
“Itu pakai molotov yang dibuat di kampung,”
-Sebagian dari anggota rombongan, kata dia, ditugaskan mengunggah siaran live di TikTok.
-Dapet brief penjarahan ke 4 rumah, Pimpinan rombongan memberi tahu ada empat rumah yang bakal dijarah dan lokasinya mulai dari priuk. tapi ga berangkat karena kepencar dari rombongan.
-Saat diperlihatkan video penjarahan sama wartawan Ahu mendaku mengenali sebagian penjarah. “Itu yang baju biru juga rombongan saya, Bang”
https://t.co/tKRvWuNz0M
@_justreza ya kenapa kritiknya ke Tim SAR? poin lo juga aneh. Heran dah pada suka banget permasalahkan hilir, padahal masalahnya bisa jadi di hulu. Konflik horizontal mulu demennya
> Saya dituduh menjalankan impor gula tanpa adanya Rapat Koordinasi Antar Kementerian
> Kemudian saya dituduh impor gula meskipun ada Rapat Koordinasi Antar Kementerian yang mengatakan bahwa Indonesia saat itu sedang surplus gula.
* Adakah yang kelihatan janggal di antara kedua tuduhan di atas?
> Pertama saya dituduh tidak ada Rapat Koordinasi Antar Kementerian yang menjadi dasar kebijakan saya.
> Beberapa kalimat kemudian, saya dituduh ada Rapat Koordinasi Antar Kementerian, yang menjadi dasar kebijakan saya tapi kebijakan saya bertentangan dengan Rapat Koordinasi Tersebut
* Jadi yang mana nih: Ada atau tidak ada Rapat Koordinasi Antar Kementerian nya???
> Pada Konferensi Pers 29 Oktober 2024, Kejaksaan bilang saya mengimpor gula “tidak melalui Rakor dengan instansi terkait.”
> Dalam dakwaan terhadap saya: “Tanpa didasarkan Rapat Koordinasi Antar Kementerian.”
> Faktanya: Kebijakan impor gula saya di 2015 menggunakan Rakor-Rakor Antar Kementerian tanggal 12 Mei 2015 dan 8 Oktober 2015 sebagai dasar kebijakan
> Risalah Rapat Koordinasi Antar Kementerian Bidang Ekonomi tanggal 12 Mei 2015, bilangnya:
“Pabrik gula BUMN saat ini sedang melakukan penggilingan, sehingga dapat memenuhi kebutuhan gula nasional 3 bulan ke depan.”
=> “3 bulan ke depan lho, bukan sampai akhir 2015!”
==> Saya menerbitkan izin impor gula pertama kalinya di Oktober 2015…
AKUN INI SEMENTARA DIKELOLA OLEH TIM ATAS ARAHAN PAK TOM MELALUI KUASA HUKUMNYA