Masih ingat Dave Latumeten? Sosok Pemuda Pancasila yang tanpa pamrih turun tangan menjadi relawan di SDN Pondok Cina 1 Kota Depok saat guru-guru dilarang oleh pemerintah kota untuk mengajar di sana akhir tahun lalu.
Hari ini saya bersilaturahmi ke rumahnya.
Satu hal yang menarik dari sosok seorang Dave, meski tampilan luarnya sangar, dia adalah seorang penyayang kucing โgaris kerasโ.
Sebelumnya dia dan istrinya pernah menyewa rumah untuk dijadikan shelter kucing terlantar, namun sekarang puluhan kucingnya ditempatkan di rumah ibunya karena sewa tidak diperpanjang dan Dave harus merawat ibunya yang sakit.
Meski terpaksa berdesakan, Dave dan istrinya Ichy tetap berusaha merawat dengan baik kucing yang jumlahnya sekitar 50 ekor ini.
Kadang ada yang membantu memberikan makanan karena kucing-kucing ini membutuhkan minimal 60 kilogram makanan setiap bulannya. Tadi saya sempatkan membawa beberapa kantong makanan kucing.
Karena sudah dikenal sebagai penyayang kucing, Dave beberapa kali mendapati kucing diletakkan di depan rumahnya, atau bahkan ada yang membawa kucing hamil untuk dipelihara oleh Dave. โSaya memang sering melakukan rescue kucing, tapi kalau sudah tidak mau memelihara kucing, jangan dibawa ke sini juga. Boncos saya,โ ujarnya sambil tersenyum.
Sosoknya memang unik, buat yang belum kenal Dave, mungkin akan menghindar saat bertemu di jalan. Tapi kalau sudah kenal, Dave adalah orang yang sangat ramah, hangat, dan bersahabat. Dia cenderung tidak bisa diam kalau melihat ada kucing menderita, apalagi disiksa.
Dalam segala keterbatasannya, Dave dan Ichy saat ini tengah berusaha untuk mencari rumah yang lebih luas untuk kucing-kucing ini. Apalagi di rumah itu sekarang ada satu ekor anjing yang diselamatkan Dave dari sebuah lapo. Dia mati-matian memaksa membeli anjing itu ketika akan disembelih.
"Menjadi seorang wanita Afrika harus sanggup meneteskan airmata. Menjadi Wanita di Somalia harus siap menerima luka. Menjadi wanita yang terjebak di tengah Al-Shabaab, harus rela untuk duka tanpa tawa." Khadija membuka kisahnya. Airmatanya menetes, diseka dari pipinya, sesekali jatuh ke atas meja lusuh tempat dia menyilangkan kedua tangannya. Bibirnya bergetar, luka itu nampaknya terlalu lama.
Kulit wajah dan tangannya yang gelap terlihat di balik gaun dan hijabnya. Kering dan pucat, nampaknya ditempa oleh tumpukan trauma yang tidak sebentar. Setidaknya mungkin perlakuan kasar; 9 tahun di kamp ekstremis Al-Shabaab.
Pada usia 30, ia tampak lebih tua dari usianya. Dia lahir di Mombasa. Berasal dari keluarga miskin yang tidak mampu membiayai hidupnya. Sebagai gantinya dia mencuci pakaian dengan bayaran sekedarnya.
Lalu Khadija berusaha merantau ke Somalia dan dia tidak menemukan apapun. Sebaliknya dia diculik ke hutan Boni di perbatasan Kenya oleh beberapa pemuda. Di sana ternyata tempat persembunyian Al-Shabaab, kelompok ekstremis paling ditakuti di Tanduk Afrika. Dia berusia 21 tahun saat itu.
"Di kamp saya ditahan. Berulang kali diperkosa oleh enam pria sekaligus. Mereka memukul dan mengancam nyawa jika menolak pelayanan seks. Ternyata kami ditangkap memang untuk itu; budak seks bagi pejuang agar mereka tidak berpikir untuk pulang." Khadija bertutur lirih.
Khadija tidak bisa menghitung berapa ribu kali diperkosa. Di kamp tidak ada kontrasepsi, laki-laki yang memperkosanya tidak juga menggunakannya - hingga akhirnya Khadija tertular HIV. Tragisnya lagi; dia hamil!
Pada satu kesempatan Khadija berhasil kabur setelah bersembunyi selama seminggu di hutan, ia dibantu seorang Ustadz di kamp Al-Shabaab - Khadija berhasil bebas dan kembali ke Mombasa. Di kampung halamannya ia dijauhi, selain karena HIV juga dianggap kaki tangan teroris. Kohesi sosial Khadija telah hancur.
Ia sekarang hidup membesarkan anaknya dengan penyakit yang semakin menyengsarakannya. "Saya menunggu mati. Mungkin Tuhan yang akan menjaga anak saya," kata Khadija. "Tapi saya merasa putus asa, Tuhan mungkin tak akan membela saya, Dia selama ini lebih membela Al-Shabaab," katanya sambil berlinang air mata.
(Khadija adalah "returnees" Al-Shabaab yang diwawancarai oleh Institute for Security Studies pada tahun 2016)