Indonesia has swung from an emerging-market darling to a global laggard, with insiders blaming the president and his inner circle for erratic and poorly communicated policies. Read more: https://t.co/kwD7XVZsip
📷️: Dimas Ardian/Bloomberg
Our president, leader of the Republic of Indonesia, watches the poor eat their meal.
He does the watching from a lavish setting, his own plate stacked with expensive food.
Poverty as an evening's entertainment.
@ardisatriawan Kalau Elon Musk tiba-tiba bikin program eksplorasi luar angkasa &minta perwakilan buat pergi ke luar angkasa, negara lain kirim ahli-ahli luar angkasa, jangan heran kalau Indonesia kirim Rafi Ahmad, verel bramastya, dkk. Inkompeten gapapa, asal akrab 🤣
guys lu pada tau gk
ini berita paling lawak sih hari ini
ada cerita pembangunan jembatan di Karanganyar hasil gotong royong gabungan Tentara Nasional Indonesia dan Kepolisian Negara Republik Indonesia.
Harusnya kabar bagus dong.
Tapi yang bikin warga geleng-geleng justru pas momen peresmiannya.
Katanya warga sampai nyeletuk:
“ini biaya bangun jembatannya jangan-jangan lebih murah daripada biaya seremoni peresmiannya.”
Karena peresmiannya disebut ramai banget:
ada potong pita, acara formal, penyambutan, konsumsi, perlengkapan acara, sampai urusan akomodasi tamu.
Belum lagi kalau yang datang banyak pejabat atau rombongan:
transportasi, pengamanan, dokumentasi, konsumsi, dan kebutuhan teknis lainnya.
Dan ini yang sering bikin rakyat sensitif.
Bukan karena gak mau ada apresiasi.
Tapi kadang yang dibutuhkan warga itu jembatannya berfungsi dengan baik… selesai.
Bukan seremoni berlebihan yang kesannya lebih mahal dari manfaat simboliknya.
Rakyat tuh simpel:
jalannya bagus → senang
jembatan jadi → senang
akses lancar → senang
Yang bikin kesel itu kalau substansi kecil, pencitraan besar.
Kalau memang proyeknya untuk rakyat, fokusnya harus di hasil yang benar-benar dipakai warga tiap hari.
Bukan bikin acara megah cuma buat foto lalu upload caption “demi masyarakat.”
Warga sekarang makin kritis.
Mereka bisa bedain mana pembangunan beneran, mana yang terlalu sibuk sama seremoni.
Kasus media tunawisma (homeless media), mengingatkan pentingnya pagar api, yaitu pemisahan tegas antara ruang redaksi dan kepentingan bisnis, politik, maupun pemilik modal. Pagar ini menjaga agar berita tidak dikendalikan sponsor, pemilik perusahaan, partai politik, atau kepentingan pribadi wartawan.
Tanpa pagar api, media kehilangan independensinya. Berita bisa berubah menjadi alat promosi, propaganda, atau transaksi kekuasaan.
Bahaya ini sebenarnya tidak hanya terjadi pada homeless media (kanal personal atau media tanpa struktur redaksi jelas), tetapi juga media mainstream.
Pada homeless media, masalahnya sering berupa tidak ada kode etik, sponsor dan donatur mempengaruhi isi, opini bercampur dengan fakta, pembuat konten merangkap buzzer, atau konsultan politik, tidak ada mekanisme koreksi dan akuntabilitas.
Sementara pada media mainstream, pagar api juga mulai retak ketika pemilik media ikut politik praktis, redaksi ditekan kepentingan bisnis grup perusahaan, pengiklan menentukan arah berita, jurnalisme diganti logika klik dan algoritma, newsroom takut kehilangan akses kekuasaan.
Akibatnya sama, publik sulit membedakan mana informasi independen dan mana narasi pesanan.
Jika homeless media berisiko menjadi propaganda tanpa institusi, maka media mainstream berisiko menjadi propaganda yang tampak profesional. Keduanya sama-sama berbahaya bagi demokrasi karena merusak kepercayaan publik terhadap media dan fakta itu sendiri.
Saat media mainstream makin melemah, media tunawisma mesti membangun kode etik dan pagar api, agar tidak jatuh pada masalah yg sama yg dialami media mainstream. Masalahnya, apa mungkin dg struktur media tunawisma?