“Seorang anak tumbuh dari apa yang ia lihat di rumahnya; sebagaimana pohon, ia tumbuh dari akar yang menumbuhkannya.”
Lingkungan pertama seorang anak bukanlah sekolah, melainkan rumah. Apa yang ia lihat setiap hari—kebiasaan, ucapan, buku, dan lain sebagainya, bahkan suasana—itulah yang diam-diam membentuk cara berpikir dan jiwanya.
Ada yang jamaah ke masjid dengan membawa sajadah sendiri? Sajadah apa saja.
Seperti sajadah Persia, sajadah lipat dengan kompas kiblat tertanam, sajadah Turki dengan sulaman emas, atau juga sajadah polos minimalis yang dilipat rapi di tas khusus saat tidak dipakai.
Jadi, tiap orang membawa “lantainya” sendiri.
Pernah? Seberapa sering? Ataukah jarang?
Jika pernah, lanjutkan saja. Jika jarang, coba terapkan mulai sekarang.
Kenapa?
Karena ada penelitian tahun 2019 (dan ternyata tahun 2017 juga ada penelitian yang sama), dimana sekelompok peneliti di Riyadh memeriksa karpet seratus masjid di lima wilayah kota itu.
Hasilnya: 94 persen sampel mengandung berbagai bakteri.
Mayoritas adalah flora kulit normal yang relatif jinak, tapi terselip pula MRSA (menurut Grok: sejenis Staphylococcus yang kebal terhadap antibiotik standar) dan Shigella (penyebab disentri), meskipun dalam frekuensi rendah.
Salah satu rekomendasi praktis yang muncul dari kajian ini, yang juga muncul di studi serupa di Libya dan Turki, adalah: penggunaan sajadah pribadi.
Di samping itu, salat dengan sajadah pribadi itu sah secara fiqih, masuk akal secara higienis, dan tidak melanggar syariat apapun.
Sepertinya di Indonesia perlu ada kajian semacam ini. Siapa tahu bisa jadi dasar “kebersihan masjid” yang tidak hanya mencuci karpetnya setiap mau Ramadan saja.
Hhe~
Arameans community of the Syriac orthodox church praying in Aramaic.
The prayer is performed 7 times a day and it’s fulfilled in a way where men lead on the front while women pray behind.
MENGETAHUI WATAK ASLI MANUSIA
Salah seorang ahli hikmah berkata:
يُعْرَفُ الزَّوْجُ عِنْدَ مَرَضِ زَوْجَتِهِ
Seorang suami akan terlihat (perhatiannya) ketika istrinya sakit.
#kutipan#hikmah
Bismillahirrahmanirrahim.
Hari ini, izinkan saya Ririe, mewakili Ibam dan anak-anak kami, menyampaikan Surat Terbuka kepada Pemimpin tertinggi negeri, Presiden Republik Indonesia, Bapak Prabowo Subianto.
Dengan segala kerendahan hati, kami memohon perlindungan hukum dari ketidakadilan yang kami hadapi. Agar kebenaran tidak dikalahkan oleh hal-hal di luar fakta persidangan. Agar keadilan benar-benar ditegakkan sebagaimana mestinya.
Kami percaya, negara tidak boleh membiarkan warganya merasa sendirian dalam menghadapi ketidakadilan.
Semoga surat ini sampai dan diterima dengan baik oleh Bapak Presiden. Demi keadilan berdiri setegak-tegaknya di negeri ini. Demi hilangnya rasa takut dari mereka-mereka yang dengan jujur dan tulus hendak membantu negara dengan keahlian mereka.
Terima kasih, Bapak Presiden @prabowo 🙏🏻
@Netizen_bawel ini kl pe en es yg ngurusi bansos diem bae gak mau ngecek ke lapangan, dolim lho. ngerasa bhw semua yg ada di data itu valid, tnp th gmn kondisi riilnya, sm aja dg males.
Orang2 yg sengaja "memperluas", jg otaknya, jg penuntut2nya, mengira akan hidup selamanya. Mereka mengira setelah ini yg ada cm kekosongan, nothing. Padahal bahkan sebelum liang kubur mereka digali, masa pensiun akan mereka jalani bersama stroke.
Ini Ibam, bicara sendiri agar Ririe terlindungi.
Betul, ketika belum jadi tersangka, saya dapat ancaman: buat pernyataan "mengarah ke atas" kalau tidak kasusnya "akan diperluas".
Saya tolak, ngga mau bohong & zalim.
Tiga minggu kemudian, saya jadi tersangka.
Saya tolak bukan untuk lindungi Nadiem, tapi karena memang ngga pernah ada arahan dari Nadiem ke saya agar pengadaannya jadi Chromebook semua.
Seperti yang terungkap dari 22x sidang, tidak ada sama sekali arahan dari atas seperti itu. Saya hanya diminta memberi masukan netral dan objektif sebagai konsultan.
Artinya, ketika menerima ancaman tersebut saya dihadapkan ke dua pilihan:
Berbohong mengarang cerita menuduh orang lain untuk menyelamatkan diri sendiri.
Atau, berpegang kepada integritas, kejujuran, dan kebenaran yang saya yakini, dan menolak untuk berbohong.
Dengan shalat istikharah dan kesadaran penuh akan risikonya, saya memilih jalan yang kedua: kejujuran.
Insya Allah selalu berpegang pada kejujuran akan berujung pada kebaikan untuk saya, Ririe, dan keluarga kecil kami. Kalau tidak di dunia, maka di akhirat kelak.
Lalu jawabannya apa ketika saya menolak untuk berbohong? "Oke, kami perluas.”
Saya tidak berdaya. Ya Allah, apa lagi yang bisa kami lakukan ketika dihadapkan pada pilihan seperti itu? Pegangan kami hanya prinsip integritas dan kejujuran.
Ketika konsekuensinya beberapa minggu kemudian saya dinyatakan tersangka, kami hanya bisa memperbanyak istighfar dan ikhtiar.
Kami jalani dan hormati proses hukum yang ada dengan tabah, kami berniat jelaskan di persidangan fakta-fakta yang membuat terang, kami masih percaya dengan hukum Indonesia.
Mungkin ngga banyak yang tahu, tapi Ririe istri saya adalah seorang sarjana dan magister hukum. Di Belanda dulu kami banting tulang nabung dan berhemat banyak, supaya bisa bayar uang kuliah S2 Ririe.
Dari Ririe, saya belajar banyak tentang hukum Indonesia, apa saja yang mungkin terjadi, dan bagaimana hukum kita tetap memungkinkan pembelaan yang efektif.
Baik, mari berjuang di persidangan, luruskan seluruh tuduhan. Satu persatu fakta di persidangan muncul dengan terang benderang, satu persatu tuduhan bisa kami bantah.
Sampai akhir rangkaian sidang, 57 orang saksi dihadirkan, tidak ada bukti saya menerima keuntungan dari perkara ini, tidak ada bukti masukan saya karena konflik kepentingan, tidak ada bukti saya mengarahkan.
Yang terungkap malah saya sebagai konsultan sudah menyarankan Chromebook diuji dulu, pejabat menolak pengujian dan memutus Chromebook, nama saya dicatut di SK, masukan saya dipelintir.
Kami merasa pembelaan hukum kami sudah maksimal, kebenaran sudah terungkap, tinggal menumpu harapan pada keadilan dan kebijaksanaan dari majelis hakim yang mulia, yang kami merasa sudah sangat objektif dan penuh kearifan sepanjang persidangan.
Namun, ketika JPU menyebutkan tuntutan 15 tahun penjara, denda Rp1 miliar, uang pengganti Rp16,9 miliar subsider 7,5 tahun penjara tambahan...
Ini titik kezaliman yang sangat terang benderang, tekanan kepentingan yang sangat kentara, saya memutuskan pembelaan saya tidak lagi bisa hanya di persidangan.
Besok saya akan sidang pembelaan (pleidoi) dan kami bersurat kepada Presiden @prabowo Subianto serta @KomisiIII DPR, untuk memohon perlindungan hukum dari kriminalisasi, ketidakadilan, intimidasi, serta pengkambinghitaman yang sudah sekentara ini.
Kami takut untuk bicara? Takut ada intimidasi lain? Itu risiko yang jelas, tapi kami tidak gentar. Tuntutan 22,5 tahun dan belasan miliar yang tidak mampu kami bayar mungkin dianggap akan membuat kami terdiam, tapi kami malah semakin berani untuk melawan kriminalisasi ini.
Mohon bantuan, dukungan, dan perlindungannya dari masyarakat Indonesia, dari pekerja kreatif dan pekerja pengetahuan, serta dari semua yang ingin bantu negara atau takut dizalimi negara.
Kami berjuang bukan untuk kami sendiri, tapi agar tidak ada lagi kriminalisasi dan ketakutan bagi mereka yang tulus mau bantu Indonesia. Kami masih percaya Indonesia bisa menjaga dan menghadirkan keadilan dalam kasus kami.
Istrinya yg biasa mereka suap dg duid korupsi tak henti ngelap ludah yg mengalir dr sudut mulut mereka, sambil bentak2 mereka. Sedang anaknya yg ogah2an akan mendorong kursi roda mereka dg kasar ke bawah terik matahari.
Imam Muslim adalah murid Imam Bukhari
Imam Bukhari adalah murid Imam Ahmad
Imam Ahmad adalah murid Imam Syafi’i
Imam Syafi’i adalah murid Imam Malik
Imam Malik adalah murid Imam Nafi’
Imam Nafi’ adalah murid Imam al-A’raj
Imam al-A’raj adalah murid Imam Abu Hurairah
Imam Abu Hurairah adalah sahabat dan murid Rasulullah Saw
Inilah sanad keilmuan ilmu hadits
Apapun itu, harus di treat lagi biar hilang asinnya. Ikan asin itu cara mengawetkan. Ya bukan berarti lu pasrah makan makanan dengan kadar garam setinggi itu.
Lu ngebunuh badan lu pelan-pelan kalo cuma dicuci air putih doang dan masih super asin trus lu makan.
Sewaktu nge-tag BNI, status saya akhirnya direspon oleh BNI lewat akun resminya.
BNI bilang mereka "juga pihak yang terdampak" dalam kasus Rp28 miliar dana umat Paroki Aek Nabara. Secara teknis benar. Tapi kan ada jurang besar antara "terdampak" dan "bertanggung jawab".
Apakah mereka sedang coba menyamarkan dua kata itu jadi satu?
BNI memang keluar Rp7 miliar talangan pada 26 Maret 2026. Reputasi mereka tergerus di mana-mana (lihat saja di X). OJK dan BI sedang mengawasi ketat, dan bisa saja ada sanksi kalau terbukti lalai awasi internal.
Secara bisnis, ya, mereka rugi.
Tapi "terdampak" bukan sinonim "korban", bukan?
Benarkah klaim BNI, yaitu "ada oknum di luar sistem resmi"?
1. Andi Hakim Febriansyah bukan tukang sapu. Dia Kepala Kantor Kas BNI Unit Aek Nabara resmi.
2. Selama 7 tahun (2019 sampai 2026), dia memakai fasilitas resmi BNI sepenuhnya: layanan pick-up service untuk jemput uang, bilyet deposito BNI, rekening koran BNI, seragam, kartu identitas pegawai.
3. Suster Natalia dan pengurus Credit Union tidak menyerahkan uang ke "Andi pribadi". Mereka menyerahkannya ke BNI sebagai institusi, lewat mekanisme yang BNI sendiri sediakan.
4. Semua data transaksi tercatat di sistem BNI. Tapi yang lucu, BNI justru meminta CU menyediakan "bukti pendukung" berulang kali. Padahal catatannya ada di server mereka sendiri.
Kalau seorang pegawai bank memakai jabatan, fasilitas, dan dokumen resmi bank untuk menipu 1.900 umat selama 7 tahun tanpa terdeteksi audit internal, itu bukan "oknum di luar sistem".
Itu namanya kegagalan sistem!
Secara hukum, ada prinsip tanggung gugat pengganti (Grok bilang, istilah ini disebut: vicarious liability). Bank wajib bertanggung jawab atas tindakan pegawainya yang dilakukan dalam kapasitas jabatan.
Ini bukan opini saya, Gais. Ini ada di UU No. 10/1998 tentang Perbankan dan POJK tentang perlindungan nasabah.
Di satu sisi, BNI adalah Bank BUMN, dengan aset triliunan rupiah, punya tim hukum dan tim humas korporat yang sibuk membangun narasi "kami juga korban".
Di sisi lain, ada 1.900 umat Paroki Aek Nabara. Mayoritas dari mereka adalah petani dan buruh kecil. Mereka menabung selama lebih dari 40 tahun, rupiah demi rupiah, untuk biaya sekolah anak, dan biaya sakit.
Rencana masa depan yang sederhana, bukan?
Jawaban BNI sah secara korporat. Strategi "oknum dan tunggu dokumen" itu klasik. Tapi dari sisi keadilan, ini sangat miskin empati. Uang itu tabungan umat kecil yang dikumpulkan selama 40 tahun, bukan duit korporasi yang bisa dihitung ulang di pembukuan kuartal berikutnya.
Kalau setiap kali ada pegawai berulah, jawaban resmi bank selalu "itu oknum, bukan kami", lalu kepada siapa nasabah harus percaya?
Besok saya mau menutup rekening saya. Kalau masih antre, ya, saya tarik semua uang saya dari sana.
Kalian sendiri gimana baca sikap BNI sejauh ini?
@agustrih13 mripate pemerentah tingkat prov lan kabupaten melek mboten to, ningali ngaten niki mbok enggal diangkat dados asn!!! *mangkel ngenggo kromo
Tahukah Anda, tempe goreng tepung seperti ini akan lebih awet renyahnya jika
- kamu pakai tepung singkong/tapioka dan tepung beras sebagai tambahan pada tepung terigu yang kamu pakai.
- kamu pakai air es buat bikin adonan krispinya
- kamu tambahkan baking powder
- kamu tambahkan sedikit margarin pada adonan
- kamu goreng pakai teknik deep frying
- kamu tiriskan tempe yang sudah digoreng DENGAN TIDAK DITUMPUK
@MuhammadSmiry Indonesians often hear Palestine from the bad news: bombing of Israeli soldiers, starvation, etc. I hope someday the situation changes, and forever we only hear it from the good one. Viva Palestine!
Hello Lola, I am a Muslim, and our spiritual tradition has a very deep approach to raising children. I want to share some tips from our scholars that will be beneficial to you regardless of your faith.
First of all, our theology teaches the concept of Fitrah. This means that every child is born with a pure heart. At six years old, she is not a criminal mastermind. She does not have a wicked soul.
If she doesn’t have all these, then what is happening? The truth is that she is just lacking impulse control and testing boundaries. By this, if you look at her as a manipulator, you will fight her. However, if you look at her as a pure soul making mistakes, you will be able to guide her.
Secondly, for every problem anyone faces today, it has been solved in history. The only problem is how to locate them.
A classical scholar named Al-Ghazali wrote about child psychology over 900 years ago in his famous book “Ihya Ulum al-Din.” In his section on disciplining children, he gave a practical rule I want you to adopt going forward.
He advised that parents should never push a child into a corner where they are forced to lie. When you ask a question you already know the answer to, her survival instinct kicks in. She cries and she lies to defend herself because she is scared of you. Stop interrogating her. Just look at her and state the fact. Say, I know you took this, and we are going to return it right now.
Again, another scholar and sociologist Ibn Khaldun addressed this exact behavior in his masterpiece titled: “Al-Muqaddimah.” He warned that when a child is raised with harsh punishment, they learn deceit, trickery, and lying to protect themselves. This is why she is covering her tracks and crying to manipulate you. The fear of a harsh reaction is making her a better liar.
Lola, do not attach a label to her. Do not ever call her a thief. If you attack her identity instead of her action, she will internalize it and grow into that dark label. Tell her the action is wrong but protect her dignity.
Make her return the item. Do not fall for the tears. Hold her hand, walk her back to wherever she took it from, and make her hand it back and apologize. The discomfort of returning a stolen item teaches a much better lesson than beating her will ever do.
Finally, I don’t know if you are a Muslim, but never underestimate the power of your own words. In our faith, we believe the prayer of a parent for a child goes straight to God without any barrier. Pray over her. Pray for her heart to be content and for her character to be straight.
Keep doing this consistently and the habit will break.
Allah knows best.