"Hujan2 nawarin es teh", kalian lupa dulu banget di tanah ini ada orang nawarin agama baru di tengah agama2 yg sudah ada.
Dan agama baru itu elit2nya pada ngetawain umat yg kadung "terjebak" masuk.
Syed Hassan Nasrallah (1960-2024). He led the Resistance, which will not bend but grow as his memory and example seed a new generation. He fought for his people despite the immense personal cost and was hated by his enemies because he defeated them.
I saw him speak in Beirut in 2013, a most impressive man and a brilliant strategic thinker. His loss is a blow to Lebanon, but he has taught two generations how to succeed him.
He is drinking now from the fountain of Kawthar.
Masalahnya ustad. Keridhoan Allah itu ngurus hal2 yg oleh sebagian ustad nggak dianggap penting. Misal: melawan oligark, terlibat pendidikan politik, bangun kemandirian ekonomi, bangun sekolah2 gratis, & turut mewujudkan hidup adil, & lestai.
Kata seseorang:
Tuhan memberi anugerah bangsa Lebanon dengan mengirim Kahlil Gibran. Sementara menguji bangsa Indonesia dengan mengirim Bahlil & Gibran.
Kok bener banget ya. 😁
إذا تعارض المفسدتان روعي أخفهما ضررا
"ketika ada dua mafsadat yang kompleks, maka harus diusahakan mafsadat yng lebih minimal bahayanya". Tentu ini cukup lucu dan irrelevan (ora nyambung) dengan persoalan tambang ini, jikapun mau dipaksakan, mari kita ajukan antologi pertanyaan
apakah kemudian dua mafsadat tersebut dalam kasus ini? tambang dan ekonomi rakyat? lalu akhaffu ad-dharar (yang paling minimal bahaya)nya adalah tambang yang destruktif itu? apakah kemudian ekonomi rakyat lebih besar dlarar nya bagi PBNU? sehingga harus memilih tambang? .
Yang lucu lagi, Gus Ulil mencoba memaksakan kaidah Ushul Fiqh yang cukup akrab di telinga kawan-kawan santri untuk membenarkan apa-apa yang dilakukan oleh PBNU, yaitu kaidah:
Tulisan jelek dari Ulil Abshar Abdallah dalam menanggapi kritik atas PBNU. Gus Ulil masih terjebak dalam kacamata bineritas kaku-lentur dalam melihat persoalan tambang yang hari ini menjadi pembicaraan. https://t.co/ibuxgmkdj1
bukan hanya itu, Gus Ulil juga mencoba mennabrakkan Fiqh--yang seolah diwakili oleh kyai-kyai yang mengamini tambang untuk membenarkan apa-apa yang dilakukan PBNU--dengan kacamata aktivis lingkungan yang mengkritik hal tersebut.
lebih serius lagi Gus Ulil menciptakan waham seolah apa-apa yang menjadi kritik aktivis dan pegiat lingkungan hanya berdasar pada kekakuan dan ideologi belaka, seolah mereka tak punya kalkulasi dan pertimbangan maslahat-mafsadat.
satu badut digotong masuk istana oleh sejumlah intelektual, jurnalis, agamawan, aktivis, seniman, politikus, ekonom...seketika istana jadi sirkus paling norak seiring tepok tangan yg berganti menjadi cuci tangan