1. Aku masuk ke rumah dukun ini dengan ragu dan takut.
Bayanganku tentang “dukun” ternyata salah.
Rumahnya cerah, di perkampungan biasa.
Warganya ramah.
Bunga tumbuh di depan rumahnya.
@bacahoror@IDN_Horor@threadhoror#threadhoror
@IDN_Horor@bacahorror_id@bagihorror@bacahoror 66. Aku dan Rudi bukan lagi dua orang. Kami menempel terlalu rapat. Aku seperti menjadi tempatnya bergantung, dan dia menempel padaku seperti inang. Lalu begitu saja kesunyian menelanku. Aku seperti kehilangan gairah mendengar suara lain; di telingaku hanya ada suara Rudi.
1. Aku masuk ke rumah dukun ini dengan ragu dan takut.
Bayanganku tentang “dukun” ternyata salah.
Rumahnya cerah, di perkampungan biasa.
Warganya ramah.
Bunga tumbuh di depan rumahnya.
@bacahoror@IDN_Horor@threadhoror#threadhoror
@IDN_Horor@bacahorror_id@bagihorror@bacahoror 65. Pelan-pelan aku sadar tubuhnya berubah—dia mulai menggendut, napasnya semakin berat.
Tidurnya pun gelisah. Dengkuran itu kini selalu ada, sangat dekat di telingaku, karena dia tidak bisa tidur tanpa memelukku. Saat itu aku sadar, aku sudah tidak berdiri sendiri.