Terima kasih atensinya, @BNI.
Tapi setelah membaca investigasinya, seharusnya ini masalah Anda dengan karyawan Anda.
Nasabah seperti Bu Natalia tidak perlu pusing.
Ditunggu resolusinya. Yaitu uang jemaat kembali semua.
@LambeSahamjja Entah apa yg sebenarnya terjadi pada internal BNI, dulu pernah dapat email asuransi dari BNI padahal g pernah daftar dan rekening BNI sudah lama tidak aktif.
USIA 40: HIDUP TENANG LEBIH PENTING DARI HIDUP HEBOH
1. Usia 40 adalah masa menyederhanakan
Yang dulu dikejar mati matikan, sekarang sudah mulai terasa biasa, bukan karna menyerah, tapi karna sadar, tapi karna sadar tidak semua hal layak diperebutkan, tenang itu mahal, dan usia 40 mulai paham harganya
2. Lingkaran makin kecil, bukan makin sepi
Teman berkurang, obrolan makin selektif, bukan sombong tapi belajar menjaga hati, lebih baik sedikit tapi tulus dari pada ramai tapi melelahkan jiwa
3. Focus di usia 40
Kurangi pembuktian, perbanyak perbaikan, ngak perlu terlihat hebat dimata manusia, cukup diterima disisi allah pelan pelan, yang penting arah hidupnya bener
Guys, Safiera cewek Indonesia yang SMA di Korea pakai beasiswa, lanjut S1 double major ilmu komputer dan bisnis teknologi di kampus riset top Korea, publikasi jurnal ilmiah tahun ketiga, nulis buku Kimchi Confessions tentang kehidupan nyatanya merantau baru ngobrol sesuatu yang menurut gua adalah salah satu obrolan paling penting yang perlu didengar oleh perempuan muda Indonesia sekarang.
Dan gua mau mulai dari kalimat yang paling nyakitin yang pernah dia terima dari teman sekolahnya sendiri.
"Ngapain belajar capek-capek, bukannya nanti nikah juga digituin?"
Safiera bilang waktu itu dia bingung mau jawab apa. Tapi sekarang setelah dia ngelewatin semua yang dia ngelewatin SMA di Korea, kuliah double major, publikasi jurnal, nulis buku dia punya jawaban yang sangat jelas dan sangat tidak bisa dibantah.
Perempuan yang tidak berpendidikan tidak hanya merugikan dirinya sendiri. Dia merugikan anak-anaknya. Karena ibu adalah madrasah pertama. Sekolah pertama yang pernah dimasuki setiap manusia di muka bumi adalah pangkuan ibunya.
Dan ibu yang tidak berpendidikan akan melahirkan generasi yang tidak berpendidikan. Bukan karena anaknya bodoh tapi karena fondasinya tidak dibangun dengan benar dari awal.
Dan ini bukan opini Safiera semata. Ini fakta yang sudah dibuktikan berkali-kali oleh data pendidikan global. Tingkat pendidikan ibu adalah prediktor terkuat dari tingkat pendidikan anak jauh lebih kuat dari pendapatan keluarga, fasilitas sekolah, atau bahkan tingkat pendidikan ayah.
Tapi gua mau mundur dulu dan cerita soal perjalanan Safiera karena ini yang bikin semua pemikirannya punya bobot yang beda dari sekadar teori.
Safiera bukan anak kaya yang tinggal di Jakarta dengan akses ke semua fasilitas. Keluarganya naik turun secara ekonomi.
Tapi orang tuanya punya satu prinsip yang tidak pernah diganggu gugat apapun yang terjadi dengan keuangan keluarga, pendidikan anak-anak tidak boleh dikompromikan.
Ketika ekonomi lagi di titik paling bawah, prioritas tetap sekolah dan les dan lomba. Karena kata orang tuanya kami tidak bisa mewariskan harta kepada kalian, tapi kami bisa mewariskan pendidikan.
Dan dari situ Safiera dan kakak-kakaknya semua perempuan, semua beasiswa luar negeri, semua jurusan STEM membuktikan bahwa investasi itu benar.
Safiera mulai ikut lomba matematika dari kecil. Dari situ dia ketemu kakak kelasnya yang SMA di Korea. Dari situ dia daftar beasiswa yang sama. Dan dari situ dimulailah perjalanan yang kata Safiera sendiri tidak pernah dia bayangkan seindah dan seberat itu secara bersamaan.
Korea itu bukan seperti di drama. Safiera bilang ini dengan sangat tegas dan sangat perlu didengar oleh siapapun yang punya romantisasi berlebihan tentang Korea dari tontonan K-drama atau K-pop.
Teman-temannya di Korea itu naturally gifted banyak yang memang lahir dengan kapasitas kognitif luar biasa. Tapi yang membuat mereka benar-benar menakutkan bukan kecerdasan bawaannya. Yang menakutkan adalah disiplinnya. Ketika Safiera pulang ke Indonesia liburan, teman-temannya di Korea malah masuk bimbel.
Ketika Safiera main, mereka belajar. Dan ketika Safiera baru mulai belajar dua minggu sebelum ujian dengan penuh persiapan ada teman Korea-nya yang belajar dua hari tapi tetap lebih bagus hasilnya karena fondasi mereka sudah dibangun selama bertahun-tahun tanpa henti.
Dan dari tekanan lingkungan sekeras itulah Safiera menemukan sesuatu yang sangat berharga dia tidak pernah tahu sejauh mana batas kemampuannya sampai dia dipaksa oleh lingkungan untuk mendorong batas itu.
Itu yang dia sebut sebagai hadiah terbesar dari pengalaman Korea. Bukan gelarnya. Bukan jaringannya. Bukan pengalamannya tinggal di luar negeri. Tapi kenyataan bahwa dia sekarang tahu ternyata dia bisa lebih dari yang dia kira.
Dan dari sini Safiera kasih tiga hal yang menurut dia paling menentukan keberhasilan dalam belajar dan ini berlaku untuk siapapun, bukan hanya pelajar beasiswa.
Yang pertama adalah mental baja. Bukan kecerdasan. Bukan bakat. Tapi kemampuan untuk tidak menyerah waktu gagal, waktu nilainya jelek, waktu teman-teman lebih bagus. Daya juang itu lebih penting dari IQ karena IQ tidak bisa berkembang kalau orangnya berhenti sebelum mencapai batasnya.
Yang kedua adalah disiplin. Dan Safiera bilang sesuatu yang sangat mengena dia lebih takut sama orang yang disiplin dan kerja keras daripada orang yang pintar. Karena orang pintar yang tidak disiplin sering berhenti sebelum potensinya keluar sepenuhnya. Tapi orang yang mungkin tidak sepintar dia tapi konsisten dan disiplin mereka secara mengejutkan bisa melampaui si genius yang tidak punya etos kerja.
Yang ketiga adalah time management berbasis prioritas. Safiera bilang dia belajar untuk membedakan mana pelajaran yang butuh 20 persen effort tapi menghasilkan 80 persen hasil dan mana yang butuh effort lebih besar. Tidak semua hal perlu diperlakukan dengan intensitas yang sama. Yang penting adalah tahu mana yang paling menentukan dan fokuskan energi terbesar ke sana.
Dan tentang pertanyaan yang paling sering ditanyakan ke cewek pintar di Indonesia soal jodoh dan nikah dan apakah pendidikan tinggi tidak justru mempersulit mencari pasangan Safiera jawabnya sangat cerdas dan sangat tidak minta maaf.
Dia bilang perempuan yang mengejar pendidikan tinggi sebenarnya sedang melakukan seleksi alamiah terhadap calon pasangannya. Laki-laki yang minder melihat perempuan berpendidikan tinggi itu bukan kerugian bagi perempuan.
Itu informasi gratis bahwa dia bukan orang yang tepat. Karena kalau dari awal dia sudah tidak mendukung semangat belajar pasangannya, bagaimana dia akan mendukung semangat belajar anak-anaknya nanti?
Dan dari perspektif agama pun Safiera punya jawaban yang sangat kokoh. Nabi Muhammad bilang menuntut ilmu adalah kewajiban bagi setiap muslim laki-laki maupun perempuan. Farida. Wajib. Bukan anjuran. Bukan opsional. Wajib.
Dan ada bidang-bidang ilmu yang secara spesifik harus diisi oleh perempuan kedokteran kebidanan, pendidikan di sekolah perempuan, dan sebagainya. Jadi perempuan yang tidak berpendidikan bukan hanya merugikan dirinya dia meninggalkan kekosongan yang tidak bisa diisi oleh siapapun selain dirinya.
My wife and I have been married for 30 years. I’m 63 this year and worked as a financial analyst at JPMorgan Chase. During my retirement party, my daughter told me she wanted to learn about investing, so I started writing a simple investment guide for her. My wife suggested that I share this guide for free on Threads. If you’re interested in investing, please like and follow. Hope this guide can be useful to you.
Same here kak!
I just finished my Master Program di Hitotsubashi University Jepang. Salah satu Professorku namanya Prof.Akira Iriye, selalu bilang soal legacy sebagai manusia bukan cuma soal harta dan juga ilmu. Tapi seberapa besar sebagai seorang insan dan akademisi kita bisa bermanfaat bagi orang banyak. Hal itu yang bikin gue selalu mau lakuin. leaving marks di manapun gue berada dengan menjadi bermanfaat. Bisa untuk diri gue sendiri dulu misalnya..
Pingin cerita deh pengalaman belajar yg berkesan di negeri orang.
Waktu saya s2 di Goldsmiths University of London, saya punya dosen yg saya kagumi. Namanya sampe saya tulis di essay Chevening saya. Berharap suatu saat bs dibimbing sama beliau.
Sayangnya pas saya sudah diterima, saya cuma bisa merasakan satu semester kelas beliau, krn setelah itu beliau uda bersiap2 mau pindah ke New Zealand.
Ada dua momen yg bikin saya selalu ingat sama beliau. Yg pertama ketika kami, mahasiswa S2, baru awal2 masuk kelas. Anak Flores, NTT, ini tetep aja minder. Bahkan pas mau ngasi pertanyaan, saya sempet blg, 'I'm sorry, Professor, this might sound like a stupid question..'
Belum selesai ngmg, beliau memotong kata-kata saya dgn blg, 'Maria, there is no stupid question. We're all here learning from each other. And please call me by my first name. Aeron.'
Saat denger itu, rasa takut saya langsung hilang dan ga pernah ngerasa grogi lagi.
Pengalaman kedua, waktu kami sekelas nge-beer bareng seusai jam kelasnya beliau. Sembari ngobrol, beliau ini blg, kalian besok2 kalo sudah jadi sukses di bidang kalian masing-masing, jangan lupa kontribusi ke masyarakat. Yg saya inget kata-kata dia tuh, 'Knowledge is a responsibility'
Bahwa menjadi pintar artinya itu sebuah privilege yang ga boleh disia-siakan untuk kepentingan pribadi.
Keren sih. Bangga banget pernah ketemu orang2 kaya gini.