Ndak salah mahasiswa yang membubarkan acara Total Politik di UGM di tengah situasi ini.
Di tengah situasi jomplang informasi dan suasana batin antara mahasiswa dan pejabat yang jadi pembicara.
Mas @budimandjatmiko@NusronWahid1 dan Sudaryono datang dengan kesadaran bahwa kebijakan pemerintah di sisi yg benar, dan di pikiran mereka, sebagai bagian kekuasaan, semua pelaksanaan di bawah berjalan benar. Menguntungkan rakyat dan negara.
Sementara mahasiswa UGM tsb punya kesadaran berbeda, bertolak belakang malah dengan para pejabat tsb. Kebijakan pemerintah di sisi yg salah, dan realitas di lapangannya nyata banyak penyimpangan. Merugikan rakyat dan negara.
Ciri kekuasaan itu sama-sama kita tahu lah mas Budiman dkk, selalu merasa benar, walau ditunjukan fakta ada penyimpangan di lapangan.
Pengadaan Motor BGN, Tata Kelola MBG, sudah terlihat ganjil, bau busuk menyengat, tapi kan kalian semua waktu itu tetap membela bahwa yang dilakukan BGN benar, bahwa MBG ini berjalan baik dgn tujuan mulianya. Sampai akhirnya semua kasep, uang rakyat di maling, kalian yg membela pun tertipu.
Sama dengan KDMP, sudah banyak bau busuk menyengat, dari pengadaan Truk yang serampangan, bangunan KDMP yang asal-asalan, rekruit manager yang bertentangan dengan UU, bahkan tidak ada sama sekali ruh koperasi di KDMP, kalian pejabat kan tetap buta tuli. Tetap membela program KDMP itu di jalan yang benar.
Di sana masalahnya, memang posisinya mahasiswa dan kalian pejabat saling berhadapan, tidak dalam sisi yang sama.
Mahasiswa menyuarakan amanat kesusahan rakyat, problem nyata di lapangan, kalian pejabat sesuai tabiatnya tentu membela tuan kalian yang memberi jabatan, yaitu Presiden.
Pertanyaannya, sebagai mantan aktivis mahasiswa, apakah tidak tersisa sedikit pun pada diri kalian, sensitifitas atas kesusahan dan masalah yang dirasakan rakyat di bawah?
Coba lah jujur dengan Nurani.
Ini saya lampirkan beberapa pengaduan yang masuk ke saya terkait program strategis Presiden. Pengaduan-pengaduan semacam ini saya teruskan ke kawan di kabinet yg saya yakin lurus, tidak membela membabi buta. Tapi ya tidak berdaya juga.
Mungkin jika Mas Bud, Nusron, dan Sudar punya akses lebih kuat ke Presiden, coba sampaikan ini. Jangan hanya puja puji di depan Presiden, coba berani sampaikan "Pak Presiden, program bapak MBG dan KDMP jadi bancakan di bawah, lebih baik hentikan dulu, evaluasi total".
Jika kalian berani sampaikan itu ke Presiden, maka barulah bisa duduk bersama mahasiswa, berdialog untuk perbaikan negeri ini.
Salam
FK
Malapetaka Akibat Pembantaian Burung Emprit
Tiongkok pada 1958–1962, Kampanye Empat Hama yang digalakkan pada era Mao Zedong berubah jadi bencana ekologi yang menewaskan puluhan juta orang. Sasaran perburuan saat itu adalah tikus, lalat, nyamuk, dan burung gereja atau emprit Passer montanus.
Khsus Emprit, ia dituduh memakan gabah 4,5 kg per ekor per tahun. Mao memerintahkan seluruh rakyat membunyikan kentongan, menggedor panci, dan menakut-nakuti burung agar tidak bisa hinggap sampai mati kelelahan.
Hasilnya memang spektakuler. Dalam waktu singkat, populasi emprit di Tiongkok nyaris punah. Data dari Chinese Academy of Sciences menyebut 1,96 miliar burung dibunuh hanya pada 1958.
Poster propaganda menampilkan anak sekolah menyerahkan karung penuh bangkai emprit. Untuk sementara, hasil panen 1958 naik karena cuaca bagus dan tenaga kerja dikerahkan besar-besaran.
Tapi alam tidak diam. Emprit ternyata bukan cuma pemakan biji. Seekor emprit dewasa butuh 1.200–2.500 serangga per musim untuk memberi makan anaknya. Sekali emprit hilang, populasi serangga pemakan tanaman meledak tanpa predator.
Tahun 1959–1961, wabah belalang (Locusta migratoria manilensis) menghantam Tiongkok dalam skala yang belum pernah ada. Tanpa emprit, walang sangit, ulat grayak, dan wereng kehilangan musuh alami.
Luas serangan hama pada 1960 mencapai 54 juta hektar, naik 300% dibanding 1957 menurut data Kementerian Pertanian Tiongkok. Produksi padi nasional anjlok dari 200 juta ton tahun 1958 jadi 143,5 juta ton tahun 1960, turun 28% dalam dua tahun. Gandum turun 25%.
Di provinsi Henan, Shandong, dan Anhui, gagal panen 40–60%. Ini bukan sekadar statistik. Di lapangan artinya ladang kosong, lumbung habis, dan rakyat makan kulit pohon, tanah liat, sampai kasus kanibalisme tercatat di laporan internal Partai.
Puncaknya adalah Bencana Kelaparan Besar Tiongkok 1959–1961. Gabungan kebijakan Lompatan Jauh ke Depan, pelaporan hasil palsu, cuaca buruk, dan hama yang tak terkendali menewaskan 15–45 juta orang.
Demografer Ashton dkk 1984 menghitung angka 30 juta kematian berlebih. Frank Dikötter dalam Mao’s Great Famine menyebut 45 juta. Penyebab langsung kematian adalah busung lapar, edema, dan penyakit terkait gizi.
Di desa-desa, angka kematian melonjak dari 11 per 1000 jadi 25–60 per 1000. Bayi lahir turun dari 34 juta tahun 1957 jadi 13,8 juta tahun 1961. Satu generasi hilang.
Tahun 1960, ilmuwan zoologi Tso-hsin Cheng membuktikan di depan Mao bahwa emprit memakan lebih banyak serangga daripada biji.
Mao lalu memerintahkan stop kampanye burung gereja dan menggantinya dengan kepinding. Tapi terlambat. Rantai makanan sudah runtuh.
Tiongkok akhirnya mengimpor 250.000 ekor emprit dari Uni Soviet tahun 1960 untuk restorasi ekologi. Butuh 5–7 tahun populasi burung dan keseimbangan predator-hama pulih. Produksi pangan baru kembali ke level 1957 pada tahun 1965.
Pelajaran pahitnya jelas: pertanian bukan perang total melawan alam. Satu spesies yang dimusnahkan bisa merobohkan seluruh jaring makanan. Emprit 4,5 kg gabah per tahun memang rugi, tapi belalang bisa menghabiskan 20–40 kg biomassa tanaman per hektar per hari.
Pertanian modern memang berhasil menyelamatkan miliaran nyawa dari kelaparan, tapi tanpa pemahaman ekologi, teknologi justru jadi bumerang. Mao ingin melompat jauh ke depan, tapi justru membuat rakyatnya melompat ke liang kubur.
#LiterasiPertanian #PertanianModern #Ekologi
Di bandingin si sherly tjoanda, bupati Siak ini lebih berbobot dan berisi tapi sayangnya tidak hobi ngonten saja. Beliau lebih memilih focus bekerja.
Berikut profilnya
Nama: Afni Zulkifli
Pendidikan Akademik: Meraih gelar doktor di bidang ilmu administrasi publik, serta aktif mengajar sebagai dosen dan akademisi sebelum menjabat
Karier Jurnalis: Memulai karier profesionalnya sebagai wartawan (jurnalis) dan memiliki rekam jejak panjang di industri media.
Birokrasi & Pemerintah: Berpengalaman sebagai birokrat yang menduduki posisi tenaga ahli, serta sangat vokal menyuarakan isu-isu lingkungan hidup
Banyak orang Jakarta mengenal nama Kampung Melayu cuma sebagai nama salah satu terminal penting di Jakarta Timur, kawasan padat penduduk, atau wilayah rawan banjir karena dilintasi Sungai Ciliwung. Hanya sedikit yang tahu bahwa Kampung Melayu erat kaitannya dengan anak jati Melayu Pattani bernama Wan Abdul Bagus.
Beliau adalah Kapitein der Maleiers yang bertanggung jawab memimpin komunitas etnis Melayu di Batavia pada abad ke-17. Selain penduduk asli Sunda, ketika itu Batavia dipenuhi para pendatang Arab, Bali, Bugis, Eropa, India, Makassar, Maluku, Melayu, Tionghoa, dll. VOC Belanda mengelompokkan mereka berdasarkan asal-usulnya sehingga membentuk kampung-kampung berbasis etnis, salah satunya Kampung Melayu. FYI, Melayu pada masa itu kebanyakan dari Malaka.
Wan Abdul Bagus merupakan sosok yang cerdas dan piawai, baik administratif maupun tugas lapangan. Beliau mengabdi kepada VOC Belanda sebagai juru tulis, penerjemah, dan negosiator, dan perwira militer. Menjelang akhir hayat beliau sempat diutus ke Sumatra Barat sebagai regeringscommisaris (semacam duta perwakilan).
Wan Abdul Bagus wafat pada tahun 1716, meninggalkan warisan tanah yang sangat luas bagi komunitasnya. Kampung Melayu yang berlokasi strategis menjadi wilayah penghubung antara pedalaman dan pusat Batavia. Sungai Ciliwung saat itu bukan sekadar sungai, tapi salah satu "jalan raya" utama orang dan barang.
Komunitas Melayu memiliki peran penting dalam perdagangan dan transportasi sungai. Fun fact: beberapa kilometer ke arah hulu Sungai Ciliwung, ada wilayah bernama Kalibata. Pada era kolonial wilayah ini menjadi sentra pembuatan baksteen (bahasa Belanda) atau batu bata. Sungai Ciliwung digunakan untuk mengangkut batu bata menuju pusat Batavia yang sedang berkembang pesat.
Gak jauh dari Kalibata, ada wilayah yang dulu masih lingkup Kampung Melayu bernama Cawang. Asal kata Che Awang Abdullah yang masih anak buah Wan Abdul Bagus. Che Awang Abdullah juga mengabdi kepada VOC Belanda sebagai juru tulis dan penerjemah.
Di Jakarta banyak nama yang berubah atau hilang, tapi kawasan ini bertahan membawa identitas asal komunitasnya. Hal ini menunjukkan betapa kuatnya jejak masyarakat Melayu di Batavia tempo dulu. Etnis Melayu pada akhirnya berasimilasi dengan suku-suku lainnya di Batavia lalu melahirkan suku baru: Betawi.
Con Weather Replay, la nueva app de @CopernicusECMWF puedes reconstruir las condiciones meteorológicas de cualquier lugar del mundo hora a hora desde 1940 hasta hoy.
https://t.co/sGFQ5AfM8W
Singapore’s Foreign Minister, Dr Balakrishnan casually explaining how he built his own AI agent (a 2nd brain for diplomacy) using Claude & WhatsApp integration etc. on a Raspberry Pi
“You cannot govern a technology you have only been briefed on.” 🇸🇬
Revisi daftar 40 homeless media yang disebut Qodari sebagai mitra baru pemerintah. Lengkap sama username IG mereka.
Ada yang ketinggalan 1 nih. Gue barusan dengar ulang, ternyata The Maple Media juga ikut main ke Bakom.
1. Folkative (folkative)
2. Indozone (https://t.co/NJlwBAjejI)
3. Dagelan (dagelan)
4. Indomusikgram (indomusikgram)
5. Infipop (https://t.co/PbTKRGp7wX)
6. Narasi (narasinewsroom)
7. Muslim Folks (https://t.co/U9mlfHnbZE)
8. USS Feed (ussfeeds)
9. Bapak-Bapak ID (bapak2id)
10. Menjadi Manusia (https://t.co/Xu4fYnLGiT)
11. GNFI (gnfi)
12. Cretivox (cretivox)
13. Kok Bisa? (kokbisa)
14. Taubatters (taubatters)
15. Pandemic Talks (pandemictalks)
16. Kawan Hawa (kawanhawa)
17. Volix (https://t.co/444OLyexcG)
18. Ngomongin Uang (ngomonginuang)
19. Big Alpha (bigalphaid)
20. Good Stats (https://t.co/nE8osOm0eW)
21. Hai Dudu (hai.dudu)
22. Proud Project (proud.project)
23. Vibiz (vibizmedia)
24. Unframed (https://t.co/MPq4Qck8fF)
25. Kumpul Leaders (kumpul.leaders)
26. CXO Media (cxomedia)
27. The Maple Media (themaplemedia)
28. How to be Nothing (https://t.co/DmPZAxjgm7)
29. Everest Media (https://t.co/DonW9uvMRQ)
30. Geometry Media (geometrymedia)
31. Folks Daily (?)
32. Dream (dreamcoid)
33. Melodi Alam (melodi.alam)
34. NKTSHI (?)
35. Modestalk (https://t.co/2PEte60wy3)
36. Lead Media (https://t.co/SPJkrCZqj3)
37. Nalar TV (redaksinalartv)
38. Mahasiswa dan Jakarta (mahasiswadanjakarta)
39. Notch Plus (?)
40. Mature Indonesia (mature.idn)
Coba dong gaes sambil dibantu dengar, ada yang salah ejaan gak kira-kira? Gue jujur gak hafal semua homeless media yang disebut Qodari.
Tinggal Folks Daily, NKTSHI, dan Notch Plus yang masih belum jelas. Gak tahu deh penulisannya yang benar gimana.
Notes: Buat homeless media yang merasa gak datang di Konferensi Pers Bakom RI, boleh dong klarifikasi langsung. Biar sekalian protes karena namanya dicatut Qodari.