Adik gue nolak beasiswa ke luar negeri.
Nilainya 180 juta, biaya hidup katanya dibayarin 4 tahun.
Bokap nelfon gue, minta gue bujuk dia jangan sia-siain.
Di grup keluarga besar dia langsung dibilang gak tau diri.
Dia gak ngejawab, cuma nunjukin satu tabel rincian ke gue.
Baris paling bawahnya bikin gue ngerti kenapa.
Jadi beasiswa itu totalnya 180 juta buat 4 tahun.
Kedengerannya gede banget, gue aja sempet ngerasa dia gila.
Ternyata dari 180 juta itu, 150 juta dibayarin langsung ke kampus.
Buat biaya kuliah dan semua urusan administrasi.
Yang bener-bener masuk ke rekening adik gue cuma 30 juta.
Buat hidup selama 4 tahun di kota yang mahalnya luar biasa.
Gue coba itung sendiri biar yakin.
30 juta dibagi 48 bulan, hasilnya 625 ribu per bulan.
Kota tujuan dia, sewa kamar paling murah 4,2 juta sebulan.
Itu baru kamar, belum makan, transport, sama uang buku.
Artinya tiap bulan dia kurang 3,5 juta lebih.
Dan dia belum punya penghasilan sepeser pun.
Gue sampe ngulang itungannya tiga kali biar gak salah.
Gue sempet nanya, mungkin bisa minta kiriman dari bokap.
Adik gue cuma ketawa kecil pas gue ngomong gitu.
Bokap pensiunan, tiap bulan terimanya 2,8 juta.
Itu pun udah habis buat makan dan obat nyokap.
Nyokap punya gula darah, tiap bulan harus beli obat rutin.
Kalau adik gue berangkat, bokap yang harus nombok.
Bahkan lebih besar dari gajinya sendiri.
Adik gue udah itung semua jauh sebelum gue.
Dia simpen tabelnya di laptop, lengkap sama nomor telepon pengelola asrama.
Dia tau persis berapa yang harus dikeluarin bokap kalau dia nekat.
Totalnya 168 juta selama 4 tahun.
Jumlah yang sama persis dengan harga rumah kami sekarang.
Rumah satu-satunya yang bokap punya.
Gue tanya, kenapa dia gak bilang ini dari awal ke semua orang.
Dia bilang, capek jelasin ke orang yang cuma denger angka 180 juta.
Orang cuma denger kata beasiswa, terus udah selesai.
Gak ada yang tanya berapa yang beneran nyampe ke tangan dia.
Padahal itu bedanya gede banget.
Dan itu yang nentuin dia bisa hidup atau nggak.
Dia juga ngitung ulang jalur yang lebih realistis.
Kerja di kota asal 2 tahun, nabung 2 juta sebulan.
Setelah 24 bulan dia pegang 48 juta.
Dengan itu dia bisa kuliah di dalam negeri sambil kerja part time.
Kampus dalam negeri yang dia incer, biayanya 9 juta per semester.
Tanpa bokap nombok sepeser pun.
Dan gelarnya tetep didapet, cuma jalannya lebih lama.
Seminggu setelah nolak, tante gue masih ngomongin dia di grup.
Bilangnya anak sekarang gampang nolak rezeki.
Adik gue cuma bales singkat, gak jelasin lagi.
Padahal di HP dia, tabel itu masih kesimpen.
Gue yang akhirnya screenshot dan kirim ke grup keluarga.
Sejak itu grup gak ada yang berani nyinggung lagi.
Dari situ gue belajar satu hal yang gak pernah diajarin.
Angka gede di depan itu bukan duit yang beneran lo pegang.
Beasiswa, gaji, bonus, semua suka dihias biar keliatan banyak.
Yang penting selalu angka yang masuk ke rekening lo.
Dan selisihnya bisa lebih gede dari yang lo kira.
Adik gue paham ini di umur 21.
Sekarang dia udah kerja di kota, gaji 5,1 juta.
Tiap bulan dia setor 2 juta ke rekening khusus yang gak dia sentuh.
Rekening itu dia kasih nama beasiswa versi sendiri.
Targetnya 48 juta dalam 2 tahun, persis kayak tabelnya dulu.
Gue liat rekening tabungannya bulan lalu, udah 14 juta.
Padahal dia baru kerja 7 bulan.
Dia gak pernah nyesel nolak.
Banyak yang ngira nolak beasiswa itu buang rezeki.
Padahal kadang terima sesuatu yang gede juga ada harganya.
Dan harganya bisa ditanggung orang yang lo sayang.
Adik gue milih jalan yang lebih lama tapi gak nyeret siapa-siapa.
Share ini ke temen yang lagi pusing soal biaya kuliah.
Biar tau, gak semua yang keliatan gratis itu beneran gratis.
*Suara dari Kamar Nomor 4*
Aku bekerja sebagai petugas jaga malam di sebuah penginapan tua di pinggiran kota. Bangunannya sudah ada sejak zaman kolonial. Cat dinding mengelupas, lantai kayu selalu berderit, dan tamu yang datang biasanya hanya sopir truk atau orang yang kebetulan kemalaman.
Ada satu aturan yang selalu diingatkan pemilik penginapan kepadaku.
"Kalau dengar suara dari Kamar 4 setelah jam 2 pagi, jangan pernah buka pintunya."
Aku mengira itu hanya cerita untuk menakut-nakuti pegawai baru.
Malam itu hujan turun deras. Jam menunjukkan pukul 02.17 ketika telepon resepsionis berdering.
Aku mengangkatnya.
Tidak ada suara.
Hanya napas.
Pelan.
Berat.
Seperti seseorang berdiri tepat di depan gagang telepon.
"Hallo?"
Tidak ada jawaban.
Klik.
Sambungan terputus.
Beberapa menit kemudian telepon berdering lagi.
Kali ini suara perempuan terdengar sangat pelan.
"Tolong..."
Aku langsung melihat papan kunci kamar.
Kamar 4 tidak ada penghuninya.
"Tolong apa, Bu?"
"Ada seseorang di bawah tempat tidur saya..."
Suara itu bergetar.
Aku berdiri.
Jantungku mulai berdetak lebih cepat.
"Nomor kamar berapa?"
Beberapa detik hening.
Lalu ia menjawab:
"Empat."
Seketika bulu kudukku berdiri.
Aku mencoba menelepon kamar itu menggunakan telepon internal.
Tidak tersambung.
Karena rasa penasaran yang lebih besar daripada rasa takut, aku mengambil senter dan berjalan menuju lorong kamar.
Lorong itu panjang dan gelap.
Lampu-lampu kuning berkedip pelan.
Saat sampai di depan Kamar 4, aku mendengar sesuatu.
Ketukan.
Dari dalam.
Tok.
Tok.
Tok.
Perlahan.
Seperti seseorang mengetuk lantai.
Aku menelan ludah.
"Kamar 4?" panggilku.
Tidak ada jawaban.
Lalu terdengar suara perempuan yang sama.
Sangat pelan.
"Jangan masuk..."
Aku membeku.
"Kenapa?"
"Tolong pergi..."
Suara itu berubah menjadi tangisan.
Kemudian terdengar suara lain.
Suara laki-laki.
Berat.
Dekat.
Terlalu dekat.
Padahal aku berdiri sendirian di lorong.
"Dia bisa melihatmu."
Aku langsung mundur.
Napas terasa sesak.
Senter di tanganku mulai berkedip.
Dan saat itulah aku melihat sesuatu di bawah celah pintu.
Rambut.
Hitam.
Panjang.
Perlahan merayap keluar dari bawah pintu.
Seolah ada seseorang berbaring tepat di baliknya.
Aku lari.
Benar-benar lari.
Kembali ke resepsionis.
Begitu sampai, aku melihat buku tamu lama yang terbuka sendiri di atas meja.
Padahal sebelumnya tersimpan di lemari.
Di salah satu halaman ada foto koran yang ditempel.
Berita tahun 1987.
Tentang seorang wanita yang dibunuh di Kamar 4 oleh suaminya.
Mayatnya ditemukan dua hari kemudian.
Berbaring di lantai.
Sementara pelakunya bersembunyi...
Di bawah tempat tidur.
Tanganku gemetar.
Aku membaca kalimat terakhir dalam berita itu.
"Korban sempat menelepon resepsionis dan mengatakan ada seseorang di bawah tempat tidurnya."
Aku langsung menutup buku itu.
Lalu telepon berdering lagi.
Jam menunjukkan 02.47.
Dengan tangan gemetar aku mengangkatnya.
Tidak ada suara.
Hanya napas.
Lalu suara perempuan itu kembali terdengar.
Kali ini tepat di telingaku.
Sangat jelas.
Sangat dekat.
Padahal tidak mungkin ada orang di sana.
"Aku sudah keluar dari kamar."
Di belakangku terdengar suara langkah kaki.
Pelan.
Basah.
Mendekat.
Aku tidak berani menoleh.
Karena aku sadar satu hal.
Suara napas di telepon itu sudah berhenti.
Tetapi aku masih bisa mendengarnya.
Tepat di belakang leherku.