Menurut berita dari Kompas (13 Feb 2026) dan Tempo (12 Feb 2026), Jaksa Agung ST Burhanuddin mengakui adanya penyalahgunaan aset sitaan oleh oknum jaksa, seperti mobil dan apartemen, dan berjanji menindak tegas. Sumber: https://t.co/BJcxLLB6W0 dan https://t.co/rVxupFg90Z.
Secara hukum, berdasarkan UU No. 8/1981 (KUHAP) dan Peraturan Kejaksaan No. 10/2019, aset sitaan korupsi harus dikelola negara (misal dilelang), bukan diakuisisi pribadi oleh staf. Hal ini dilarang karena termasuk penyalahgunaan wewenang.
Engkaulah yang bilang “mintalah padaku akan kuberi” maka aku minta ya Allah.
Wahai penenangku dalam kacauku.
Wahai penjagaku dalam sulitku.
Aku adukan urusan yang engkau sudah tahu, tiada padaku atasnya sabar atau ketabahan.
#PamerAjaDulu
Rp 5,4 TRILIUN.
Itu harta salah satu menteri di kabinet sekarang.
Datanya publik. Tapi siapa yang pernah cek langsung?
Gue bikin website biar gampang -> kawalharta 💰
Sesudah menghilangkan kesal pada Fedi, dan sesudah melakukan refleksi lebih mendalam pada film Pangku, inilah ulasannya. Perlu beberapa kali menulis ulang agar tertuang semua yang dirasakan saat menonton.
Ada film yang selesai kita tonton, lalu kita pulang dan hidup seperti biasa. Ada juga film yang membuat kita pulang dengan cara pandang yang berubah. Pangku berada di kelompok kedua.
Dalam debut penyutradaraannya ini, Reza Rahadian memilih menaruh kamera sebagai saksi yang tenang. Di sudut-sudut Pantura, di antara perempuan yang memikul beban rumah tangga sendirian, di warung-warung kecil yang menjadi ruang bekerja sekaligus ruang tawar-menawar martabat.
Di sana kita bertemu Sartika, seorang ibu yang harus menghidupi diri dan anaknya di tengah krisis ekonomi, tanpa pegangan selain tekad untuk bertahan. Kita melihat dilemanya sebagai ibu tunggal dengan perasaan sepi dan kegelisahan akan dokumen yang tak lengkap. Di titik itu film ini mengingatkan kita bahwa keleluasaan memilih adalah sesuatu yang ikut direnggut oleh kemiskinan.
Reza tidak menampilkan fenomena “kopi pangku” dalam film ini sebagai sensasi, melainkan sebagai gejala dari struktur yang timpang. Perempuan dijerumuskan ke dalam keterpaksaan yang berisiko, sementara laki-laki kerap digambarkan punya kelapangan yang lebih besar untuk datang dan pergi. Walau demikian, film ini tidak menghakimi para tokohnya, tapi memperlihatkan bagaimana lingkungan dan ekonomi bisa menyudutkan seseorang ke pojok yang sempit.
Di balik semua itu, terlihat betapa serius Reza menggarap karyanya. Christine Hakim mengatakan bahwa momen nafasnya pun diatur oleh Reza. Ia juga ingat terakhir kali ia disutradarai sedemikian ketatnya adalah oleh almarhum Teguh Karya. Ia benar. Ada ketelitian dan obsesi pada kesempurnaan dalam pembuatan film ini yang mengingatkan pada tradisi Teguh Karya.
Perhatian pada detail membuat dunia Pantura dalam film ini terasa dekat. Kulit yang tampak lengket oleh keringat, pakaian yang terlihat benar-benar usang, hingga ornamen kecil di warung dan rumah. Semuanya membuat kita merasakan gerahnya udara pesisir dan lelah yang menempel di tubuh para tokohnya. Tidak ada glamor yang dipaksakan, yang ada adalah keotentikan yang sering menyesakkan.
Secara alur, Pangku bergerak pelan. Dialognya irit, tapi justru karena jarang, tiap kalimat jadi terasa penting. Seperti pemahat yang mengikis batu karena yakin bentuk patungnya sudah ada di dalam sana, Reza dan tim menyingkirkan kata-kata yang tidak perlu. Sisanya diserahkan pada tatapan, gestur, dan keheningan.
Di sisi peran, Claresta Taufan memberi tubuh dan jiwa pada sosok Sartika. Rapuh dan lelah, tapi enggan menyerah. Christine Hakim adalah Christine Hakim, seorang maestro. Ia memberikan lapisan emosi yang halus pada tokoh Bu Maya. Hangat dan manipulatif dalam satu tarikan nafas. Sementara Shakeel Fauzi sebagai Bayu menjadi pintu empati penonton terhadap anak-anak yang tumbuh dalam keluarga yang “tidak lengkap” di mata masyarakat. Fedi Nuril kembali menambah lapisan dilema moral dalam cerita.
Bagi saya, film tidak punya kewajiban untuk mendidik. Tugas utamanya adalah membangkitkan emosi yang membekas, entah itu tawa, takut, haru, atau geram. Tetapi ketika emosi itu membuat kita merenungkan cara kita memperlakukan ibu-ibu tunggal yang dipinggirkan, anak-anak dengan hak-hak yang diremehkan, dan mereka yang terpinggirkan tanpa dukungan, di situlah film ini berperan lebih jauh sebagai medium pengingat dan pembuka kesadaran.
Pangku tidak memberi kita daftar pesan moral, tapi memberi kita pengalaman. Dari pengalaman itulah, pelan-pelan, kesadaran sosial ikut terbangun. Maka untuk itu, kita berterima kasih kepada Reza, seluruh aktor dan awak yang telah menghadirkan film ini bagi bangsa. Maju terus perfilman Indonesia!
https://t.co/L5xAE4jGEO
Hasil tes DNA terhadap dua kerangka manusia yang ditemukan di gedung di Kwitang, Kecamatan Senen, Jakarta Pusat, akhirnya diumumkan. Dua kerangka itu dipastikan adalah Reno Syahputra Dewo dan Muhammad Farhan Hamid.
"Dari hasil pemeriksaan bahwa nomor postmortem 0080 cocok dengan antemortem 002 sehingga teridentifikasi sebagai Reno Syahputradewo anak biologi dari Bapak Muhammad Yasin," kata Karo Labdokkes Polri, Brigjen Sumy Hastry Purwanti, di RS Polri, Kramat Jati, Jakarta, Jumat (7/11).
"Dari hasil pemeriksaan bahwa nomor postmortem 0081 cocok dengan antemortem 001 sehingga teridentifikasi sebagai Muhammad Farhan Hamid," tambah dia.
Sebelumnya, dua kerangka manusia tersebut pertama kali ditemukan oleh tim teknis gedung yang hendak mengecek konstruksi gedung untuk dilakukan renovasi. Renovasi dilakukan karena gedung itu sempat terbakar ketika terjadi demo yang berujung kericuhan di Kwitang.
Dua kerangka manusia itu lantas dikaitkan dengan Reno dan Farhan yang sempat dilaporkan hilang setelah demo. Keluarga dari Reno dan Farhan lalu diambil sampelnya untuk kepentingan tes DNA.
📸: Dok. Instagram @/kontras_update.
Follow WhatsApp Channel kumparan untuk dapat Informasi terpercaya dikirim langsung ke WhatsApp kamu. Ketik https://t.co/LTFgN0m78w di browser kamu sekarang, agar bisa share informasi tanpa ragu.
#newsupdate #update #news #oneliner #kwitang #polisi #konpers #kerangka #gedungkwitang #demo #info #infoterkini #berita #beritaterkini #bicarafaktalewatberita #kumparan
“Jangan sampai Kader- kader Banser menggorok leher kalian. Halal darah kalian.”
They are openly threatening to slit people’s throat.
Openly saying that the murder would be justified.
I am a firm believer that Islamophobia is a rational fear, because what do you mean I’m not supposed to fear people like this?
What do you mean I deserve to be killed if I were to mock your beliefs?
And watch, nothing is going to be done to this guy because the vast majority are supposed to bow down to these crowds.
Absolutely sickening.
✊ Athletic stands with Palestine. #StopTheGenocide 🇵🇸
#Athletic125 ambassador @HoneyThaljieh, Palestinian refugees in the Basque Country, and @UNRWA representatives will receive a show support at San Mames before Saturday's match against @RCD_MallorcaEN kicks off
🗣️"Saya pernah bermain untuk Prancis dan Manchester United. Saya tahu bahwa sepakbola lebih dari sekadar olahraga. Sepakbola adalah budaya, politik, dan kekuatan,"
🗣️"Dengan cara suatu negara merepresentasikan dirinya di panggung global, sudah saatnya untuk menangguhkan hak tersebut bagi Israel,"
🗣️"Empat hari setelah Rusia memulai perang di Ukraina, FIFA dan UEFA menangguhkan Rusia. Kita sekarang telah memasuki hari ke-716 dari apa yang disebut Amnesty International sebagai genosida. Namun, Israel masih diizinkan untuk berpartisipasi,"
🗣️"Mengapa? Mengapa ada standar ganda? FIFA dan UEFA harus menangguhkan Israel. Klub-klub di mana pun harus menolak bermain melawan tim Israel. Para pemain yang ada di mana pun harus menolak bermain melawan tim Israel,"
- Eric Cantona 🫡
On this day in 2012
Konami merilis salah satu edisi PES terbaik dalam sejarah. 🫡
Dulu bisa main dari pagi sampe maghrib, temen yang punya laptop spek kuat selalu bawa tiap hari, main pas jam istirahat atau jam kosong, stik kalo rusak urunan.
Those days are over. 🥹