Bayangin, tanganmu diborgol, kakimu diiket, terus kamu diceburin ke waduk. Ngga ada yang liat seberapa tersiksanya kamu waktu air mulai penuhin paru paru. Ngga ada yang liat seberapa putus asanya kamu waktu matamu masih bisa natap matahari dan langit biru, tapi kamu sadar, kamu ngga bisa ngapa ngapain. Alm Bapak Sumarna, security Waduk Jatiluhur yang meninggal. Dia meninggal karena berupaya membubarkan kerumunan anak muda tapi dia dilakban dan diceburkan ke waduk. Jasadnya baru ditemukan jam 11.00 Katanya para pelaku masih SMP
semoga seluruh pelaku segera ditangkap dan diproses sesuai hukum yang berlaku. @prabowo@ListyoSigitP@DivHumas_Polri@DediMulyadi71 bantu di followup bang budi @BudiBukanIntel
Ada yang pake Nex Crossover?
Secara harga motor ini lebih mahal dari pada mbit strit, kalau secara kualitas mah ga usah ditanya yak. 😅
Kayaknya cuma motor dari Suzuki aja ya yang masih ada engkol "kick stater", sedangkan merk lain udah pada gak ada semua. Padahal kick stater ini berguna banget kalau dalam kondisi darurat & bokek. Awoakakaa
Literasi Kita harus ditingkatkan!!!
Seorang Ayah di Bengkalis Sedih,mengeluh di Media Sosial karena Putri Kesayangannya katanya "Tidak Lulus" kata Sang Ayah.Padahal Kalau dibaca Dengan Teliti dengan literasi yang baik itu adalah Lulus, karena tidak termasuk siswa/i yang tidak lulus Coba anda baca surat pengumuman hasil kelulusan berikut ini dan berikan komentar di ruang komentar.
menurut kalian gimana guys?
sc:threadssa.nde841
Dulu ada laki2 bercerita soal gaji 3 juta, lalu direndahkan sampai serendah2nya kalau uang sgtu cma untuk perawatan hewan-nya.
Hari ini ada suami bercerita kalau istrinya menggunakan pinjol 300 juta, tapi tetap mendapatkan reaksi jelek krna mau berpisah.
Laki2 katanya jangan suka menyimpan dan menahan emosi dalam dirinya. Harus berani bercerita apa yang dia rasakan.
Tapi ketika laki2 bercerita…dia tetap disalahkan walaupun dia benar.
Sudah benar laki2 jangan bercerita apapun di sosmed.
Benarkah Nabi Mengabarkan Yahudi Israel dan Syiah Iran Akan Bersatu Mengikuti Dajjal?
Belakangan ini beredar kembali postingan yang mengaitkan konflik Israel–Amerika melawan Iran dengan sebuah hadis dari Sahih Muslim. Hadis yang sering dikutip adalah:
يَتْبَعُ الدَّجَّالَ مِنْ يَهُودِ أَصْفَهَانَ سَبْعُونَ أَلْفًا عَلَيْهِمُ الطَّيَالِسَةُ
Artinya:
“Dajjal akan diikuti oleh tujuh puluh ribu orang Yahudi dari Isfahan yang mengenakan ṭayālisah (sejenis jubah atau selendang).”
(HR. Muslim)
Hadis ini memang sahih dan termasuk hadis eskatologis, yaitu hadis yang berbicara tentang fitnah akhir zaman.
Masalahnya bukan pada hadisnya.
Masalahnya pada narasi yang dibangun di sekeliling hadis ini.
Sebagian orang kemudian menyimpulkan:
“Tidak usah heran dengan perang hari ini. Sekarang saja mereka konflik tapi nanti mereka akan kompak menjadi musuh Islam. Rasulullah sudah mengabarkan bahwa Yahudi dan Syiah pada akhirnya akan bersatu mengikuti Dajjal.”
Sekilas terdengar meyakinkan.
Padahal kalau kita baca hadisnya dengan teliti, narasi ini tidak berasal dari hadis tersebut.
Nabi tidak pernah menyebut Syiah
Hadis itu hanya mengatakan:
“Yahudi dari Isfahan.”
Memang benar Isfahan hari ini berada di wilayah Iran.
Dan benar pula Iran modern mayoritas bermazhab Syiah.
Namun menyimpulkan bahwa hadis itu berbicara tentang Syiah adalah lompatan logika yang terlalu jauh.
Pertama, penyebutan Isfahan dalam hadis itu bersifat geografis, bukan ideologis atau mazhab.
Kedua, siapa yang bisa menjamin bahwa wilayah tertentu akan tetap berada di bawah identitas mazhab yang sama hingga akhir zaman?
Sejarah menunjukkan wilayah, bangsa, dan mazhab bisa berubah berkali-kali.
Karena itu menjadikan hadis ini sebagai bukti “koalisi Yahudi–Syiah” jelas bukan berasal dari teks hadis, melainkan dari cara kita menafsirkannya.
Hadis tidak selalu menyebut nama bangsa secara eksplisit
Dalam hadis lain tentang akhir zaman disebutkan bahwa pengikut Dajjal memiliki wajah:
“seperti perisai yang dipukul.”
Sebagian ulama klasik mencoba memahami deskripsi ini.
Misalnya Ibn Kathir berpendapat bahwa kemungkinan yang dimaksud adalah bangsa Turk.
Tetapi penting dicatat:
Nabi tidak pernah menyebut kata “Turk” dalam hadis itu.
Itu adalah interpretasi ulama, bukan teks hadis.
Dan istilah Turk dalam literatur klasik juga bukan berarti negara Turki modern.
Yang dimaksud adalah bangsa-bangsa Turkic di Asia Tengah, suku-suku nomadik yang hidup di wilayah luas seperti Turkestan dan Transoxiana.
Ini menunjukkan satu hal penting:
tafsir ulama selalu terkait dengan konteks zaman mereka.
Nama wilayah dalam hadis tidak sama dengan peta politik modern
Hadis-hadis akhir zaman juga sering menyebut nama wilayah seperti:
Khurasan – Wilayah luas di Asia Tengah dan Timur Persia pada masa klasik, mencakup sebagian besar Iran timur laut, Afghanistan, Turkmenistan, Uzbekistan, dan Tajikistan.
Syam – yang dulu meliputi Suriah, Palestina, Yordania, dan Lebanon.
Rum – Merujuk pada Kekaisaran Romawi Timur (Bizantium), yang berpusat di Konstantinopel (sekarang Istanbul).
Semua istilah ini adalah geografi dunia klasik, bukan batas negara modern seperti yang kita kenal hari ini.
Batas wilayah dalam sejarah bisa berubah berkali-kali.
Dan bisa saja berubah lagi di masa depan.
Karena itu membaca hadis-hadis ini dengan peta politik hari ini sering kali justru menyesatkan.
Bahaya membaca hadis untuk membenarkan asumsi kita
Masalah terbesar muncul ketika hadis tidak lagi dibaca untuk memahami pesan Nabi, tetapi dipakai untuk menguatkan asumsi dan opini yang sudah kita miliki sebelumnya.
Lalu kita berkata:
“Lihat, Nabi sudah mengabarkan ini sejak dulu.”
Padahal yang terjadi sebenarnya adalah:
kita memasukkan asumsi dan opini kita ke dalam hadis,
lalu mengklaim bahwa itu berasal dari Nabi.
Parahnya lagi asumsi kita itu bisa saja dipenuhi dengan kebencian pada mazhab atau kelompok tertentu.
Ini bukan cara membaca hadis yang sehat.
1/2
Berdukacita yang amat mendalam atas pemergian Wakil Presiden ke-6 Republik Indonesia, Try Sutrisno pada hari ini.
Bagi pihak Malaysia, saya zahirkan simpati dan takziah yang setulusnya kepada keluarga besar Almarhum serta rakyat Indonesia yang sedang berdukacita atas kehilangan seorang sosok negarawan sejati.
🇲🇾🇮🇩
Masih berharap wafatnya Ayatollah Ali Khamenei ini sebagai strategi Iran.
Tapi andai berita itu benar bahwa beliau telah wafat, dunia telah kehilangan salah satu sosok pemimpin besar yang dengan segala keterbatasannya berani berdiri tegak untuk menjaga kehormatan bangsa dan negaranya.
Meski sendiri, berani melawan Zionis Israel dan begajulnya Amerika.
Innalillahi wa inna ilaihi raaji'un.
Allahummaghfirlahu warhamhu wa'afihi wa'fu'anhu.
Selamat jalan, Ali Khamenei.
Matinya Roda Jam’iyyah Kami
Jam’iyyah ini sedang berjalan terbalik. Ketua Umum berkonflik dengan Sekjen dan Bendum. Ketua Umum juga tidak akur dengan Rais ‘Am. Sementara Rais ‘Am sendiri tidak sreg dengan Katib ‘Am (yang kebetulan masih keluarga dekat Ketum).
Akhirnya, surat resmi Syuriyah hanya ditandatangani Rais ‘Am. Surat Tanfidziyah hanya diteken Ketum. Padahal aturan mengharuskan empat tanda tangan: Rais ‘Am, Katib ‘Am, Ketum, dan Sekjen.
Ini bukan lagi soal organisasi yang macet. Ini soal mesin yang mati dan dibiarkan karatan selama berbulan-bulan. Masing-masing kubu berjalan sendiri. Jama’ah Nahdliyin bergerak tanpa arahan, tanpa bimbingan, tanpa kepemimpinan PBNU. Roda terkunci mati.
Wa ba’du, jam’iyyah ini sakit parah. Kehilangan marwah, kehilangan arah. Bukan melayani jama’ah, bahkan menggerakkan roda organisasi saja sudah tak sanggup. AD/ART sudah jadi dokumen mati.
Tagline ingin “menghidupkan kembali Gus Dur”, nyatanya sikap kritis justru hilang sama sekali. Mengaku ingin “governing NU”, tapi tata kelola PBNU sendiri remuk redam. Mengibarkan bendera khittah, malah tercebur dalam kubangan dukung-mendukung Pilpres. Mengaku berkhidmat untuk bangsa, malah gaduh sendiri soal tambang. Bicara ingin membangun peradaban dunia, tapi yang diundang justru tokoh zionis perusak peradaban.
Satu Abad NU bukan dirayakan dengan kejayaan, tapi dilewati dengan perih dan prihatin yang menyesakkan dada.
Mau sampai kapan kondisi jam’iyyah dibiarkan begini….
Al-fatihah untuk Hadratus Syekh Mbah Hasyim Asy’ari dan para muassis NU lainnya 🙏🏻😰
Tabik,
Nadirsyah Hosen
Tempo sudah seperti Detik. Informasinya benar, teks yang diunggah juga faktual, namun konteksnya dicerabut. Dan ini, sih, manipulatif namanya.
Boleh benci Gibran, namanya juga Wapres. Tapi Selvi, Bu Wapres yang sedang memberikan pidato, punya konteks "Anak PAUD". Dimana-mana, anak kecil setaraf PAUD memang harus main, bukannya dipaksa untuk bisa membaca (apalagi mikir rumis fisika).
Tapi social card-nya malah bilang:
"Jangan paksa anak bisa baca, nanti kehilangan masa kecil."
Seharusnya, teksnya begini:
"Jangan paksa anak PAUD bisa baca, nanti kehilangan masa kecil."
Begitupun untuk Gus Ketum. Pertanyaan Tempo ke Gus Yahya, kan, apakah Elham bakal dapat sanksi dari PBNU? Dimana-mana, hanya pengurus yang bisa disanksi oleh atasan. Kalau bukan pengurus, konteks hierarkinya macam mana?
Lantas, kenapa social card-nya begini:
"PBNU tak bisa jatuhkan sanksi untuk Elham Yahya."
Seharusnya, kan, begini:
"Bukan pengurus, PBNU tak bisa jatuhkan sanksi untuk Elham Yahya."
Perkara sanksi sosial, bukankah sudah banyak beredar betapa nyinyirnya gawagis dan nawaning NU terhadap Elham? Kenapa Tempo tidak memerhatikannya? Dari semua protes, kenapa pembingkaian "tak bisa menjatuhkan sanksi" dicerabut dari "hierarki kepengurusan"? Dan kenapa harus Gus Yahya?
Saya bukan penganut teori konspirasi, tapi saya juga nggak percaya dengan sebuah kebetulan yang terlalu rapi. Tempo (dan Detik) sudah sering melakukan ini. Jika bukan pola, lantas disebut apa?
Ada juga yang menormalisasi Tempo:
"Alhamdulillah kena framing. Yang penting Tempo gak salah. Perkara merasa diperlakuman tidak adil, atau di-framing, itu urusan kalian. Sebenarnya situasi ini diciptakan oleh kalian sendiri."
Bagaimana mungkin ketidakadilan dan framing jahat hanya menjadi urusan satu kelompok, sih? Perkara PBNU akhir-akhir ini jadi gremengan nasional, itu perkara lain. Hal itu tidak bisa membenarkan "fitnah."
Kenapa disebut fitnah?
Salah satu pilar demokrasi yang bernama "media" itu diharamkan mencerabut konteks pemberitaan dan membingkainya secara zalim seperti ini. Kedua hal ini masuk kategori hoaks alias fitnah karena merekonstruksi kisah secara sepenggal (partial truth). Maka, kesalahan terbesar Tempo (dan juga Detik) adalah melakukan "dua dosa" jurnalisme tersebut.
Tidak etis pilar demokrasi melakukan pembingkaian sejahat ini. Lebih jahat lagi jika memang dilakukan secara sengaja. Tak kalah jahat: memaklumi Tempo hanya karena sudah benci dengan PBNU atau Gus Yahya.
Mau heran, tapi ini Indonesia.
Inong Fitriani (57), seorang ibu rumah tangga di Dumai, ditetapkan sebagai tersangka oleh Polres Dumai atas dugaan pemalsuan surat tanah yang telah dikuasai keluarganya sejak 1961.
@riekediahp Ini Sungguh luar biasa biadab.
Dan Proses hukumnya juga ganjil ini bukan hanya tentang Bu #JUSTICEFORIBUINONG tapi hal serupa juga bisa terjadi kepada siapapun yang di anggap lemah . Ayo warga Dumai kawal kasus ini
Saya baru menerima berita yang amat menyentak jiwa iaitu sahabat saya yang juga mantan Perdana Menteri Malaysia yang kelima Tun Abdullah Ahmad Badawi telah kembali menemui ilahi.
Masih segar di ingatan tatkala kali terakhir menziarahi beliau yang berada dalam keadaan yang sangat uzur lantas meruntun jiwa yang hiba.
Namun saat tangan kami bersentuhan, matanya yang kabur masih memancarkan sinar kasih dan sikap damai yang tidak pernah padam.
Dalam derapan langkah politik yang sering gawat dan menyesakkan, Pak Lah sentiasa menjadi pihak yang menenangkan. Beliau menerima saya dengan penuh adab dan ihsan, meski kami pernah berada di medan politik yang bertentangan. Itulah betapa besarnya jiwa seorang negarawan ulung.
Pak Lah tidak sekadar pemimpin, malah merupakan seorang insan berjiwa besar yang menerapkan naratif baru dalam politik kekuasaan di Malaysia.
Dengan pendekatan Islam Hadhari, beliau menjambatani antara aspek kemajuan dan pembangunan dengan nilai.
Di bawah kepemimpinannya, kita telah menyaksikan reformasi di bidang kehakiman, ketelusan dalam pentadbiran, dan pemerkasaan institusi.
Beliau adalah sosok yang memerdekakan suara rakyat melalui pembukaan ruang media dan penyertaan awam. Pentadbiran beliau berpaksi pada Rancangan Malaysia Kesembilan yang memacu pertumbuhan ekonomi serta memfokuskan pembangunan insan dan di pedesaan.
Namun lebih dari segala pencapaian itu, Pak Lah mengajarkan kita erti kemanusiaan dalam kepemimpinan.
Beliau memimpin dengan wajah yang tidak marah, tangan yang tidak menggenggam kuasa, dan suara yang tidak meninggi meski diasak bertubi-tubi.
Saya masih ingat sewaktu saya sendiri bergelut dalam episod hidup yang gelap dan derita, beliau tidak pernah menambah luka dengan kata-kata nista. Itulah peribadi Pak Lah yang sentiasa memilih damai meski mudah untuk membalas.
Kepada keluarga Tun Jeanne, anakanda Khairy Jamaluddin dan keluarga besar beliau, saya ucapkan takziah setulusnya dari lubuk hati. Seluruh negara turut bersedih atas kehilangan seorang negarawan yang membumi.
Selamat jalan, Pak Lah.
Malaysia terhutang budi kepada jasa dan budi bicaramu. Semoga ruh allahyarham ditempatkan dalam kalangan para solihin, diampunkan segala dosanya dan dikurniakan ganjaran syurga atas segala kebajikan yang telah ditabur sepanjang hayat beliau.
ANWAR IBRAHIM