gimana ngga gila ya, 3 tahunan ikut deposito di bank BCA malang/ kepanjen. yang aku masukin adalah dana pendidikan ketiga anakku.. ternyata dibikin fiktif sama oknum CS nya.. mana kejadian selalu didalam bank dijam kerja. baru ketauan agustus 2025 pas jatuh tempo pencairan ternyata deposito selama ini malah di cetakin ATM biasa jenis TabunganKu, dan dia create pin sendiri dan bebas akses sampe habis. 2026 pelaku masih santai pakai atribut bank buat nipu nasabah lainnya.. 🫠🫠
cc : alfidakhlifa
Dulu di era kolonial, Indonesia punya 170-an pabrik gula aktif dan jadi eksportir gula terbesar kedua di dunia.
Sekarang? Pabriknya tinggal 50-an, dan kita malah jadi importir gula terbesar. Padahal teknologi sekarang jauh lebih maju.
Kok bisa?
@khanifirsyad Karena pabrik gula tersebut dinasionalisasi dan orang orang yang punya kemampuan mengelola digantikan atas nama nasionalisasi. Akibatnya tidak mampu mengelola dan jadi seperti sekarang ini..
Sewaktu nge-tag BNI, status saya akhirnya direspon oleh BNI lewat akun resminya.
BNI bilang mereka "juga pihak yang terdampak" dalam kasus Rp28 miliar dana umat Paroki Aek Nabara. Secara teknis benar. Tapi kan ada jurang besar antara "terdampak" dan "bertanggung jawab".
Apakah mereka sedang coba menyamarkan dua kata itu jadi satu?
BNI memang keluar Rp7 miliar talangan pada 26 Maret 2026. Reputasi mereka tergerus di mana-mana (lihat saja di X). OJK dan BI sedang mengawasi ketat, dan bisa saja ada sanksi kalau terbukti lalai awasi internal.
Secara bisnis, ya, mereka rugi.
Tapi "terdampak" bukan sinonim "korban", bukan?
Benarkah klaim BNI, yaitu "ada oknum di luar sistem resmi"?
1. Andi Hakim Febriansyah bukan tukang sapu. Dia Kepala Kantor Kas BNI Unit Aek Nabara resmi.
2. Selama 7 tahun (2019 sampai 2026), dia memakai fasilitas resmi BNI sepenuhnya: layanan pick-up service untuk jemput uang, bilyet deposito BNI, rekening koran BNI, seragam, kartu identitas pegawai.
3. Suster Natalia dan pengurus Credit Union tidak menyerahkan uang ke "Andi pribadi". Mereka menyerahkannya ke BNI sebagai institusi, lewat mekanisme yang BNI sendiri sediakan.
4. Semua data transaksi tercatat di sistem BNI. Tapi yang lucu, BNI justru meminta CU menyediakan "bukti pendukung" berulang kali. Padahal catatannya ada di server mereka sendiri.
Kalau seorang pegawai bank memakai jabatan, fasilitas, dan dokumen resmi bank untuk menipu 1.900 umat selama 7 tahun tanpa terdeteksi audit internal, itu bukan "oknum di luar sistem".
Itu namanya kegagalan sistem!
Secara hukum, ada prinsip tanggung gugat pengganti (Grok bilang, istilah ini disebut: vicarious liability). Bank wajib bertanggung jawab atas tindakan pegawainya yang dilakukan dalam kapasitas jabatan.
Ini bukan opini saya, Gais. Ini ada di UU No. 10/1998 tentang Perbankan dan POJK tentang perlindungan nasabah.
Di satu sisi, BNI adalah Bank BUMN, dengan aset triliunan rupiah, punya tim hukum dan tim humas korporat yang sibuk membangun narasi "kami juga korban".
Di sisi lain, ada 1.900 umat Paroki Aek Nabara. Mayoritas dari mereka adalah petani dan buruh kecil. Mereka menabung selama lebih dari 40 tahun, rupiah demi rupiah, untuk biaya sekolah anak, dan biaya sakit.
Rencana masa depan yang sederhana, bukan?
Jawaban BNI sah secara korporat. Strategi "oknum dan tunggu dokumen" itu klasik. Tapi dari sisi keadilan, ini sangat miskin empati. Uang itu tabungan umat kecil yang dikumpulkan selama 40 tahun, bukan duit korporasi yang bisa dihitung ulang di pembukuan kuartal berikutnya.
Kalau setiap kali ada pegawai berulah, jawaban resmi bank selalu "itu oknum, bukan kami", lalu kepada siapa nasabah harus percaya?
Besok saya mau menutup rekening saya. Kalau masih antre, ya, saya tarik semua uang saya dari sana.
Kalian sendiri gimana baca sikap BNI sejauh ini?
Aku merasa ada 1 life-hack yang aku terapin sampai sekarang: 1 Bulan fokus ngembangin skill spesifik. no distraksi.
Beberapa kejadiannya yang menonjol dan mengubah hidup:
1. Aku dulu kuliah DKV, terus magang. Tapi sayangnya aku belum lancar Adobe. Di tempat magang diomelin terus krn kesannya gabisa apa2. Lalu tiap pulang magang, tiap hari malam dan subuh belajar adobe 1-1. Mulai dari Photoshop, Illustrator, After Effects, InDesign. Nonton tutorial, praktek, ngulang, gitu terus. Akhirnya bulan ke-2 udah lancar dan bisa ngajarin anak intern lain.
2. Aku dulu lulus S1 mau daftar beasiswa ke UK. Tapi aku belum pede sama IELTS-ku. Akhirnya ke pare, Kediri, 1 bulan. Ngulang pola yang sama. Hal lain jadi seolah ga penting. Subuh sampe tengah malem belajar, sampe trial IETLS berkali2 dapat skor di atas 8. Akhirnya, seminggu stlh di pare, dapet IELTS utk beasiswa.
3. Aku dulu awal belajar facebook ads mandiri. Gak pake kelas, semua modal ngoprek dan tutorial youtube dimana2 tiap hari. Ngedesain KV dan copywriting juga sendirian. Akhirnya berkembang, mulai dr ngetes budget 15K/hari sampe 150jt/hari.
4. Aku awal tahun ini fokusnya belajar investasi saham secara lebih mendalam. 1 Bulan. Langganan telegramnya Pak T (CIA) , nonton semua youtubenya, terus nonton berbagai playlist youtube yg ada di youtube, ngetes nyoba2in sendiri trading mulai dari 100K sampe 10jt. Sampe akhirnya cukup confident jg.
Dari sini aku belajar bahwa: Kita mungkin cuma one skill away to change ourself.
Mengingatkan teman teman
- bawa topi/payung ke kantor
- kalau mau keluar dengan kendaraan pribadi (mobil) pastiin jendela dibuka dulu, AC dinyalain buat ngebuang hawa panas baru jalan. Seringkali di kondisi gini perpindahan dari suhu panas mobil, jadi dingin, trs pindah ke ruangan dingin bikin badan ga enak
- bawa sunscreen atau pake sunscreen.
- hidrasi coekoep.
Gue pake app nya https://t.co/dGSymiLPYc sih.
Jadi kunci aja laptop nya, tapi jangan ditutup, kalo si clyde nya aktif, ada yang nutup layar laptop lu bakal ada alarm kenceng parah wkwkwkwk
Despite dengan keblunderan Mba Sasetya ini, aku lebih salfok ke pernyataan Pak Purbaya: “Mereka berdua juga telah di blacklist bekerja berkaitan dengan pemerintahan Indonesia” artinya pemerintah bisa blacklist orang jika merugikan negara. Kok koruptor gak pernah di blacklist ya? Ijin nanya aja ini mah🙏
seorang perempuan bisa diyakini jadi pelacur hanya dari satu berita "katanya"
tapi butuh ratusan foto, puluhan video, puluhan saksi dan korban supaya orang-orang percaya kalau laki-laki predator
tai lu semua