Ngikutin tweet DokDen ini n bbrp quote serta reply-an nya. Mengkaget banyak ugha yg berpikir dan yaqueen banggetssss kalo pindah agama itu analoginya “terjun ke jurang” dan sama dengan masup neraka.. syereeeeemmm.. 🥲
Anak saya ketika sudah dewasa, tidak perlu izin kalo mau pindah agama. Hidayah itu hak prerogatif Allah SWT. Yang penting ketika dia masih bocah saya sudah ajarin/fasilitasi belajar agama yang saya anut, selebihnya ketika dewasa, agama anak saya bukan urusan saya lagi. 🙏🏻
Anak di bawah umur yang menonton tayangan kekerasan memiliki risiko tinggi melakukan kekerasan fisik, kecemasan, gangguan perilaku hingga desensitisasi terhadap kekerasan. Jadi tolong itu otaknya dipake lagi ya wahai orang dewasa sebelum mengajak anak nonton film orang dewasa🙏🏻
Adanya gerbong kereta khusus perempuan itu awalnya dari banyaknya kasus pelecehan perempuan di kereta. Ini bukan gender war, ini fakta yang diabaikan banyak pihak.
Seandainya selama ini edukasi publik kuat, hukum tegas melindungi perempuan dari laki-laki cabul, seluruh sistem dibangun untuk melindungi perempuan dan kelompok lemah -- ya ngga perlu ada pisah gerbong.
Jadi seharusnya pisah gerbong dijadikan solusi sementara sambil membenahi sistem, bukan malah dinormalisasi.
Contoh pembenahan yang saya maksud:
Keamanan penumpang berbasis sistem (bukan pisah gerbong)
1. CCTV aktif di setiap gerbong + monitoring real-time.
2. Tombol/panic button yang langsung terhubung ke petugas.
3..Patroli petugas di dalam kereta dan peron, bukan hanya di stasiun
Penegakan hukum yang nyata
1. Prosedur pelaporan sederhana, respons cepat, dan transparansi tindak lanjut.
2. Sanksi tegas & publikasi kasus (tanpa mengorbankan privasi korban) untuk efek jera.
Edukasi publik yang konsisten
1. Kampanye anti-pelecehan di ruang publik (visual, audio, digital).
2. Ajarkan norma sosial: penumpang lain tahu harus bertindak saat melihat kejadian (bystander intervention).
Desain ruang yang aman
1. Pencahayaan baik, visibilitas tinggi
2. Penempatan kamera di titik rawan.
3. Penataan kepadatan & alur naik-turun untuk mengurangi kondisi yang memicu pelecehan.
Banyak lagi ide pembenahan sistem lain yang bisa dituangkan bersama.
Karena pada akhirnya, mengelola fasilitas publik bukan soal membagi ruang, tapi memastikan semua orang aman di ruang yang sama.
Ketika yang lemah terlindungi, semua pihak pasti terlindungi.
Kasus Campak di Indonesia Naik Lagi😞💔 Indonesia Peringkat 2 KLB Campak Dunia.
Bulan lalu seorang ibu bawa anaknya yang usia 4th dengan keluhan seperti tanda gejala campak.
Btw dari awal emang udah curiga beliau tipe yang antivaksin, soalnya beliau jg gak pernah pake KB. Padahal udah punya 6 anak, posisi rahim juga udh turun/prolaps uteri😞
🙍♀️Bu anak saya bapilnas sudah 5hari, kok ga sembuh2 ya? Malah tambah gatal ruam merah-merah gini? apa alergi obat ya bu?
👩⚕️Loh bu ini ruam-ruam merahnya muncul mulai kapan? ruam-ruamnya cmn area sini aja atau sebadan? (ruam area garis rambut sampe belakang telinga)
🙍♀️Baru kemaren sore bu mulai ruamnya
👩⚕️Imunisasi anaknya sudah lengkap kan bu?
🙍♀️Anak saya gak pernah vaksin bu dari bayi
👩⚕️....
Padahal ada vaksin gratis untuk campak di Indo untuk bayi, balita, anak SD dan bahkan sekarang udah ada buat orang dewasa juga.
Kalo disekitar kalian ada yg terkena campak waspada ya. Karena harus segera ditangani konsumsi vit A untuk mencegah kebutaan dan juga di isolasi di RS buat mncegah komplikasi.
Kartini dipermasalahkan karena menjadi istri keempat.
Kartini dipermasalahkan karena Jawa.
Kartini dipermasalahkan karena hanya menulis surat-surat kepada seorang perempuan Belanda.
Kartini dipermasalahkan karena tidak berjuang memegang pedang seperti Cut Nyak Dien dan Kristina Martatiahahu, atau membuat sekolah seperti Dewi Sartika, atau menerbitkan koran seperti Roehana Koedoes.
Apakah kita pernah berdebat tentang Pangeran Diponegoro dan Teuku Umar terutama siapa yang paling pantas disebut pahlawan? Apakah kita pernah memperdebatkan mereka karena suku atau tipe perjuangan yang melekat pada mereka?
Sejarah dipenuhi berbagai tokoh laki-laki. Pahlawan bangsa dikerubuti oleh laki-laki. Foto-foto pahlawan kita di sekolah-sekolah dipenuhi oleh foto laki-laki. Tetapi kita tak pernah memperdebatkan tokoh-tokoh itu satu dengan lainnya.
Apa yang terjadi pada tokoh-tokoh perjuangan perempuan, pada setiap Hari Kartini: dipermasalahkan, diperdebatkan.
Apakah kita tahu bahwa Kartini adalah anak perempuan yang dinikahi di usia belia, yang reproduksinya belum sempurna, dan mengalami kematian saat melahirkan? Tahukah bahwa masa itu menjadi seorang perempuan Jawa itu lebih mengerikan daripada menjadi seorang perempuan Minangkabau?
Atau tahukah bahwa menjadi seorang perempuan bangsawan Jawa di masa feodal-konial abad ke-19 adalah tidak lebih baik daripada menjadi perempuan rakyat jelata ketika bicara soal kebebasan diri? Tahukah bahwa menjadi seorang kutu buku seperti Kartini, dengan wawasannya yang mendunia itu, dia tak bisa berbuat apa-apa karena posisinya waktu itu?
Kartini ibarat hidup dalam penjara. Sebagaimana tahanan penjara politik macam Pramoedya Ananta Toer, Kartini hanya bisa melawan dengan menulis. Menulis surat adalah salah satu cara supaya pemikiran-pemikirannya tentang pembebasan didengar. Kartini bersuara lewat surat-surat, sebagaimana orang-orang tahanan politik yang dipenjara.
Penyiksaan yang dialaminya adalah bagaimana kebahagiaan intelektualnya dipenggal. Bagaimana kecerdasannya dikerdilkan, karena dia seorang anak perempuan Jawa yang bangsawan, yang dipelihara di penjara bertembok keraton dan diharuskan berjalan dengan sangat pelan atau berjongkok-jongkok kepada yang lebih tua, atau bahkan kepada saudara laki-lakinya sendiri. Kartini sedemikian dibatasi karena dia seorang perempuan Jawa. Kartini demikian karena ia ingin menjaga Bapaknya. Bapaknya adalah pengantar kebebasannya pada apa yang disebut buku atau bacaan, wawasan, dan pendidikan.
Kartini mengungkapkan ketakutannya yang amat sangat dalam hal poligami, dimana Hukum Islam mengijinkan laki-laki kawin dengan empat perempuan. Dan masa menikah inilah yang paling dibencinya. Apa yang dibencinya adalah ketika tradisi Islam bercampur dengan Jawa, bahwa Jawa mengharuskan anak gadis menikah dengan laki-laki yang dipilihkan ayahnya, dan Islam membolehkan laki-laki berpoligami. Kartini tidak punya pilihan apa-apa dan merasa perkawinan akan membunuh dia sedalam-dalamnya dan memang masa itu pun terjadi.
“Aku tidak akan pernah, tidak akan pernah bisa mencintai. Bagiku, untuk mencitai, pertama kali kita harus bisa menghargai pasangan kita. Dan itu tidak kudapatkan dari seorang pemuda Jawa. Bagaimana aku bisa menghargai seorang laki-laki yang sudah menikah dan sudah menjadi seorang Ayah hanya karena dia sudah bosan dengan yang lama, dapat membawa perempuan lain ke rumah dan mengawininya? Ini sah menurut hukum Islam. Kalau seperti ini, siapa yang tidak mau melakukannya? Mengapa tidak? Ini bukan kesalahan, tindak kejahatan ataupun skandal; Hukum Islam mengizinkan laki-laki beristri empat sekaligus.
Meski banyak orang mengatakan ini bukan dosa, tetapi aku, selama-lamanya akan tetap menganggap ini sebagai sebuah dosa. Bagiku semua benih perbuatan yang menyakitkan orang lain (termasuk menyakiti hewan) adalah dosa. Bisa kau bayangkan derita seorang istri yang melihat suaminya pulang membawa perempuan lain yang kemudan harus diakuinya sebagai istri sah suaminya? Sebagai saingannya? Jika demikian, suami itu bisa ‘membunuh’ istrinya... Mustahil rasanya sang suami memberi kebebasan padanya!”
Kartini lahir sebagai feminis bukan dilahirkan dari teori-teori feminisme, karena seorang feminis adalah dilahirkan, bukan diciptakan. Kartini dan pikirannya bukan sesuatu yang terpisah, atau tidak memisahkan antara pengalaman dengan persepsi, pengalaman dengan diskursus.
---
Tulisan di atas adalah cuplikan dari artikel yang sangat bagus & kuat dari mbak @marianamiruddin yang versi lengkapnya bisa dibaca di web @jurnalperempuan.
Selamat Hari Kartini
21 April 1879–17 September 1904
Damai di surga, Perempuan yang mendahului zaman 🙏💜
@Stakof Hai Kak Stakof, maaf ya udah buat Kakak gak nyaman 🙏. Kami mohon maaf atas kekhawatiran yang timbul terkait dugaan investasi fiktif di Aek Nabara, Sumatera Utara.
Terkait informasi yang beredar, BNI menegaskan bahwa proses penyelesaian kasus Paroki Aek Nabara dilakukan secara bertanggung jawab dan berbasis data yang dapat dipertanggungjawabkan secara hukum.
Saat ini, BNI masih menunggu kelengkapan dokumen dari pihak terkait sebagai dasar verifikasi untuk memastikan jumlah kerugian yang valid. Tanpa data yang lengkap dan sah, proses validasi belum dapat dilakukan.
Perlu diketahui juga, peristiwa ini merupakan tindakan oknum di luar sistem perbankan resmi BNI dan tidak mencerminkan operasional BNI. Dalam hal ini, BNI juga merupakan pihak yang terdampak. (1/2)
Dirut RSHS Bandung, dr. Rachim Dinata Marsidi, menyampaikan detik-detik versi RSHS, terkait kasus bayi Nina Saleha yang sempat viral karena nyaris dibawa orang tidak dikenal. Rachim menjelaskan pada 8 April 2026 bayi Nina direkomendasikan untuk pulang usai dirawat sejak 5 April. Pihak RS kemudian menghubungi Nina untuk proses kepulangan tersebut.
Dalam prosesnya terdapat dua bayi yang dijadwalkan pulang dan berada di ruang yang sama. Situasi mulai berubah ketika petugas hendak menyerahkan bayi kepada Nina, namun Nina tidak berada di tempat. Di kondisi itu, petugas harus memenuhi kebutuhan bayi yang sudah waktunya minum susu. Di saat bersamaan pula, petugas disebut terdistraksi oleh pertanyaan dari keluarga pasien lain.“Sehingga menyebabkan petugas kami menyerahkan bayi Ibu Nina kepada ibu dari pasien yang lain,” ungkapnya.
Namun, menurut Rachim, situasi itu tidak berlangsung lama. Petugas segera mengambil kembali bayi tersebut sebelum sempat diberikan susu, lalu mengembalikannya kepada ibu kandungnya. Rachim menegaskan, pihak rumah sakit memandang kejadian tersebut telah selesai saat itu juga setelah petugas memberikan penjelasan dan permohonan maaf kepada keluarga pasien.
📸: Dok. kumparan/Abisatya, Shutterstock/Ilustrasi.
Baca selengkapnya dengan klik link di bio. Cari tahu berita update lainnya dengan download aplikasi kumparan di App Store atau Google Play.
📝: focus | bayirshs | news | videonews | R158 | R376 | E051 | V200
#bicarafaktalewatberita #kumparan
Saya pernah ngobrol dengan konglo, salah satu syarat CEO atau direksi yang dia pilih adalah: loyal pada keluarga dan pasangan.
Bukan ngurusin moral orang, lebih ke: memastikan energi dan fokus orang yang dipilih ndak bocor kemana-mana
Nasehat untuk sexually discipline ini bagus for both laki-laki dan perempuan.
Supaya hidup adem tanpa drama.
Karena setiap interaksi seksual itu bukan cuma soal fisik. Ada energi yang keluar, ada ikatan yang terbentuk, ada ruang mental yang kebagi.
Dan itu semua kalau ngga dikelola dengan sadar, fokus dan energy-nya akan bocor kemana-mana. Belum lagi potensi kena penyakit, keluarga berantakan dll.
Kalo orang begini mengelola bisnis, bisnisnya ikut berantakan 😅
Buat orang-orang yang hidupnya pengen efektif, minim distraksi, dan penuh arah, sexual discipline itu bukan tentang jadi alim, tapi strategi menjaga clarity dan ritme hidup.
Tubuh itu rumah. Energi itu aset. Dan orang yang punya kendali yang baik, akan sangat selektif pada siapa yang dia izinkan masuk.
Bukan karena sok suci, tapi karena tahu, nggak semua orang pantas mendapatkan energi, waktu dan personal space kita.
Ujung dari disiplin ini bukan kesempurnaan. Tapi ketenangan. Clarity.
Dengan clarity, seseorang bisa membangun hidup tanpa drama, tanpa keruwetan yang ndak perlu.
Dengan clarity, hidup lebih tenang, terarah, rejeki finansial meningkat, bisnis moncer.
Dulu pendahulu2 saya berjuang mengajarkan dukun bayi terkait pentingnya pencegahan tetanus, pemberian vit K, imunisasi, dll. Terus sekarang saat dunia medis uda makin maju, malah muncul kelompok anti establishment yg seolah ngajak kita kembali ke “titik nol” dunia medis
Kita tuh sering banget dorong ibu untuk sukses ASI eksklusif 6 bulan.
Tapi di banyak tempat, cuti ayah masih sangat terbatas. Cuma hitungan hari
Padahal masa awal setelah lahiran itu krusial banget buat bangun support di rumah.
Mungkin ini bukan cuma soal edukasi ibu, tapi juga soal desain kebijakannya.
diantara semua jenis plastik, yg paling tidak ramah adalah sterofoam.
sterofoam hanya 1x pakai dan sulit dimusnahkan: ga bisa didaurulang, kalo dibakar banyak polusi-nya, dan butuh waktu sejuta tahun untuk terurai alami.
kita kurang-kurangi deh pake ini, please. 🙏😢😢
Kalo ada rencana melarikan dari Indonesia jangan pake beasiswa pemerintah, banyak beasiswa lain. Meski udah menunaikan kewajiban, sejatinya harapan pada kalian adalah untuk seoptimal mungkin membangun negeri ini, flawed and all. Iya, sulit, emang.
But guru honorer lebih sulit.
Kalau tau ilmu holistik bukan hanya soal jasad, tapi juga ruh, harusnya bisa lebih bijak
Ilmu holistik itu membawa kita menuju Sattva (kemurnian dan kedamaian), bukan terjebak dalam Rajas (ambisi dan ego untuk merasa paling benar). Jika masih hobi ngata2in dan judgemental, itu bukan wellness, itu hanya arogansi yang dibungkus istilah kesehatan
Ingat, penyembuhan holistik sejati mencakup Sharira (tubuh), Indriya (indra), Sattva (pikiran), dan Atman (jiwa). Menyakiti hati orang lain dengan penghakiman hanyalah bukti bahwa ilmu kita baru sampai di kulit, belum menyentuh ruh.
Gua kaget pas tahu bahwa ternyata kebiasaan olahraga gua ternyata bakal ngaruh ke anak
Gua nemu satu penelitian di BMC Pediatrics yang melibatkan lebih dari 1.000 anak dan orang tuanya. Yang diteliti bukan cuma anaknya, tapi kebiasaan olahraga orang tuanya.
Hasilnya bikin gue cukup terkejut. Anak punya 57% kemungkinan lebih besar untuk rutin aktivitas fisik kalau orang tuanya juga rutin berolahraga. Yang lebih menarik adalah efeknya paling kuat kalau yang aktif itu ibunya. Bukan karena anak disuruh. Bukan karena anak dipaksa. Tapi karena anak melihat dan meniru.
Penelitian ini juga nunjukin kalau tingkat aktivitas orang tuanya itu minimal 150–300 menit per minggu dengan intensitas sedang–berat untuk punya anak dengan aktivitas fisik yang juga oke.
Masuk akal juga sih, karena anak itu tajam banget ngeliat contoh.
Gue bakal mulai fokus olahraga duluan, bukan buat jadi orang tua sempurna, tapi buat jadi contoh yang konsisten.
Karena ternyata, kebiasaan sehat itu bukan diwariskan lewat kata-kata, tapi lewat apa yang anak lihat setiap hari di rumah.
Jadi untuk yang sudah jadi orang tua, yuk gas olahraga!
@TogaHQ Happy aniversarry, Bwang! Iii kami pun mau eniperseri (ga ada yg nanya gpp lah ya) 🤣🤣 bentar lagii, tapi masi ke 9 tahun sih.. masi ecek2 keknya ya.. wkwkwkwkwk anw, cantiikk kaliii kakaak, salam ya Bang! 😍
Hari2 menikmati keributan dan “baku hantam” di twitter eh X ini, i am so entertained (tapi sambil sedih kadang kalo ada yang asbun nya bener2 ga ngotak, eh tapi ya lucu ugag sih ya) 😭😭😭