Guys, ada kisah dari negara lain yang menurut gue paling relevan dengan kondisi Indonesia sekarang dan paling tidak nyaman untuk dibaca karena polanya terlalu familiar.
Zimbabwe pernah jadi negara terkaya di Afrika.
Mata uangnya lebih kuat dari dolar Amerika.
Tingkat melek huruf tertinggi di seluruh benua.
Lumbung pangan yang memberi makan negara-negara tetangga.
Lalu dalam kurang dari tiga dekade satu lembar uangnya bertuliskan 100 triliun dolar.
Dan tidak cukup untuk bayar ongkos naik bus.
Ini bukan cerita tentang bencana alam.
Bukan invasi militer dari luar.
Ini kehancuran yang dirakit dari dalam oleh tangan pemimpinnya sendiri.
Pertama kondisi awal Zimbabwe yang harus dipahami:
Tahun 1980 Zimbabwe merdeka dari pemerintahan minoritas kulit putih yang diskriminatif.
Dan kondisi awalnya luar biasa.
Infrastruktur jalannya terbaik di kawasan
Afrika subsahara.
Sistem pendidikannya mencetak tingkat melek huruf 90% tertinggi di seluruh benua.
Dan yang paling penting:
satu dolar Zimbabwe nilainya 1,47 sampai 1,60 dolar Amerika.
Mata uang Zimbabwe lebih kuat dari dolar AS.
Petani komersial yang hanya 2% dari populasi mengelola 40% lahan pertanian.
Dari lahan itu mereka menghasilkan 40% dari seluruh ekonomi Zimbabwe dan 60% dari total devisa ekspor. Tembakau premium, kopi, kapas, jagung mengalir deras ke pasar internasional.
Zimbabwe bukan hanya swasembada pangan.
Mereka mengekspor surplus pangan ke negara-negara tetangga.
Itulah mengapa mereka disebut lumbung pangan Afrika bukan sebagai slogan tapi sebagai fakta statistik.
Dan ini tentang Robert Mugabe yang awalnya dipuji dunia:
Mugabe bukan pemimpin biasa.
Dia intelektual tajam dengan berbagai gelar akademis. Mantan guru.
Komandan gerilya kemerdekaan yang karismatik.
Simbol pembebasan dari penindasan.
Pada awal pemerintahannya di dekade 1980-an dia dipuji setinggi langit.
Mengadopsi kebijakan rekonsiliasi rasial yang pragmatis.
Mengajak komunitas kulit putih untuk tetap tinggal dan membangun negara bersama.
Ekonomi tumbuh. Program pendidikan dan kesehatan berjalan efisien.
Tapi sejarah selalu memberikan peringatan yang sama:
kekuasaan yang tidak dibatasi punya sifat korosif yang memabukkan.
Semakin lama Mugabe duduk di kursi kekuasaan semakin dia mengalami delusi bahwa dirinya dan negara adalah satu entitas yang sama.
Setiap kritik dianggap pengkhianatan.
Setiap oposisi dianggap antek asing.
Setiap suara berbeda dianggap musuh revolusi.
Dan ini tentang kesalahan pertama yang menghancurkan devisa perang Kongo:
Agustus 1998 Mugabe secara sepihak mengirim pasukan militer ke Kongo tanpa persetujuan parlemen.
Dalihnya membantu presiden Kongo yang dikepung pemberontak.
Kenyataannya:
militer Zimbabwe dikirim ke hutan Kongo untuk menguasai tambang mineral.
Berlian, kobal, tembaga, kayu dieksploitasi oleh perusahaan yang dibentuk militer Zimbabwe bekerja sama dengan kroni presiden Kongo.
PBB kemudian membongkar:
jaringan jenderal dan politisi papan atas Zimbabwe merampok aset mineral Kongo senilai minimal 5 miliar dolar dalam tiga tahun.
Dan tidak ada satu sen pun yang masuk ke kas negara Zimbabwe.
Semuanya ke rekening pribadi para jenderal dan kroni Mugabe.
Sementara itu rakyat miskin Zimbabwe menanggung seluruh biaya perangnya helikopter tempur, logistik, persenjataan semua dari uang rakyat.
Dan ini tentang kesalahan kedua yang membunuh pertanian reformasi lahan:
Menghadapi tekanan ekonomi dan melemahnya dukungan publik Mugabe meluncurkan program yang dia sebut reformasi lahan cepat.
Terdengar mulia: mengambil lahan warisan penjajah untuk dibagikan ke rakyat.
Kenyataannya:
milisi partai dan veteran perang diperintahkan menyerbu dan merebut lahan pertanian komersial milik petani kulit putih secara anarkis tanpa ganti rugi.
Petani kulit putih diintimidasi dan melarikan diri ke luar negeri.
Tapi korban terbanyak bukan petani kulit putih.
Korban terbanyak adalah ratusan ribu buruh tani kulit hitam yang sudah turun-temurun tinggal dan bekerja di lahan itu diusir paksa, kehilangan pekerjaan dan rumah, tidak mendapat bagian tanah sama sekali karena dianggap pendukung oposisi.
Dan lahan-lahan subur itu yang punya sistem irigasi canggih dan sudah terbukti menghasilkan 60% devisa negara dibagikan kepada para menteri, jenderal, dan kerabat Mugabe yang sama sekali tidak tahu cara bertani dan tidak mau turun ke kebun.
Tanpa sertifikat tanah yang sah bank tidak bisa memberi pinjaman modal.
Tanpa modal lahan terbengkalai.
Lahan subur kembali jadi semak belukar.
Produksi jagung anjlok dari 1,09 juta ton jadi 315.000 ton dalam satu periode kekeringan.
Zimbabwe yang tadinya mengekspor pangan ke negara tetangga tiba-tiba harus mengimpor jagung agar rakyatnya tidak mati kelaparan.
Dan ini tentang keputusan paling fatal mesin cetak uang:
Tanpa devisa dari ekspor pertanian yang hancur kas negara kering kerontang.
Tapi pengeluaran pemerintah untuk birokrasi, militer, dan subsidi elit partai tidak boleh berhenti.
Solusinya: Bank Sentral Zimbabwe atas perintah Mugabe mulai mencetak uang 24 jam sehari.
Cetak uang untuk bayar gaji polisi.
Cetak uang untuk biayai kementerian yang korup.
Cetak uang untuk tutupi defisit yang tidak ada habisnya.
Tapi produksi barang sudah hancur.
Pabrik tutup. Pertanian lumpuh.
Pasokan barang di pasar sangat langka.
Ketika triliunan uang baru membanjiri pasar tapi barang yang diperebutkan makin sedikit harga meledak seperti roket.
Pemerintah mencoba kontrol harga paksa menurunkan polisi ke toko-toko dan memaksa pedagang jual di harga yang ditetapkan pemerintah.
Hasilnya: para pedagang mengosongkan rak toko karena harga patokan pemerintah jauh di bawah biaya produksi mereka.
Barang lenyap dari supermarket dan berpindah ke pasar gelap dengan harga ratusan kali lipat.
Dan puncaknya November 2008: inflasi bulanan Zimbabwe menembus 79,6 miliar persen.
Satu lembar uang kertas resmi bernilai 100 triliun dolar Zimbabwe tidak cukup untuk bayar ongkos naik bus.
Dan ini yang paling penting pola yang terlalu familiar:
Mugabe tidak pernah mengakui bahwa kehancuran ini adalah hasil kebijakannya sendiri.
Setiap kali ada masalah dia menuding tangan-tangan asing.
Inggris yang jahat.
Amerika yang imperialis.
Uni Eropa yang ingin menjajah kembali.
Dia membangun narasi psikologis yang sangat kuat: kemiskinan rakyat bukan karena ketidakbecusan pemerintah tapi karena pengorbanan suci dalam perang ekonomi melawan penjajah gaya baru.
Sementara itu di belakang layar: media independen diberangus. Undang-undang represif dipakai untuk memberikan akreditasi hanya kepada media yang loyal.
Kantor surat kabar yang kritis dibom dua kali oleh agen yang diduga kuat adalah intelijen pemerintah.
Karena dalam setiap rezim yang takut pada fakta kritik yang berbasis data adalah racun yang paling ditakuti.
Zimbabwe bukan kisah tentang negara miskin yang tidak bisa maju. Zimbabwe adalah kisah tentang negara kaya yang dihancurkan dari dalam oleh pemimpinnya sendiri melalui kombinasi ambisi kekuasaan yang buta,
korupsi sistemik yang dibiarkan, kebijakan ekonomi yang ugal-ugalan, dan ego absolut yang menolak untuk mendengar kritik.
Polanya selalu sama: dimulai dari membungkam oposisi, lalu menyalahkan pihak luar atas semua masalah dalam negeri, lalu kebijakan yang menghancurkan sektor produktif ekonomi,
lalu cetak uang untuk tutupi defisit, lalu inflasi yang menghancurkan tabungan rakyat, lalu kemiskinan massal.
Dan rakyat yang paling menderita bukan para elitnya. Rakyat yang paling menderita adalah orang-orang biasa yang kerja keras setiap hari yang tabungannya menguap,
yang penghasilannya tidak cukup beli roti, yang akhirnya mati kelaparan di negara yang dulu menjadi lumbung pangan benua.
Sejarah tidak pernah bosan memberikan peringatan yang sama.
Yang berbeda hanya nama negaranya dan nama pemimpinnya.
OMG, child trafficking ke Prancis diduga lewat proses di Kedutaan Besar Prancis di Jakarta? 🤯😭
Jadi ada kasus di Prancis, 2 laki-laki didakwa dalam kasus penyekapan anak di bawah umur, pemerkosaan berat, & perdagangan manusia.
Modus:
- Pelaku lakukan pengakuan paternitas (pernyataan hukum resmi yang menyatakan bahwa ia adalah ayah sah dari seorang anak) terhadap beberapa anak Asia
- Pengakuan paternitas dilakukan di Kedutaan Besar Prancis di Indonesia (Jakarta)
- Setelah diakui secara hukum, anak2 tersebut diberi paspor Prancis sehingga mudah dibawa ke Prancis
- Tujuannya untuk eksploitasi seksual
Sudah seharusnya kalau rapot M-erah, B-erhenti G-uys!
Sayangnya pemerintah tidak tahu kapan harus STOP.
Ini sebuah Pesan, pentingnya punya Rem. Tanpa rem kita gk akan sampai tujuan. Dan sepertinya rezim ini gk punya Tujuan membawa 🇮🇩 maju
#stopmakanbergizigratis@StopPlandemit
Lo butuh bukti apalagi Wo @prabowo , Pur @PurbayaYudhi@KemenkeuRI, @erickthohir ???
Ekonomi lemah dimana2. Daya beli turun. Buat gue jelas, fans timnas juga mikir ekonominya.
@panditfootball orang waras milih stop! Nge-Rem!
Emang MBG, gk da stopnya!🤯
https://t.co/gR9mqI1W7c
Dari awal dilantik saya TAK PERNAH percaya Purbaya. Anda yg sudah ‘mimpi basah’ merasa Purbaya lebih baik dari Sri Mul, selamat terus bermimpi
Purbaya hanya lebih mendingan karena tdk didirect WEF langsung, tapi tetep Gak Guna, cuma BADUT yg Nyapuin dosa bosnya🤮
@StopPlandemit
Oh begitu alasan bny org cina masuk islam? kalau niatnya cuma biar biaya kematiannya murah , keislaman kalian tdk akan diterima Allah SWT..
Duh ada-ada sja mereka nii..🤦🏼♀️
Google is planning one of the largest open-air biological experiments in American history. Currently pending EPA approval, the company plans to release 64 million bacteria-infected mosquitoes into the wild.
This could trigger irreversible ecosystem disruptions.
6G ISN’T FOR YOUR PHONE — IT’S FOR YOU. 6G doesn’t connect your device. It connects YOU.
They told us 6G launches in 2030.
But it’s already here.
In secret DARPA/ATIS pilots across Virginia, Osaka, and EU smart grids, 6G “presence nodes” using terahertz waves don’t just send data — they **mirror your body**.
Your gait. Your heartbeat. Your posture. Even your voice pitch drops 12 Hz as the system syncs to you.
No phone. No consent. Just real-time behavioral control.
They call it “adaptive ambient sync.”
We call it the end of free will.
This isn’t theory. It’s already rewiring people.
1892 Gleason’s Flat Earth Map. 🗺️👁️
Not Telling You What To Believe.
Just Showing You What Existed
Before The Narrative Became Untouchable.
Explore it Here:
👉 https://t.co/QXt2OZps6V
Did you know the Red Cross was owned by the Rothchilds
Did you know the Red Cross was Child Trafficking
Organ Trafficking
Adrenochrome &
Money Laundering
Organised Crime Network
🔗 THE WHITE RABBIT
If you were planning another world-wide fake pandemic in order to lock people down and mandate mRNA ‘vaccines’ to them again, would you plan a fake super spreader event which was well publicised where people from across the globe attended in one place? https://t.co/OeRkN7ODpR