يجب أن نستلهم مشاعر الفخر من هذا الإنسان المصري القديم الذي أدهش العالم بحضارة استثنائية لا تزال أسرارها في مختلف الفنون عصيةً على الفَهم والإدراك، رغم ما توصَّل إليه إنسان اليوم من تقدمٍ تقنيٍّ وتكنولوجيٍّ مذهل
أ. د. أحمد الطيب، #شيخ_الأزهر
Nabi prnah berdoa, "Ya Allah hidupkan sy dlm kemiskinan, matikan sy dlm keadaan miskin, dan bangkitkan sy di akhirat bersama orng2 miskin". Doa Nabi bkn mengajak kita miskin melainkan mengajak mengasihi orng miskin. Terkait tugas negara, ini tulisan Sukidi, di KOMPAS (23/10/2025.
Pesantren gak kompatibel dengan dunia modern?
Masih ada pandangan keliru yang terus berulang: bahwa Islam hanya bisa “modern” kalau dibuat sekuler. Bahwa agama harus dipinggirkan supaya sains bisa berkembang. Pandangan seperti ini mungkin cocok di Eropa abad ke-18, tapi tidak relevan bagi Islam. Sejarawan Marshall Hodgson dalam The Venture of Islam menulis bahwa peradaban Islam justru melahirkan sains karena keyakinan spiritualnya. Iman bukan penghalang bagi akal, tapi justru bahan bakarnya.
Hal ini juga ditekankan Nurcholish Madjid dalam bukunya Islam, Kemodernan dan Keindonesiaan (1992):
“Modernisasi adalah rasionalisasi, bukan sekularisasi. Modernisasi dalam Islam berarti pembebasan dari kebodohan dan kejumudan, bukan pembebasan dari Tuhan.”
Kalimat itu seperti tamparan halus bagi dua kutub ekstrem: yang alergi pada modernitas, dan yang mabuk modernitas tapi lupa iman.
Kita sering mendengar komentar seperti, “Modernisme itu kan sekuler. Mana bisa cocok dengan Islam?” atau “Pesantren itu tradisional, ketinggalan zaman.” Bahkan ada yang berpikir bahwa kalau seorang santri bicara soal demokrasi, HAM, atau berpikir kritis, pasti dia “liberal.” Sebaliknya, kalau dia menjaga tradisi, pakai sarung, dan hidup sederhana, dicap “kolot.” Dua-duanya salah paham — karena keduanya lahir dari cara pandang yang gagal memahami apa itu modernitas, dan apa itu ruh pesantren.
Pesantren berada di jalur tengah. Ia mendidik manusia agar cerdas tanpa congkak, beriman tanpa beku. Santri belajar berpikir kritis, tapi tahu kapan harus menunduk hormat kepada gurunya. Santri belajar bahasa asing, tapi tak kehilangan bahasa doa. Mereka bukan anti-modern, hanya saja mereka tahu bahwa kemajuan tanpa values itu ‘kesesatan’ yang canggih.
Sudah banyak santri yang menjadi prof di kampus terkemuka di dunia. Banyak santri yang gak hanya bisa baca kitab kuning tapi mereka juga fasih menjelaskan teori dan kajIan bidangnya seperti antropologi, demokrasi, rule of law, fisika kuantum dan lainnya.
Para santri bisa pakai sarung, bisa juga pakai jas. Bisa dengerin Umi Kulsum, tapi juga Adele. Cium tangan ke Kiai, tapi juga tampil di seminar Internasional. Biasa aja 😊
Tabik,
Nadirsyah Hosen
Mas @andi_chairil, anda dan @TRANS7 gak bisa hanya minta maaf. Ini bukan cuma khilaf. Ini sudah by design untuk menghina pesantren dan meruntuhkan marwah Kiai sepuh. Kalian sengaja membuat tayangan kontroversi demi rating kan. Jahat sekali anda, Mas?!
Coba anda dengar kembali cara tim anda membacakan narasinya? Mau muntah 🤮 gak tuh dengerinnya? Sangat merendahkan.
Tuntutannya jelas:
1. Anda mesti dipecat
2. Pembaca berita mesti dipecat
3. Pak Chairul Tanjung benahi manajemen Trans7
4. Buat tayangan yang berimbang dg membahas konsep barakah, adab, disiplin, pendidikan karakter ala Pesantren
5. Buat pemasang iklan untuk sementara waktu kalian jangan pasang iklan dulu di Trans7 sampai masalahnya selesai.
Sungguh anda mengecewakan sekali Mas Andi Chairil 😡
Apa kamu bisa membuktikan bahwa value kamu sebagai laki-laki dan apa yg melekat padamu jauh lebih berharga daripada jumlah digit di rekening bank?
Abot rek..!
في آخر ظهور له على سرير المرض.. الدكتور أحمد عمر هاشم يوجّه رسالة مؤثرة: «بلّغوا سلامي إلى سيدي رسول الله.. خادم حديثك يقرئك السلام ويرجوك الدعاء له بالشفاء وحسن الخاتمة»
مفتي الجمهورية، وشيخ الأزهر، ووزير الأوقاف، ومحافظ القاهرة، ووكيل الأزهر، ورئيس جامعة الأزهر، وعدد من كبار رجالات الدولة، والقيادات الدينية، وأساتذة جامعة الأزهر، وجمع كبير من طلبة العلم، وعموم المسلمين، يؤدون صلاة الجنازة على العالم الجليل الأستاذ الدكتور أحمد عمر هاشم، عضو هيئة كبار العلماء بالأزهر الشريف، من رحاب الجامع الأزهر، سائلين اللهَ تعالى أن يتغمَّده برحمته الواسعة، وأن يُثيبه عن علمه وجهوده في خدمة الدعوة والإسلام خير الجزاء.
Transaksi yang tak pernah merugi
Banyak orang beragama dengan logika instan, seakan ibadah hanyalah kalkulasi untung rugi: berapa rakaat, berapa pahala; berapa sedekah, berapa balasan. Padahal Al-Qur’an mengajarkan bahasa lebih luhur: tijārah lan tabūr—perdagangan dengan Allah yang takkan pernah rugi (QS Fāṭir [35]:29).
Al-Ṭabarī menafsirkan lan tabūr sebagai lan tahlik—tidak akan bangkrut. Ibn Kathīr menjelaskan: keuntungannya adalah maghfirah & surga. Al-Qurṭubī menegaskan: berbeda dengan perdagangan duniawi penuh risiko, perniagaan dengan Allah abadi karena modalnya amal ikhlas.
Secara ekonomi, ayat ini masuk akal. Investasi dinilai dari risiko dan hasil. Dagang dunia selalu berisiko rugi, sementara dagang dengan Allah bebas risiko: amal sekecil dzarrah pun diganjar (QS al-Zalzalah [99]:7–8). Sedekah kecil bisa berlipat tak terhingga, sebagaimana QS al-Baqarah [2]:261. Dalam bahasa modern: investasi dengan zero risk dan infinite return, dijamin langsung oleh Allah.
Namun bagi para sufi, ini bukan kalkulasi, tapi tarian cinta. Amal hanyalah persembahan kecil; balasan Allah murni anugerah. Kita memberi secuil amal, lalu Allah membalas dengan samudera kasih. Hati pun tenang: meski dunia menilai amal kecil, di sisi Allah ia takkan sia-sia.
Di era instan, kita sering ingin doa langsung terkabul, bisnis langsung untung. Padahal kita tahu anugerah datang sesuai waktu Allah, bukan sesuai keinginan kita. Seperti petani: menanam hari ini, menuai di musim yang ditentukan.
Tijārah lan tabūr adalah ajakan investasi jangka panjang: dalam bisnis berarti kejujuran dan keberlanjutan, dalam hidup berarti istiqāmah dalam shalat, zikir, dan amal kecil. Di tengah krisis, ia menjadi ketahanan jiwa: ada perdagangan yang takkan rugi—berhubungan dengan Allah.
اللَّهُمَّ اجْعَلْ أَعْمَالَنَا تِجَارَةً لَنْ تَبُورَ،
وَارْزُقْنَا صِدْقَ النِّيَّةِ وَجَمَالَ الصَّبْرِ،
وَأَفِضْ عَلَيْنَا مِنْ نُورِ رِضَاكَ وَرَحْمَتِكَ دَائِمًا.
Ya Allah, jadikan amal kami perdagangan yang takkan rugi, anugerahkan keikhlasan niat dan keindahan sabar, serta limpahkan cahaya ridha dan rahmat-Mu selamanya.
**
Dan Engkau tak pernah kecewakan harapan kami, Ya Rabb 🙏🏻
Tabik,
Nadirsyah Hosen
Para pendemo/pengunjukrasa adalah warga bangsa yang sedang berupaya agar kita menjadi bangsa yang hidupnya pantas. Karena saat ini, kita justru sedang terseok-seok saat elit politik dan aparatnya bersorak-sorak.
Di DPR tak banyak perdebatan bermutu yang aspiratif. Umumnya mereka tergiring seperti bebek yang mengikuti penggembalanya yang memegang cambuk agar tak keluar jalur yang membelenggu. Itulah pengibaratan wajah politik kita. Ini harus diperbaiki.
🚨BREAKING :A video documents a horrific Israeli crime: targeting ambulance and civil defense crews as they were rescuing victims and the wounded after Israel bombed Nasser Medical Complex in Khan Younis among them was journalist Hossam al-Masri.
Catatan Nadirsyah Hosen atas Klaim “Penambangan Itu Baik, Asal Bukan Bad Mining”
Pernyataan Ketua PBNU, Kiai Ulil Abshar Abdalla, bahwa penambangan adalah hal baik karena membawa maslahat, dan yang buruk hanyalah bad mining, tampaknya menyederhanakan problematika yang kompleks. Memang benar bahwa dalam kerangka maqāṣid al-sharī‘ah, setiap aktivitas yang membawa kemaslahatan publik (maṣlaḥah ‘āmmah) dapat dibenarkan. Namun, penambangan bukan sekadar perkara teknis antara “baik” dan “buruk”, melainkan melibatkan soal ketimpangan struktural, kerusakan ekologis, dan pelanggaran hak masyarakat lokal. Selama hal-hal ini tidak diperbaiki, yang kita saksikan adalah bad mining. Dan selama hal-hal ini masih dibiarkan, maka tidak elok menormalisasi pertambangan dengan klaim normatif-abstrak.
1. Maslahat Tidak Berdiri Sendiri
Dalam al-Mustaṣfā, al-Ghazālī menegaskan:
فَالْمَصْلَحَةُ الْمُعْتَبَرَةُ هِيَ الَّتِي لَا تُعَارِضُ نَصًّا وَلَا إِجْمَاعًا
“Maslahat yang diakui (mu‘tabarah) adalah yang tidak bertentangan dengan nash atau ijma‘.”
(al-Ghazālī, al-Mustaṣfā, 1/286)
Maka, jika suatu tambang terbukti mencemari lingkungan, merampas tanah adat, dan menghancurkan ruang hidup masyarakat, itu bukan maslahat yang mu‘tabarah, melainkan mafsadah (kerusakan). Tak semua yang menghasilkan uang dan devisa bisa otomatis disebut maslahat.
2. Keadilan Ekologis Adalah Syariat
Al-Qur’an memperingatkan:
وَلَا تُفْسِدُوا فِي الْأَرْضِ بَعْدَ إِصْلَاحِهَا
“Dan janganlah kalian membuat kerusakan di muka bumi setelah (Allah) memperbaikinya.”
(QS al-Aʿrāf: 56)
Kerusakan ekologis akibat tambang berskala besar—baik yang berizin maupun liar—tak sekadar meninggalkan luka di permukaan tanah. Ia mencemari mata air, merusak ekosistem, dan mengusir masyarakat dari tanah warisan leluhur mereka. Dalam fiqh al-bī’ah (fiqh lingkungan), kehancuran semacam ini disebut fasād al-bī’ah—kerusakan lingkungan yang sistemik—dan merupakan bentuk khiyānah terhadap amanah kekhalifahan manusia di bumi yang diwasiatkan Allah.
3. Maslahat Tak Sah Jika Lewat Kezaliman
Pemisahan antara good mining dan bad mining terdengar menarik, tetapi gagal menjelaskan bagaimana mayoritas praktik tambang di Indonesia kerap sarat dengan pelanggaran etis, hukum, dan sosial. Bahkan perusahaan-perusahaan yang menyandang “izin resmi” banyak yang melanggar AMDAL, meminggirkan masyarakat adat, dan membungkam protes rakyat. Kiai Ulil tidak bisa menutup mata atas praktek semacam ini.
Dalam hal ini, prinsip dari al-ʿIzz ibn ʿAbd al-Salām menjadi sangat relevan. Ia menulis dalam Qawāʿid al-Aḥkām fī Maṣāliḥ al-Anām:
فَكُلُّ مَا أَدَّى إِلَى الظُّلْمِ وَالْجَوْرِ وَالْعُدْوَانِ فَهُوَ مَحْظُورٌ تَحْرِيمًا، وَكُلُّ مَا أَدَّى إِلَى الْعَدْلِ وَالإِنْصَافِ وَالإِحْسَانِ فَهُوَ مَطْلُوبٌ وَاجِبًا أَوْ نَدْبًا
“Segala sesuatu yang mengarah kepada kezaliman, keaniayaan, dan pelanggaran adalah hal yang diharamkan. Dan segala sesuatu yang mengarah kepada keadilan, keadilan sosial, dan kebaikan, maka ia adalah sesuatu yang dituntut, baik secara wajib maupun sunnah.”
(al-ʿIzz ibn ʿAbd al-Salām, Qawāʿid al-Aḥkām, 1/86)
Artinya, kemasan maslahat tidak dapat menghalalkan kezaliman struktural. Maslahat yang menindas rakyat dan lingkungan adalah tipu daya moral, dan itu harus dilawan, setidaknya dengan suara moral para ulama.
4. Maslahat untuk Siapa?
Jika “maslahat” hanya dinikmati segelintir elite politik, pejabat, dan pemilik saham, sementara rakyat kehilangan air bersih, tanah warisan, dan udara sehat—itu bukan maslahat, tapi penjajahan domestik. Dalam maqāṣid, maslahat harus berkelanjutan, adil, dan mencakup seluruh lapisan masyarakat.
Kesimpulan:
Pernyataan “tambang itu baik asal bukan bad mining” bisa menjadi justifikasi moral yang berbahaya jika tidak disertai evaluasi kritis terhadap praktik & dampaknya. Kemaslahatan bukan cuma soal manfaat finansial, melainkan harus diuji melalui prinsip keadilan, keberlanjutan, dan kemanusiaan.
Tabik,
Nadirsyah Hosen
Klo ga menyibukkan diri dg hal² kebaikan seperti: mengupgrade diri dg belajar, ikut komunitas biar nambah relasi pertemanan, dsb, maka peluang job terbaik akan hadir dg sendirinya. Jgn biasakan berdiam diri kecuali untuk introspeksi (muhasabah).