Ngga usah repot repot ganti Mentri Keuangan, pak.
Kalo bapak umumkan program MBG dan Kopdes dihentikan, mau mentrinya monyet juga itu IHSG pasti ijo pak 🙂
What a boring planet.... no fairies, no elves, no mermaids, no dragons, no vampires, no werewolves… just bills, stress, gossip, and insufferable people.
PLEASE PERCAYA SAMA AKU, setelah kamu lepasin orang yang bikin kamu nangis, nguras energy batin kamu, KAMU AKAN DAPET YANG BAIK BANGET PLEASE PERCAYA.
sedih itu cuma perihal waktu, semua akan berlalu
lagi jalan di mall terus gue basa-basi ngomongin sepatu samba (karena dia pake) dan dia tiba2 bilang “gue benci sama orang2 yg pake sepatu samba tapi ga tau sejarahnya, gue uda pake sepatu ini dari sebelum rame kayak sekarang karena gue ngerti storynya”
Hoppers bagus banget.
Udah lama ga nonton bioskop yang bikin ketawa-ketawa begini. Pantes reviewnya dimana-mana scorenya cukup tinggi.
Disutradarai sama kreatornya We Bare Bears, komedinya kocak dan interaksi binatangnya gemes.
Konflik menuju ending agak berat, tapi semuanya dibayar dengan manis sampai tadi penonton pada tepuk tangan.
Highly recommended buat ditonton di bioskop.
Aku pernah baca begini:
Perempuan yang pergi sambil menangis, masih bisa kamu bujuk untuk kembali.
Sementara perempuan yang pergi tanpa ekspresi, tidak akan pernah mau untuk kembali.
Ini jokes tapi nyelekit banget karena terlalu nyata.
2021 semua orang bilang WFH adalah masa depan. Produktivitas naik. Work life balance membaik. Tidak perlu buang 3 jam sehari di jalan cuma buat duduk di depan laptop yang sama.
2024 komprominya hybrid. Dua tiga hari di kantor. Sisanya dari rumah. Semua orang bisa hidup dengan itu.
2026 tiba tiba balik lagi. Empat hari seminggu di kantor. Dan alasannya satu kata yang tidak bisa dibantah tapi juga tidak bisa dibuktikan.
Kultur.
Kita butuh kultur yang kuat. Kita butuh kolaborasi. Kita butuh energy yang cuma bisa ada kalau semua orang ada di satu ruangan.
Dan realitanya di ruangan itu?
Semua orang pakai noise cancelling headphones. Kepala menunduk ke layar masing masing. Tidak ada yang ngobrol. Tidak ada yang brainstorming spontan. Tidak ada magic kultur yang dijanjikan.
Yang ada cuma orang orang yang sama, ngerjain pekerjaan yang sama, yang bisa mereka kerjain dari rumah, tapi sekarang harus buang waktu dan uang buat transport dulu sebelum bisa mulai.
Dan ini relate banget di Indonesia.
Macet Jakarta rata rata 3 jam pulang pergi. Itu 60 jam sebulan. 720 jam setahun. Tiga puluh hari penuh dalam setahun habis di jalan.
Bukan buat meeting penting. Bukan buat kolaborasi yang tidak bisa dilakukan secara digital.
Tapi buat duduk di kantor sambil pakai headphones supaya tidak terganggu rekan kerja.
Yang paling ironis keputusan balik ke kantor ini hampir selalu datang dari orang yang kantornya punya parkir khusus, ruangan sendiri, dan tidak merasakan macet yang sama dengan karyawannya.
Kultur yang mereka maksud itu nyata.
Tapi kulturnya adalah bos bisa lihat lo duduk di kursi. Dan kalau bos bisa lihat lo duduk berarti lo kerja.
Bukan soal produktivitas. Bukan soal kolaborasi.
Soal kontrol.
For 12 years, I was married to a conventionally “nice guy.”
He never hit me. Never cheated (or at least I didn’t know and we never had infidelity issues), he never even argued much.
He was calm. Quiet. Agreeable.
In the beginning I thought that meant I was safe, and I felt lucky to have him.
Because other women had worse right?
But this is exactly why the marriage eventually failed…
His “good guy” image meant he never led.
He never decided.
He never carried weight.
So I did. I had to step in and keep the boat rowing and afloat.
Financially. Emotionally. Strategically.
And eventually I was left tired, exhausted and resentful.
Because “nice” without initiative is passivity.
And passivity turns a wife into infrastructure.
I wasn’t married to a monster.
I was married to a passenger.
And I had to step off that car that was leading me to oblivion.
@gueiava rangorang kok pd marah y liat kosan 4 jta trus ojol 1-2 jta
aku dulu kosan 4,5 mlah
tp ya emang beda level ketenanganny
sm kosan 2 juta
tiap hari kemana” naek grab/gocar
mba ny cm jwb pake standar dia, malah dkira mark up 🤣🤣🤣🤣
5 jt for some people g cukup emang di jkt gaes
Yang saya amati, negara ini jarang berpihak pada kepentingan golongan lemah, diantaranya anak-anak.
Kenapa ngotot menyetujui 335T buat MBG?
Perut siapa yang dibikin kenyang?
Kalo target utamanya anak, kenapa ribuan anak keracunan diabaikan, proyek tetap jalan terus?
Mulyono's incapability in IR was actually a blessing. At least he sent actual experts and diplomats from Kemlu to handle this nation's international relations and affairs
This criminal doesn't even know his own limitations
Gak semua cewek punya privilege dan power yang sama kayak Tasya Farasya. Leaving a marriage isn't like unsubscribing from Netflix. It's a nightmare for many. A true act of "dignity" is also having empathy for others whose battles you don't understand.