POV: Lu & Sirkel lu terlalu "Elitis" untuk komunikasi dengan Konglomerat asal negara Asia Tenggara Lainya membahas mengenai bagaimana kontribusi ke Sepakbola Negara lewat kepemilikan klub sepakbola di Eropa.
Mereka kalau mau komunikasi dengan keluarga Srivaddhanaprabha (Leicester City FC) atau Peter Lim (Valencia), mereka bisa bertanya mengenai bagaimana Kingpower Group membentuk Tim Leicester City "Fox Hunt Project" dimana sejumlah pemain muda Thailand potensial berlatih di Fasilitas Sepakbola milik Leicester City FC & menjalani pendidikan formal di kota Leicester selama 30 bulan serta mendatangkan pesepakbola berpaspor eropa yang "bisa" perkuat Timnas Thailand seperti Thanawat Suengchitthawon & duo James.
Atau mereka bisa nanya trend Youth Development sepakbola Spanyol ke Peter Lim dimana beberapa klub La Liga membentuk "International Youth Team" seperti Program Garuda Select atau Bayern World Squad sebagai wadah pemain non paspor UE untuk merasakan ekosistem sepakbola usia muda Spanyol.
Bahkan di Spanyol mereka sampai membentuk Tim C atau D untuk mengakomodir lulusan dari "International Youth Team". Praktik ini pun lumrah di Sepakbola Usia Muda Jerman.
Namun, karena tidak adanya komunikasi makanya keluar statement seperti ini.........
Boleh benci/gak suka @prabowo. Tapi soal BUMN ekspor guna memerangi Under Pricing, Under Invoicing & Transfer Pricing itu perlu kita dukung. 25thn kita dirugikan korporasi cukong2 Singapura-China. Kita sdh sangat rugi. Kini mereka tekan Rupiah & IHSG agar Presiden menyerah.
Just OUT
Menkes dilaporkan ke Polda Metro Jaya, atas dugaan pengunaan gelar (Ir.) palsu.
pelapor adalah 5 orang dokter, yang diwakiliken oleh OC Kaligis
here we go !!!
Jadi semua tuduhan Jaksa tidak terbukti.
Chromebook ga bermanfaat ❌
Kerugian negara ❌
Memperkaya diri ❌
hakim menjatuhkan vonis hukuman pakai pasal karet: “memperkaya korporasi”
pertanyaannya adalah: pengadaan mana yg ga memperkaya korporasi?
Terima kasih Pak @tomlembong sudah bicara di podcast Pak @akbarfaizal68 soal Ibam, tentang betapa semrawutnya proses dari JPU dan tuduhan yang dipaksakan.
"Jangan lelah mencintai Indonesia" jadi pengingat dan penyemangat kami di tengah banyak narasi yang diputarbalikan saat ini.
Pak Waduh... 🤦🏻
Ternyata KAI Cuma Operator, Bukan Pemilik Sinyal‼️🤦🏻
Siapa yang baru tahu kalau sistem persinyalan kereta itu bukan dipegang PT KAI? 🤔
Banyak yang ngira KAI pegang kendali penuh, padahal secara aturan (UU 23/2007), DJKA Kemenhub-lah sang pemilik prasarana. KAI tugasnya fokus di operasional dan disiplin masinis.
Bahkan ada fakta menarik:
📍 DJKA Kemenhub: Pegang ~40% porsi (Sinyal & Regulasi).
📍 PEMDA: Urusan perlintasan sebidang.
📍 KAI: Urusan operasional kereta.
Menteri Perhubungan pun kabarnya lagi mewacanakan pengalihan kelola prasarana ke KAI biar lebih efisien. Gimana menurut kalian, lebih baik dikelola satu pintu atau tetap bagi-bagi tugas seperti sekarang?
....
Amien Rais, eMBeGe, GA VIP, Batam Cirebon
Tiga pertanyaan untuk Mendikti soal LPDP digembleng TNI:
1. Sejak kapan warga sipil yang lolos IELTS, esai, dan wawancara LPDP dianggap kurang disiplin?
Mereka bahkan menghitung sendiri pajaknya tiap tahun di SPT, sesuatu yang (mungkin) prajurit tidak diwajibkan lakukan dengan kerumitan yang sama.
2. Sejak kapan warga yang pajaknya dikorupsi bertahun-tahun tapi tetap bayar PPN setiap belanja dianggap kurang berkebangsaan?
3. Kalau tujuannya supaya awardee balik ke Indonesia, kenapa solusinya pelatihan baris-berbaris dan bukan perbaikan ekosistem riset, gaji dosen, dan kepastian karier akademik di dalam negeri?
Yang bikin doktor enggan pulang itu bukan kurang nasionalisme. Tapi karena kurang lab, kurang dana riset, dan kurang penghargaan.
Kalau pemerintah serius ingin awardee pulang dan berkontribusi, cobah perbaiki ekosistem akademik dalam negeri.
Itu jauh lebih sulit, dan jauh lebih dibutuhkan.
Menurut saya, mengirim calon master dan doktor ke barak untuk diajari “kebangsaan” itu membalik logika.
Yang lazim di banyak negara: kadet militer yang dikirim ke kampus, bukan sebaliknya.
Jangan remehkan warga sipil yang duitnya bocor terus tapi masih setia bayar pajak.
Lagian, tokoh-tokoh kebangsaan terbesar republik ini sebagian besar sipil. Hatta, Sjahrir, Sukarno muda, Kartini, Tan Malaka, Agus Salim.
Tidak satu pun dari mereka yang nasionalismenya dibentuk di barak.
Mereka jadi nasionalis karena membaca, berdebat, hidup di pengasingan, dan berhadapan dengan ketidakadilan kolonial.
Bukan karena baris-berbaris.
😬