Pelajaran penting, kalau mau deketin orang, mending pas kuliah.
- 4 tahun kuliah bareng, bisa banyak belajar mengenai orang.
- sama-sama baru mulai.
- Opsi banyak, gagal 1 tumbuh 1000
- bisa/mau kuliah = sudah ngefilter banyak banget
Gagal pas di S1, masih ada S2.
Kalau gak bisa? Sebaiknya gak nyari pas S3 ataupun Post Doc (sumpah ini terlalu maksa sih)
最近在带入组的本科实习生,发现怎么读论文其实是科研训练里最容易被忽略的一步。
推荐一篇每个科研新人都该读的经典短文:S. Keshav 的 How to Read a Paper。
文章提出了非常实用的“三遍读论文法”:
第一遍,5 到 10 分钟快速扫读:标题、摘要、引言、章节标题、结论和参考文献。
目标是回答 5C:
Category, Context, Correctness, Contributions, Clarity。
也就是判断这篇论文是什么、和谁相关、假设是否合理、贡献是什么、写得清不清楚。
第二遍,认真读论文主线,但先跳过证明细节。重点看图表、实验设置、结果是否清楚、引用了哪些关键工作。
第三遍才进入深度理解:尝试像复现一样重建作者的思路,检查假设、方法、创新点和潜在漏洞。
放在今天看,这个方法和 AI 辅助读论文其实很契合。
第一遍可以让 AI 帮忙快速总结论文的研究问题、核心贡献和主要结论,但自己一定要判断这篇文章是否真的值得继续读。
第二遍可以让 AI 帮忙解释方法、实验设置、图表和不熟悉的概念,但不能只看 AI 总结。关键图表、实验设计和结果数字一定要回到原文核对。
第三遍可以让 AI 扮演 reviewer,帮你追问:这篇文章的假设是否成立?实验是否支持结论?有没有 missing baseline?有没有潜在的数据泄漏、评价偏差或过度 claim?
读论文不是“读完”就行。真正重要的是知道什么时候快速跳过,什么时候认真理解。
尤其在 AI 工具越来越强的情况下,科研新人更需要训练自己的判断力。
AI 可以帮你压缩信息,但不能替你决定一篇论文是否重要、是否可信、是否值得借鉴。
https://t.co/8gUc4HbLwR
Gw ngerasa orang-orang yang akan bisa survive di era LLM ini adalah yg punya traits ini:
* Always curious
* Always start with first principle
* Reading comprehension bagus
* Reading endurance tinggi
Gimana pendapat kalian?
Alm. Pramoedya Ananta Toer sebenernya sudah bisa membaca karakter Budiman ketika PRD gagal di Pemilu 1999, Budiman cabut dari PRD dan ambil beasiswa Ford Foundation untuk sekolah S2 di Inggris kemudian masuk PDIP.
Saya salin kembali hasil wawancara dari Playboy Indonesia yang di posting ulang oleh web https://t.co/MhBl3F6MT2 . Iya kamu gak salah baca ini wawancara dari Playboy Indonesia.
Sila disimak dan dibaca.
$TPIA dari 10,650 jadi 1,205. Turun 88%. Saham petrokimia terbesar Indonesia milik Prajogo Pangestu.
Terus 4 hari naik 62%. Dari 1,205 ke 1,955. Apa yang terjadi?
MSCI keluarkan $TPIA dari index-nya. ETF global wajib jual otomatis. BRPT dan Prajogo jaminkan 3,675 miliar saham ke BNI, BTN, dan HSBC — kalau harga terus turun, margin call bisa picu forced selling lagi. Itulah kenapa crash-nya sedalam ini.
Tapi di tengah kepanikan, sesuatu menarik terjadi.
SCG Chemicals, partner strategis Thailand yang udah pegang 30% saham sejak 2011, lepas 12,85 miliar saham. Kepemilikan turun jadi 15,71%. Raup Rp 14,33 triliun.
Kedengeran bearish? Lihat siapa yang beli.
Maybank net buy +4,98 juta lot dalam sehari. 98,1% clean buyer. DBS Vickers +3,2 juta lot, 100% bersih. UBS beli terus 3 hari berturut — +737K, +1,14M, +618K lot. Broker BUMN juga masuk — Mandiri +1,07 juta lot, BRI +777K lot.
Ini bukan retail yang average down. Ini institusi asing dan pemerintah yang serap barang SCG.
Direktur TPIA, Raymond, borong 4,57 juta saham senilai Rp 8,21 miliar selama crash. Dia beli dari 4,300 sampai 1,375. Insider yang tau kondisi internal, gak berhenti beli.
Fundamentalnya? Q1 2026 EBITDA rekor USD 421 juta. Laba bersih USD 205 juta. Integrasi aset Shell Singapore dan ExxonMobil Singapore yang diakuisisi 2 tahun lalu mulai kelihatan hasilnya. JP Morgan upgrade dari Underweight ke Netral, target 1,750.
Free float naik dari 11% jadi 25,7% setelah SCG divestasi. Saham yang tadinya terkunci di 2 tangan, sekarang lebih likuid. Proyek CA-EDC senilai USD 1 miliar udah 70% selesai, target operasi 2027.
$TPIA ini bukan cerita "saham jatuh terus bangkit". Ini cerita forced selling dari MSCI exit dan margin call yang bikin harga turun jauh di bawah nilai wajar, sementara smart money dan insider rebutan barang di bottom.
Yang bikin penasaran: Maybank beli hampir 5 juta lot di hari yang sama harga ARB. Mereka tau sesuatu atau ini average down gila-gilaan?
Riset lengkapnya ada di https://t.co/QUD828EfKY
Apakah secara historis reversal dari bottom harus didukung foreign net inflow?
IHSG naik 7,6% Selasa dan 2,7% Rabu.
Asing? Masih net sell Rp 2,45 T dan Rp 3,13 T.
Banyak yang menyimpulkan Asing masih buang barang atau ini rally ini palsu.
Sounds logical.
Tapi premisnya layak diuji dengan data.
Apakah flow Asing/Domestik ini relevan dalam menentukan ini reversal atau bukan?
Saya backtest 4 crash terbesar IHSG: GFC 2008, Taper Tantrum 2013, koreksi 2015, dan COVID 2020.
Tiga dari empat reversal dimulai saat asing masih net sell.
Di 2013 dan 2015, kumulatif flow bahkan masih negatif di bulan keenam, padahal index sudah naik 15–16%.
Inflow besar baru datang di bulan ke-5 sampai ke-12, setelah recovery terbentuk.
COVID paling ekstrem: IHSG naik 56% dalam 12 bulan, dan sepanjang itu asing tetap kumulatif net sell sekitar Rp 27 T.
Asing baru berbalik net buy bulanan pertama kali November 2020, saat index sudah jauh di atas bottom.
Apakah ini berarti 8 Juni sudah pasti THE bottom?
Tidak ada yang bisa menjamin itu, termasuk saya.
Yang bisa dikatakan dengan jujur: rebound dua hari ini terjadi di atas turnover yang naik (Rp 21,7 T → 28,0 T → 31,7 T), breadth-nya lebar, dan absennya foreign inflow bukan alasan valid untuk mendiskreditkan rally, karena secara historis memang tidak pernah jadi prasyarat.
Satu catatan lagi yang jarang dibahas. Label "asing" di data bursa itu flag pada order broker, bukan beneficial ownership.
Dengan makin umumnya struktur nominee dan jasa "masking" kepemilikan.
Garis pemisah antara "real" foreign vs domestic makin kabur.
Watch the tape, not the nationality flag on it.
Semenjak merger $DSSA x $MORA x $KETR
2 minggu ini rumahku didatangi sales MyRepublic ada kisaran 6 kali 😭
Apa ini tanda aku harus pindah dari Biznet ke MyRepublic?
Reviewnya dong user MyRepublic…
Kenapa pemerintah sebegitu ngototnya masang angka pertumbuhan yang tinggi terus?
Awalnya aku kira itu cuma buat flexing dan jaga sentimen.
Sampai akhirnya nonton satu video dari TLDR Global News, dan jadi mikir ulang.
Video ini cukup menarik buat merangkum latar belakang masalah ekonomi yang tengah kita hadapi belakangan ini. Sini aku bahas!
A thread 🧵 by Narasi Visual
Apesnya Beli HP Second🤦Waspada yah
- Abang ini habis beli hp second Samsung S25 Fe
- Sellernya dari marketplace fesbuk
- Setelah Deal, dan cek barang abangnya langsung bayar
- Dipake 2 hari, ga lama malah ke lock cicilan finance payj*y
Jelas ini adalah penipuan yah. Sayang banget abangnya ga melakukan pengecekan secara menyeluruh termasuk ke kondisi software nya juga.
Poin yang harus diperhatikan:
- Pelaku penjual hp, jika tertangkap bisa dikenakan jerat pidana karena melakukan penggelapan unit handphone yang masih aktif akad kreditnya, dan juga penipuan.
- Jika kalian beli hp second, sangat disarankan untuk melakukan reset hp on the spot dan tes ganti kartu simcard yah (ini adalah cara yang paling mudah, mendeteksi hp yang di lock finance)
Berharap kedepan sebagai buyer, lebih bijak. Dan penipu seperti ini diberikan hidayah..
SUMPAAAAH LO SEMUA PENGGEMAR BOLAAA COBA MAIN INI. DIJAMIN KETAGIHANNN WKWKW
INTINYA LU BIKIN SQUAD DRAFT GITU DAN KALO MAU MENANG LO HARUS 38 KALI WIN TANPA KALAH
LANGSUNG AJA BROO
Rupiah Rp18.049/USD , rekor terburuk sepanjang sejarah Indonesia.
IHSG -32% sepanjang 2026 , terburuk di dunia.
Bloomberg: "Sell Indonesia sweeps trading desks."
Investor global kompak keluar.
Fund manager dunia bilang: "I have zero exposure. I won't give them an opportunity."
Respons resmi Istana hari ini, 4 Juni 2026?
Mensesneg Prasetyo Hadi:
"Insyaallah sesungguhnya kita memiliki fundamental ekonomi yang cukup kuat."
Rakyat yang nyimpan uang dalam rupiah, bayar cicilan dalam rupiah, bangun masa depan dalam rupiah ,
harus puas dengan jawaban "insyaallah."
Jujur The Guardian keren banget sih.
Mereka nyediain panduan Piala Dunia 2026 secara lengkap dan gratis cooy.
Gokil sih setiap 48 negara dan total 1.248 yang ikut World Cup dibahas satu-satu secara mendetail. Kita bisa lihat setiap pemain kunci sampai kelebihan + kekurangan tim
The Cheapest Market No One Wants to Touch.
A note on JCI, the rupiah, and the silence from Senayan
On a pure valuation basis, the Indonesian equity market right now is one of the most asymmetric setups I have seen in this region in over a decade. A 40% drawdown from peak. Multiples that would make a value investor weep with joy. Banks trading at fractions of book. Commodity names priced like the cycle is permanently over. If you put this data in front of any analyst at a different house with no context at all, they’d be banging the table to go long.
And yet here they are. Not buying.
Why Cheap Is Not Enough
Valuation is a mirror. It tells you what the market thinks today. What it cannot tell you is when the story changes. And right now in Indonesia, I cannot point to a single credible signal that the policy environment is improving. Not one. That is the problem.
This is a market that has been repriced by a structural question that nobody in Jakarta seems to want to answer clearly: what is the actual development model this government is running, and who does it serve?
We have watched regulatory uncertainty pile up quarter after quarter. We have watched export policy shift in ways that punish the very sectors that attract foreign capital. We have watched governance at the state enterprise level deteriorate in ways that used to be the kind of thing emerging market investors quietly accepted, until they didn't.
"Cheap markets stay cheap for a long time when the catalyst for re-rating is political. And politics in Indonesia right now is giving me nothing to work with."
The Rupiah and the Silence From Senayan
USD/IDR at 18,050. SGD/IDR at 14,080. These are not numbers you explain away with a Fed rate cycle or global risk-off sentiment alone. The rupiah has been systematically losing credibility because the fiscal and policy signals coming out of Jakarta are, at best, ambiguous. At worst, they are alarming.
What concerns me most is not the exchange rate itself. Currency weakness is manageable. What concerns me is the institutional non-response. The DPR Indonesia's parliament has been conspicuously, almost aggressively, silent. And that silence is doing real damage.
When a currency depreciates this sharply, the population has a right to expect its elected representatives to either explain what is happening, hold the executive accountable, or at minimum ask the hard questions publicly. That is what a functioning legislature does. What we are seeing instead looks like an institution that has either lost the will to check executive power, or has made a quiet political calculation that silence is the safer play.
Neither interpretation is good for country risk. Foreign institutional investors price political risk in ways that go beyond spreadsheets. When we see a legislature go quiet during a macro stress event of this magnitude, the question we ask is: who is actually governing this country, and through what accountability structure? Right now, that question does not have a clean answer.
What Would Change My View
I want to be clear: I am not structurally bearish on Indonesia. The demographic tailwind is real. The commodity endowment is real. The middle class consumption story, however delayed, is real.
What I need to ser is actual evidence that policy is correcting. A credible signal from the executive that investor protection will be respected. A legislature that wakes up and starts performing its oversight function. A Bank Indonesia that is given the operational space to defend monetary credibility without being pulled into political theater. Any one of those three things, if done with conviction, could be the catalyst that re-rates this market fast. Very fast. Because when value this deep meets a credible narrative change, the move will be violent to the upside.
“Bull or bear we all want the same thing.
Indonesia deserves better than this, and I believe it is capable of it.”
God Bless Indonesia