@JukiHoki@Miminwashere Baru nonton full yg unedited,
Sebenernya oke2 aja format banyak jokes dari hosts dan Juri, baru tau sebenernya Suci secair ini karena ga pernah nonton langsung.
Ga tau kenapa di tv harus format sekaku itu
@loneskyraine@_BangFu Hahaha
Jadi inget gajian di kantor lama sering error sendiri karena ada "0" di depannya,
Anak2 kantor lain ga ada yg error karena ga pake angka 0 di depan (padahal pake bca semua)
*Tiup debu buku tabungan*
Sewaktu nge-tag BNI, status saya akhirnya direspon oleh BNI lewat akun resminya.
BNI bilang mereka "juga pihak yang terdampak" dalam kasus Rp28 miliar dana umat Paroki Aek Nabara. Secara teknis benar. Tapi kan ada jurang besar antara "terdampak" dan "bertanggung jawab".
Apakah mereka sedang coba menyamarkan dua kata itu jadi satu?
BNI memang keluar Rp7 miliar talangan pada 26 Maret 2026. Reputasi mereka tergerus di mana-mana (lihat saja di X). OJK dan BI sedang mengawasi ketat, dan bisa saja ada sanksi kalau terbukti lalai awasi internal.
Secara bisnis, ya, mereka rugi.
Tapi "terdampak" bukan sinonim "korban", bukan?
Benarkah klaim BNI, yaitu "ada oknum di luar sistem resmi"?
1. Andi Hakim Febriansyah bukan tukang sapu. Dia Kepala Kantor Kas BNI Unit Aek Nabara resmi.
2. Selama 7 tahun (2019 sampai 2026), dia memakai fasilitas resmi BNI sepenuhnya: layanan pick-up service untuk jemput uang, bilyet deposito BNI, rekening koran BNI, seragam, kartu identitas pegawai.
3. Suster Natalia dan pengurus Credit Union tidak menyerahkan uang ke "Andi pribadi". Mereka menyerahkannya ke BNI sebagai institusi, lewat mekanisme yang BNI sendiri sediakan.
4. Semua data transaksi tercatat di sistem BNI. Tapi yang lucu, BNI justru meminta CU menyediakan "bukti pendukung" berulang kali. Padahal catatannya ada di server mereka sendiri.
Kalau seorang pegawai bank memakai jabatan, fasilitas, dan dokumen resmi bank untuk menipu 1.900 umat selama 7 tahun tanpa terdeteksi audit internal, itu bukan "oknum di luar sistem".
Itu namanya kegagalan sistem!
Secara hukum, ada prinsip tanggung gugat pengganti (Grok bilang, istilah ini disebut: vicarious liability). Bank wajib bertanggung jawab atas tindakan pegawainya yang dilakukan dalam kapasitas jabatan.
Ini bukan opini saya, Gais. Ini ada di UU No. 10/1998 tentang Perbankan dan POJK tentang perlindungan nasabah.
Di satu sisi, BNI adalah Bank BUMN, dengan aset triliunan rupiah, punya tim hukum dan tim humas korporat yang sibuk membangun narasi "kami juga korban".
Di sisi lain, ada 1.900 umat Paroki Aek Nabara. Mayoritas dari mereka adalah petani dan buruh kecil. Mereka menabung selama lebih dari 40 tahun, rupiah demi rupiah, untuk biaya sekolah anak, dan biaya sakit.
Rencana masa depan yang sederhana, bukan?
Jawaban BNI sah secara korporat. Strategi "oknum dan tunggu dokumen" itu klasik. Tapi dari sisi keadilan, ini sangat miskin empati. Uang itu tabungan umat kecil yang dikumpulkan selama 40 tahun, bukan duit korporasi yang bisa dihitung ulang di pembukuan kuartal berikutnya.
Kalau setiap kali ada pegawai berulah, jawaban resmi bank selalu "itu oknum, bukan kami", lalu kepada siapa nasabah harus percaya?
Besok saya mau menutup rekening saya. Kalau masih antre, ya, saya tarik semua uang saya dari sana.
Kalian sendiri gimana baca sikap BNI sejauh ini?
Kalian tau apa yang bakal bikin BNI ketakutan dan bertekuk lutut buat ganti semua uang Gereja ini yang dimalingin manajemen mereka sendiri, bikin seruan supaya semua umat katolik Indonesia untuk memindahkan dananya ke Bank selain BNI atas nama solidaritas.
Gw yakin dgn seruan itu manajemennya ketakutan pasti.
Setuju banget.
Titik tertinggi HABIT adalah IDENTITAS.
Contoh orang yg bilang,
"Aku bukan perokok."
Dia tak akan merokok, walaupun ditawarkan rokok paling mahal.
Sama seperti Ramadan sekarang.
Siapa sih yg gak suka makan?
Siapa sih yg pengen laper?
Tapi, semuanya berhenti karena bilang,
"Aku lagi puasa."
Nah, untuk membentuk IDENTITAS ini perlu PEMBIASAAN.
Kebiasaan berulang-ulang.
Dalam waktu yg lama.
Jadi, bisa terbayang kan kenapa masih ada muslim yang tidak puasa?
Saat ada muslim bertahun-tahun latihan menahan lapar & haus sampai menjadi IDENTITAS,
ada mereka yang bertahun-tahun biasa saja makan nasi uduk di tengah hari.
Sampai berpuasa pun terasa asing.
Sampai menjadi identitas:
"Aku tak bisa berpuasa."
Mungkin ada yg nanya,
"Kalo udah jadi identitas gak bisa diubah dong?"
Jawabannya:
BISA ✨
Meski sulit, tapi ada satu TEORI PERILAKU yg bisa menggerakkan seseorang.
TEORI ini kugunakan juga dalam dunia digital marketing. Supaya yang gak pengen jadi pengen, dari lihat-lihat jadi transaksi.
Kalau banyak yg mau,
boleh SAVE & RETWEET ✨
Kalau rame,
Nanti aku kupas tuntas 😊
Pak Purbaya bilang kalo anggaran mentok, yang digeser nanti anggaran pembangunan dan anggaran2 lain kecuali anggaran Makan. Pilihannya hanya itu atau BBM Naik.
Kita balik logika mereka. Makan Gratis tetap diberikan jatah 1 anak 10ribu perhari, namun 1 keluarga harus bertahan dengan harga2 melambung tinggi karena BBM naik.
Cerdas sekali pemerintah kita ini.
@fadlfiiieee@xiaweno@yappingfess Inhaler Asma perlu hati-hati menjawab kalo disamakan dengan wewangian atau sebagainya,
Penggunaan inhaler asma bisa mempertaruhkan nyawa, poinnya di situ dulu. Kacamata kasusnya bisa jauh berbeda.
yang marah marah sama twit ini aneh pol.
1. kalo non muslim, ngapain marah? disitu jelas ada tulisan ‘aurat’ yg mana itu istilah dalam syariat islam. jelas audiens yg dimaksud bukan kalian.
2. kalo muslim, lebih aneh lagi. istighfar. kok bisa bisanya marah sama perintah Allah?
mau ramadhan ih tobat
@lilaccountz Khusus Inhaler yg dimaksud sendernya adalah inhaler asma, obat itu sangat kecil jumlahnya dan masuknya ke paru-paru, tidak masuk ke lambung.
Kalo dari Tarjih Muhammadiyah sudah pernah dibahas dan hasilnya memang dibolehkan
https://t.co/foikJGyaD6
Karawang - Jakarta 70 KM lebih jauh dari Bogor dan Tangerang
Kawarang penghasil beras, lebih dari 1 juta ton gabah
Apakah kita ingin mendorong lebih banyaak pekerja Jakarta Bekasi Cikarang utk beli rumah di Karawang hasil urugan sawah?
Habis "kapitil" terbitlah "Tailan"
Ya, betul saudara2. Per Mei 2025, nama resmi Thailand berubah menjadi Tailan dalam bahasa Indonesia.
Ini adalah keputusan yang dibuat oleh BIG (Badan Informasi Geospasial) setelah berkonsultasi dengan Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Kementrian Luar Negeri, dan eksper (ya, ini baku saudara2) dari Fakultas Ilmu dan Budaya Universitas Indonesia.
A surgeon(Xi Wei) in Nanjing secretly payed medical expenses for over 100 of impoverished cancer patients over 14 yrs under the guise of a "charity organization."
Whenever patients couldn't afford treatment, he would reassure them by saying, "Don't worry, I'll notify the charity
Karena Gubernur Jabar lagi ngurus Sumatra, Gubernur lain ada yang mau bantu Jabar nggak?
Sok silih tukeuran provinsi we ayeuna mah, meh asa anyang-anyangan