Hasil bikin academic retwit kmrn,jadi ada beberapa hasil temuannya
Teori dasarnya pake Herzberg’s two-factor theory dan social exchange theory
-sebuah utas kalo pengen-
#KaburAjaDulu dari perspektif HR, #KaburAjaDulu itu kayak resign, dosen saya dulu pernah bilang “people don’t quit their company, they quit their boss”
Ada lagi Herzberg’s two-factor theory, yang salah satu faktornya disebut hygiene factor yang ketiadaannya memicu ketidakpuasan
“Saya belajar sendiri, dari buku/ internet.”
Said (almost) no Indonesian ever.
Hasilnya ya gini kalau nggak “dipaksa” belajar. Pas sekolah dilulus-lulusin. Pas kuliah dijokiin. Bonus demografinya yha Indonesia cemas 2045. 🤷♂️
Jujur permainan kaya gini nih jadi salah satu perusak dari masalah ekonomi, pertemanan, rumah tangga, bahkan hingga merampok dan bunuh diri 🥲
please stop main kaya gini‼️
Jangan di kira negara lain tidak mengamati kurikulum kita yang gak jelas & selalu gonta ganti itu.
Dampak nya ,Karena di hapus nya Ujian Nasional sejak tahun 2020, lulusan SMA kita gak bisa di terima di Belanda. Sementara di Jerman, standar nya untuk lulusan SMA kita untuk dapat di terima ,di tinggikan jadi 85 .
Berarti karena kebijakan pemerintah yg tidak tepat di bidang pendidikan , mereka anggap mutu lulusan SMA kita kurang berstandar . Duh kasihan anak2 🤦
Apakah kita sadar, hukum yang mengatur hidup kita setiap hari ternyata adalah produk politik?
Dari regulasi ketenagakerjaan, upah, hingga outsourcing—semua ini ditentukan oleh politik hukum!
Bagaimana pengaruh Politik Hukum pada hidup kita sebagai pekerja?
--SEBUAH UTAS--
10. Japan promotes health over profits
Compared to Western countries, Japan prioritizes the health of the population over corporate interests.
This doesn’t mean that food or pharma companies have no influence.
It means their ability to sway public health policy is more limited due to government regulation, cultural practices, and a strong emphasis on preventive care.