I misunderstood Na Willa
~Retrospective Review~
*SPOILER*
Setelah nonton Na Willa, jujur saya termasuk yang agak kecewa. Narasi bahwa film ini akan lebih baik dari Jumbo membuat ekspetasi saya akan film ini terlampau tinggi. Namun setelah beberapa hari terus kepikiran sama film ini, saya baru sadar kalau karakter utama di film ini itu Mak bukan Na Willa, setidaknya itu intepretasi saya.
Awalnya saya kesal bagaimana film ini sepertinya hanya menggabungkan kisah Na Willa yang terfragmentasi, tidak jelas tema besar yang ingin dibawa selain hanya kepolosan anak anak di masa itu, film ini awalnya terasa seperti nostalgic fest untuk orang tua saja.
Tema besar seperti transformasi kepompong terasa disconnected, karena karakter Na Willa tidak bertransformasi, Na Willa itu apa adanya.
Setelah saya renungkan, film ini mau menekankan soal kejujuran, bahwa orang tua mungkin kurang menghargai kejujuran anak anak. Pada akhirnya yang saya tangkap transformasi karakter justru terjadi pada Mak, ibunya Na Willa.
Mak lah yang akhirnya bertransformasi jadi kupu kupu. Ia yang akhirnya berani melepas Na Willa untuk sekolah, Mak lah yang akhirnya sadar bahwa ayam itu bukan keinginan Na Willa, tapi 'alasan' dirinya yang takut melepas Na willa, Mak yang akhirnya berani menghargai kejujuran Na Willa dan memberikan sekolah yang tepat.
Ini jelas sangat berbeda dengan Jumbo, dimana nama yang juga jadi judul filmnya dalah karakter yang sedang diuji, sehingga jelas karakter Jumbo lah yang saya beri simpati dari awal film.
Kisah Na Willa yang terfragmentasi itu pada akhirnya adalah ujian-ujian kecil untuk Mak menjadi orangtua yang lebih baik.
Ini memang film yang lebih cocok buat orang tua. Supaya kita bisa kembali melihat dunia lewat kacamata anak anak yang jujur dan apa adanya.
Maaf bang @Adriandhy mungkin intepretasi saya kejauhan😁 tapi dengan memahami film ini lewat sudut pandang Mak (bukan hanya Na Willa) saya justru lebih bisa mengapresiasi film ini. Jujur, ini film dengan narasi yang unik, dan punya layer penceritaan yang dalam.
pernah ke masjid di Singapore tuh sempet liat display2 nya bagus banget, isinya bukan acara seremonial aja, tapi kita bisa konsultasi ke semacam ke ustad yang emang punya kompetensi disitu kalau punya masalah. Misal kalau kita habis dipecat dari kerjaan gitu bisa konsul kesana. Gua pikir keren juga nih masjid konsepnya
@esonoku I like how you have to scan the enemies find weakness and use certain weapon to defeat it. It's definitely better than ubisoft game while most of it just brute force attack and boring stealth gameplay
@MorphoMenelausX@Shytonirojimn@indra_kencana kementrian itu sebenarnya lembaga autopilot, yang beneran kerja ya dirjen2 yang udah belasan tahun kerja disana. Makanya paling enak ya duduk anteng aja, kalau banyak gebrakan malah akan bermasalah
@Hnirankara btw sistem LPDP memang harus dibenahi harusnya memang ada subsidi buat orang daerah bisa ikut tes nya, tapi ingat LPDP sendiri itu bukan subsidi tapi investasi. Ibaratnya pssi kita ngapain mahal mahal naturalisasi, kenapa gak rekrut aja pemain liga kampung untuk main di timnas?
@puty ini betul, gua juga banyak survei kok sama temen2 terdekat yang emang pad mampu dan jawabannya memang mau milih yang pasti pasti aja, toh hidup mereka juga udah nyaman gak perlu ada perubahan. @kinoooyy
@tekarok007@kripikacangijo LPDP itu jangan dilihat sebagai subsidi tapi investasi. Logikanya ngapain kita bayar mahal pemain naturalisasi, kenapa ga rekrut aja pemain liga kampung buat main di timnas
@JDtheVoice91@DarkIxion I'm not read the comic but I don't understand what's wrong with being stealthy? Yes Wolverine can regenerate but it doesn't mean he will brute force all the time, he still feels pain and sometimes being stealthy is more efficient
@badanekspor@PlaymenID katanya versi insomniac ini kalau jantungnya berhenti dia bisa mati, makanya Wolverine nya harus tetap agresive, beda sama versi comic yang op banget
@BankaiSakaii Neil Druckmann should be fired, no new game since TLOU part 2, the mediocre remake doesn't count. Faction was his problem, make it a new separate MP game because the scope will be bigger and then cancelled it because the scope was too big too handle
@ardisatriawan 2029 persaingan antara Gibran vs Prabowo, kita akan lihat buzzer mana yang paling keras. Kalau di sepakbola ada Haram Ball, di pemilu nanti akan ada Haram Election
@ardisatriawan lebih sulit membuktikan kalau fufufafa itu bukan Gibran daripada sebaliknya, makanya kominfo yang tadinya mau press release soal fufufafa langsung gak jadi🤣