Halo kawan-kawan, aku Cho Yong Gi (조용기).
Ketika pembungkaman kebenaran dan pelanggengan penindasan terjadi, diam bukanlah satu-satunya pilihan.
Ketika panggilan hati nurani memanggil, bersuaralah dengan penuh keberanian.
Tak perlu takut.
Ayo saling jaga.
"My focus should be on staying true to myself and being the best professor I can be—not on trying to change how others perceive me." #ScienceWorkingLife https://t.co/A2kw0lwZKZ
Tidak apa-apa negara susah berkembang, yang penting anak-anak koruptor tidak kesusahan hidupnya. Mereka harus bisa tetap sekolah di luar negeri, hidup berkecukupan, dan punya kesempatan jadi pejabat berikutnya. Pemerintah dan negara harus selalu hadir menjaga anak koruptor.
kepala pemerintah dr negara dgn penghasilan per kapita 70 ribu dollar memberi pesan penting tentang dampak tarif amrik dari kantornya yg mirip ruang dosen
Ketika Negara Memelihara Kebodohan dan Kemiskinan
Jika kalian masih ingat dengan esai saya yang berjudul “Bagaimana Jika Kemiskinan dan Kebodohan Sengaja Dipelihara?”, mungkin kalian akan menemui konteks yang sama pada esai kali ini. Namun, saya lebih mengedepankan data dan tetap menggunakan provokasi dalam esai kali ini, kenapa?
Karena menurut saya, orang-orang yang dimanfaatkan harus sadar, bahwa “kemiskinan” dan “kebodohan” mereka adalah bukti gagalnya negara dalam rangka mensejahterakan rakyatnya. Dan, ya, kemiskinan dan kebodohan yang dipelihara itu hingga saat ini masih saja berjalan, bahkan di depan lensa kamera yang beredar luas di media sosial.
Indonesia, sebuah negeri yang katanya merdeka, namun rakyatnya masih saja terbelenggu dalam jerat kemiskinan dan kebodohan yang tak kunjung usai. Di bawah langit kelabu Jakarta, anak-anak bertelanjang kaki mengejar sisa harapan di antara tumpukan sampah, sementara ibu-ibu mereka mengantri demi segenggam beras dan sebotol minyak goreng.
Ya, kita bicara tentang Indonesia, tanah air yang katanya kaya raya, tapi penuh luka. Di sini, negara tak lagi menjadi pelindung, melainkan dalang yang dengan cerdik memelihara penderitaan rakyatnya sendiri.
-Sebuah Esai-
1) Itu skripsi Bu, bukan jurnal top.
Skripsi dibandingin sama paper di Nature?
Seriusan?
Beda tujuan, beda pembaca, beda isi, beda level penulis, dan beda juga apa yang ditulis.
Biaya riset paper di Nature juga gak mungkin dari pribadi mahasiswa.
2) Kan Ibu Wakil Menteri Dikti?
Ketok-ketok lah itu ruangan Pak Menteri di sebelah.
Atau invite di kalender, pinjem ruang rapat sebelah.
"Pak, skripsi-skripsi di kampus ini terlalu prosedural dan panjang."
"Kita rumuskan peraturan menteri yang mengatur skripsi isinya apa aja dan berapa halaman."
Kan Ibu punya segala kuasa dan sumber daya buat mengubah itu?
korea selatan:
- demokrasi terawat
- kekuasaan terkendali
- industri maju pesat
- kpop membahana
melayu selatan:
- demokrasi tercabik
- kekuasaan terkonsentrasi
- industri bangkrut pesat
- phk membahana
Presiden kita pak Prabowo adalah pemimpin dengan hati. Dia tidak akan senang melihat kemiskinan dan penderitaan. Itulah cita2 nya yg tak berubah. Maka mari kita bersikap positif, ambil kesempatan untuk memperbaiki keadaan diri; ekonomi, kesehatan, dll. Ayo kita bersama. 🙏🙏
“Doctor, have you seen my son, [name]?”
“Don’t tell me his name, sister… Tell me what he was wearing… The bodies we have are without heads.”
— Gaza, 2025