!! GIVEAWAY !!
Gaes, Baca mau kasih 5 buku buat 5 orang pemenang yang beruntung nih 🥳
Caranya gampang kok.
1. Kamu adalah follower
@penerbitbaca
2. Like & retweet tweet ini.
3. Sebut judul buku terbitan Baca yang pengen kamu baca lalu tag 2 orang temanmu.
PENJIPLAK MINTA DIHARGAI
Ketika menjabat redaktur koran milik grup Jawa Pos tahun 2000, aku pernah menemukan tiga berita dari salah satu reporterku hampir sama isinya dengan berita di beberapa koran besar di Medan. Kubilang kepada pemimpin redaksiku, Choking Susilo Sakeh, bahwa aku perlu memanggil reporter kabupaten itu ke kantor, dan dia setuju.
Ternyata reporterku itu tidak menjiplak, tetapi justru beritanya sering dijiplak oleh wartawan koran lain. Dia menunjukkan bukti-buktinya kepadaku. “Karena aku masih wartawan pemula, Bang, aku tidak berani menolak setiap mereka minta kertas faks beritaku,” katanya. Kuminta dia berjanji tidak membagikan liputannya lagi kepada wartawan lain.
Sepuluh tahun kemudian, saat menjabat pemred koran mingguan, aku pernah meminta pemilik koran itu memecat seorang redaktur yang terbukti menjiplak. Tidak tanggung-tanggung, dia memplagiat beberapa foto dan artikel tentang ulos Batak dari sejumlah situs web, salah satunya tulisan budayawan Monang Naipospos, dan menggabungnya menjadi satu artikel sepanjang dua halaman koran, yang terbit bersambungan dalam dua edisi. Di bawah judul artikel itu tercantum namanya sendiri sebagai penulis, tetapi dia tidak menyertakan alamat domain sumber kutipan, nama para penulis asli, serta nama para fotografer.
Sebelum dipecat, si redaktur sempat membela diri dalam rapat bersama dengan pemilik koran, yang juga dihadiri beberapa staf redaksi. Aku melongo, dan kawan-kawan lain tersenyum, ketika redaktur itu berucap tanpa merasa bersalah:
“Ini pelecehan Pemred kepada saya. Hasil kerja saya tidak dihargai, padahal saya sudah capek-capek mengumpulkan bahannya dari internet.”
Bah, orang lain capek-capek berpikir, menulis, dan memotret, tetapi dia pula yang mengaku capek dan ingin dihargai karena menjiplak. “Sudah membusukkan jurnalisme, arogan pula,” kata pengarang Nestor Rico Tambun di Facebook.
—Facebook Jarar Siahaan