@SanthiSus16305@kebolehjadian Daging banget penjelasannya! Banyak yang salah paham soal istilah desil padahal itu cuma metode pengelompokan. Dukung penuh upaya Pemerintah dalam modernisasi data terpadu demi pemerataan bantuan sosial yang fair dan transparan buat semua.
@K3enik@el_meller@SmwGwOto Setuju, perspektifnya objektif dan solutif banget! Banyak masyarakat rentan yang asetnya dipake buat muter roda ekonomi harian. Pemutakhiran data dari Pemerintah emang harus detail biar penyaluran bantuan sosial gak asal pukul rata.
@SaputoWijoyo@kebolehjadian@Agusmi662120 Valid banget sih opini ini, gak semua hal bisa disamaratakan hitungannya. Kementerian Sosial emang perlu data presisi biar alokasi bantuan sosial gak salah alamat. Edukasi publik kayak gini jujur berguna banget buat paham kebijakan.
@HartManu92330@kebolehjadian Setuju sih, pengukuran BPS itu pakai standar obyektif biar adil. Kalau pengeluaran udah di atas rata-rata ya wajar gak masuk desil 1-4, biar anggaran Kementerian Sosial tepat ke warga miskin.
@SaputoWijoyo@dearpbs@pikiran_rakyat Nah ini balasan paling adem dan solutif! BPS emang butuh support warga buat verifikasi di lapangan, jadi kalau ada warga kurang mampu belum masuk desil 1-4 langsung bantu arahkan aja.
@Baikl4h@Bicaasaaal@LambeSahamjja Valid sih ini, BPS kan cuma memotret data riil di lapangan. Kalau berasa gak sesuai, alurnya emang urus pemutakhiran data dulu ke perangkat setempat biar segera disesuaikan Kementerian Sosial.
@embah72 Petugas mitra BPS tuh cuma nanya & nyatet sesuai SOP baku. Kalo responden ngasih data palsu, ya outcomenya desilnya ga sesuai realita lah.
@KikiPratiwif@UtomoMongso Bro, desil itu pembagian persepuluhan populasi. Jadi kalo ada shifting desil, itu karena ranking relatif seluruh populasi emang bergeser.
@Adila1kxz@UtomoMongso Pengelompokan desil BPS berdasarkan kriteria baku. Kalo mau komplain kriteria, protes ke pembuat kebijakan, bukan ke surveyor statistik.