جزاء المعصية الوهن في العبادة والضيق في المعيشة
Balasan (pengaruh) yang ditimbulkan setelah maksiat adalah lemah dalam beribadah dan merasa sempit dalam menjalani kehidupan
@idextratime Kalo menurutku, tetep salah si John Herdman sih.
Cobaa aja pas natalan saat itu dia lebih milih interview dg Yang Mulia ET, bersaing cv dengan manusia yg rumahnya di bawah batu itu wkwk alih-alih kumpul keluarga dan menjalankan ibadahnya 😭🙈
@Mudiiinn@TAUFANALFA17284@idextratime Kalo kebanyakan target tapi nggaada yg create chance ya sama aja kaya timnas jaman bambang dulu. Ketika Firman Utina under, serangan tim juga ikut under
Mungkin yg dimaksud doi, mungkin Ezra bisa jadi pembeda dr yg lain mengingat menit bermainnya juga lumayan
Sekarang aku mengerti mengapa ada pepatah yang mengatakan:
“Anak yang paling banyak dosanya adalah anak yang tinggal bersama atau merawat orang tuanya.”
@faiqurrahman_@SoftWarNews Masalahnya tuh satu-satunya yg mau bantu mereka, itu negara adidaya yg banyak nguasai berbagai bidang.
Tapi semoga era itu akan segera berakhir
Bagaimana pun masa lalu kita, Ramadan datang sprti hujan yg membersihkan jalanan berdebu. Ia tak menghakimi, tp tawarkan pelukan paling hangat bg siapa sj yg mau pulang & perbaiki diri.
Krna sebaik-baik jln pulang itu mengakui kesalahan & biarkan ampunan-Nya membasuh luka kita.
إنّهــــم متطلبــــون للغايــــة، يريــــدونك أن تكــــون مثاليًّــــا، كأنــــك لســــت إنسانًــــا
Mereka memang suka menuntut. Menginginkanmu jadi sosok sempurna, seolah kamu bukan manusia
@Foottimeid @utdfocusid Yaa pilihannya sekarang, dia mentorin si Ugarte. Meskipun nanti bakal beda karena Case punya modal mental yg bagus
Tp at least sedari sekarang sampe akhir musim Ugarte harus bener2 serap ilmu yg banyak dari Case
وأيُّ ضَياعٍ أَكْبَرُ مِن إِطفاءِ أَنْوارِ العِلْمِ فيكَ، والاشْتِغالِ بما لا يُصْلِحُ دُنْيا، ولا يَعْمُرُ آخِرَة
Adakah yg lebih rugi dari:
1. Hilangnya cahaya ilmu dalam dirimu
2. Sibuk dg sesuatu yg tak manfaat bagi duniamu dan
3. Tidak pula memakmurkan akhiratmu?
Saya membeli kitab ini karena ada seorang anak Salafi yang mengatakan bahwa isinya bagus. Namun setelah saya baca, ternyata tidak jauh berbeda dengan karya-karya Wahabi lainnya: penuh framing dan mengutip qaul ulama secara tidak utuh.
Saya langsung menuju ke inti pembahasan, yakni perbedaan paradigma syirik antara Wahabi dan Ahlussunnah (Asy‘ariyah–Maturidiyah). Penulis menolak rumusan Ahlussunnah bahwa suatu perbuatan baru dapat dikatakan syirik apabila disertai keyakinan ilahiah, lalu berargumentasi dengan beberapa ayat al-Qur’an.
Namun setelah dicek, dalil-dalil tersebut tidak tepat sasaran dan sangat jauh dari klaim yang dibangun. Yang tampak justru praktik framing. Salah satu contohnya adalah dalil pertama yang ia ajukan. Penulis menggunakan kata “aqarrū”, padahal para ulama tafsir—di antaranya Ibnu Katsir—menggunakan kata “i‘tarafū”.
Padahal, kedua istilah ini berbeda secara makna dan konsekuensi teologis. Pemilihan kata “aqarrū” secara sengaja mengarahkan pembaca pada kesimpulan bahwa ayat tersebut berbicara tentang keyakinan, padahal teks tafsir yang otoritatif justru tidak menunjuk ke sana.
Penulis juga mengutip sejumlah ulama tafsir seperti al-Thabari, Makki bin Abi Thalib, al-Nasafi, dan lainnya. Namun, kutipan-kutipan tersebut tidak disajikan secara utuh, dan bahkan maknanya tidak sesuai dengan klaim yang hendak dibangun oleh penulis. Insyaallah, persoalan kutipan ini akan saya bahas tersendiri dalam bentuk artikel khusus.
Dan, sekali lagi, saya merasa kecewa. Karya ini tampaknya memang ditujukan untuk konsumsi internal kalangan mereka sendiri, bukan ditulis dalam semangat kajian ilmiah yang jujur dan terbuka. Pendekatan yang digunakan lebih bersifat apologetik—berupaya membenarkan satu mazhab pemikiran—daripada akademik yang menguji argumen secara adil, utuh, dan proporsional.