Selamat untuk kak @enolaholmeskw sudah memenangkan #ayotraktirbuku kali ini.. buku-bukunya bagus 🥺 agak bingung milihnya 🥺 mungkin bulan depan saya akan pilih lagi ya Mas Mbak sekalian dari yang sudah reply hingga kemarin, semoga menjadi rejekinya 🫶
Tips ala-ala dari aku
1. Punya sense of urgency (pikirkan efek berantai klo suka menunda)
2. Punya deadline sendiri
3. Buat sistem (tujuan + deadline + plan + konsisten) => pakai tools kayak google sheet atau notion
Jangan pernah nunggu ngerasa siap karena siap itu keputusan, bukan perasaan.
Valid banget! Manusia emang butuh "carrot & stick" biar beneran eksekusi dan konsisten.
Pengalaman saya pribadi, udah pegang materi CFA level 1 dari semester 5 kuliah, niatnya mau daftar exam kalau udah siap.
Kenyataannya molor terus sampai lulus dan kerja setahunan.
Alesannya klasik, dari sibuk kuliah, lanjut sibuk kerja, plus selalu ngerasa belum siap.
Turning pointnya pas kantor tiba2 daftarin ujian CFA level 1.
• Stick-nya: Beban moral dan malu kalau udah dibayarin tapi gagal.
• Carrot-nya: Ada bonus yang nunggu kalau lulus.
Dari yang tadinya pinter nyari alasan buat skip belajar, tiba2 jadi jago nyempilin waktu.
Sebelum berangkat ngantor, lunch break, after work, sampai weekend dihajar buat ngedrill.
Mekanisme "kepepet" ini yang akhirnya works dan kebawa terus sampai beres Level 3.
So, find your own "carrot and stick".
Kalau cuma ngandelin motivasi dan nunggu siap, most likely ujung2nya cuma jadi unfinished business seumur hidup.
Prinsip yang selalu gue pake 'be good at your job (I agree document it to certain extend), be nice to everyone, don't trust anyone fully (including me), have courage to be hated, and have let them mindset...'
And you'll see who is your person is
Lagi seleksi calon maganghub buat tim gua terus bos gua bilang gini, “pilih yang kampusnya paling nggak terkenal, pengalaman kosong, kasih kesempatan mereka buat dapat pengalaman kerja, saya nggak peduli IPKnya berapa aja” 🥹🥹
Success is largely genetic. You need to be born with a subset of pre-determined traits, in order to be successful by metrics of human performance:
- High Intelligent (Ability to solve complex problems)
- High conscientiousness (Ability to work long hours without tiring out)
- Low Agreeableness (Task prioritisation and defense against exploitation and manipulation)
- Low Neuroticism (Ability to deal with extreme amounts of stress)
- A sense of never ending restless (insatiable greed, i.e ambition)
Kalimat dari bos gue itu jujur banget sampai rasanya kayak ditampar bolak-balik:
"Ril, kalau cuma nulis Bahasa Inggris doang, gue lebih jago. Kalau cuma ambil data doang, gue juga lebih jago. Gue butuh INSIGHT lo yang jelas!"
Gue yang waktu itu sempat ngerasa "paling kepake" di tim gara-gara fasih Bahasa Inggris dan lancar query data, langsung kicep. Muka rasanya merah padam. Ego teknis yang gue pupuk bertahun-tahun runtuh seketika.
Tapi pas rasa tengsi gue udah adem, gue baru sadar betapa mahalnya kalimat itu.
Bos gue yang tipikalnya keras, cepat, dan gak suka basa-basi itu sebenarnya lagi meruntuhkan krisis identitas yang sering dialami anak-anak data/IT:
Kita sering terjebak mikir kalau value kita di kantor itu ada di kemampuan eksekusi teknis.
"Gue bisa bikin visualisasi dashboard canggih." "Gue bisa narik 100 ribu baris data tanpa error." "Gue bisa nulis email laporan pakai Bahasa Inggris yang sangat polished."
Padahal di mata pimpinan, semua itu cuma kemampuan komoditas.
AI bisa narik data lebih cepat dari lo. Tools otomatisasi bisa bikin chart lebih rapi dari lo. Dan bos lo—yang gajinya lebih besar dan pengalamannya lebih matang—jelas punya kemampuan komunikasi eksekutif yang lebih tajam dari lo.
Kalau lo cuma ngandalin hal-hal teknis itu, nilai tawar lo di korporat sebenarnya sangat rendah. Lo cuma operator sistem, bukan pikirannya.
Yang bikin seorang profesional itu gak gampang digantikan (irreplaceable) cuma satu: Sudut pandang kontekstual yang tajam (INSIGHT).
Data: "Angka A turun 15% di minggu ini." (Siapa aja bisa baca). Information: "Angka A turun 15% karena ada kendala operasional di vendor X." (Tukang ketik laporan bisa bikin). Insight: "Vendor X bermasalah karena aturan baru dari tim regulasi. Kalau kita geser 30% volume ke Vendor Y besok pagi, kita bisa cegah rugi operasional dan balikin performa dalam 3 hari." (Ini yang dicari pimpinan!).
Bos gue yang galak itu gak butuh gue buat jadi "kalkulator berjalan" atau "alat penterjemah Bahasa Inggris". Dia butuh otak gue buat mengkorelasikan angka di layar sama realita di lapangan.
Teguran brutal itu ngubah cara kerja gue selamanya:
Berhenti bangga cuma gara-gara lo bisa ngoperasikkan tools rumit. Tools itu cuma cangkul. Yang bikin lo dibayar mahal di korporat bukan seberapa bersih cangkul lo, tapi seberapa banyak hasil panen solusi yang bisa lo bawa ke meja keputusan.
Ini baru namanya support sistem sampai ke akar akarnya! 💚
Punya tradisi saling support untuk nyekolahin para cucu hingga tamat kuliah! Memastikan anak cucu ga ada yg berjuang sendiri🥹 👩🏻🎓👨🏻🎓
Sungkem dulu sama yang duduk di kursi, itu pasti para donaturnya.
hal gratis yg bisa merubah hidupmu:
1. disiplin
2. kerja keras
3. muka tebel
4. datang tepat waktu
5. mau belajar hal baru
6. rajin olahraga
7. mau terima input
"ada bagian dari ibumu yang tak pernah pergi dari tubuhmu, itu adalah mitokondria. ia hidup di setiap sel tubuhmu, memberi energi agar kamu tetap hidup"
terharu pas baca, ternyata ibu ga pernah benar-benar meninggalkan kita 🥺🥺
Major cheat code in life: Be the one who reaches out. Text first. Call first. Plan first. Initialize first. Most people wait to be chosen. Be the chooser. Connection requires initiative. Friendship requires effort. Love requires action. Stop waiting to be picked. Start picking. Initiative is attractive.
Untuk lulusan teknik seperti saya. Apalagi (dulu) ga pernah nyentuh perihal keuangan (kecuali keuangan ormawa).
Perlu belajar paham tentang dasar akutansi. Salah satu buku yang saya rekomendasikan karangan Weygandt Kimmel Kieso, untuk anak Teknik cenderung cepat kalau terbiasa math.
> be Andrew Ng
> Stanford. teach ML to a few hundred students.
> 2011. put the course online instead. 100,000 sign up.
> realize the classroom was never the limit
> co-found Coursera. millions learn from you.
> build Google Brain. lead AI at Baidu.
> everyone chases the flashiest model
> you keep teaching the next wave to build
> agents get hyped. marketers slap "agentic" on everything.
> you cut through it with a course on what actually works
> knowledge graphs. multi-agent systems. real architecture.
> while everyone argues on X about loops vs graphs
> you already shipped the lesson
> the man who taught the internet machine learning
> just did it again for agents
> different game.
lagi makan malam di kafe gerbong KAI, duduk depan bapak-bapak yang dari awal cerita soal anaknya: satu lulusan doktor dan kerja di luar negeri, satunya kuliah di UGM. gue cuma “oh iya, oh iya” sambil lanjut makan 😭
sampai akhirnya beliau nanya gue. gue jawab singkat: orang surabaya, kuliah di UB, sekarang tinggal di jogja sama ibu dan adik, kerja di pabrik. beliau langsung diem. terus nyaranin gue buat kerja jauh, ke luar negeri, papua, ikut ini itu.
gue cuma jawab, “saya masih punya ibu yang harus saya jaga.”
orang tua saya tinggal satu. beliau diem lagi.
kadang orang lupa, nggak semua anak punya fasilitas yang sama. dan nggak semua kesuksesan harus diukur dari seberapa jauh kita pergi. ada yang sukses karena bisa pergi jauh, ada juga yang memilih tetap dekat karena masih ada orang tua yang harus dijaga. 🤍v
Parameter ibu sukses bukan ditentukan oleh lahir spontan apa SC, ASI apa sufor, MPASI Jepang apa Ngawi. Ibu sukses itu adalah ibu yang sudah memberikan yang terbaik sesuai dengan kebutuhan anak dan kondisi ibu. Semangat! 💪🏻
Underrated life advice: Become a beginner again. Join a run club. Learn the piano. Take up painting. Try woodworking. Plant a garden. Teach yourself to cook. Whatever. It slows you down. It’s a small rebellion in a world that wants you to do everything with some purpose in mind.
"Yunus didn't find PEACE in his escape." ini lumayan kena sih jujur :3
buat kamu yang sedang lari dari tanggung jawab mu. mungkin artikel ini bisa sedikit membantu? artikel ini membahas tentang kisah nabi Yunus AS dan mengaitkannya dengan pelajaran hidup di masa sekarang.
benar juga setelah tertelan ikan beliau tidak mulai dengan meminta "Ya Allah, keluarkan aku." beliau memulai dari mengakui kesalahan, memuji Allah, dan menyerahkan dirinya kepada-Nya.
bahkan amalan doanya selalu aku amalkan sambil bersujud setelah selesai sholat.
lailahailallah anta subhanakan ini kuntum minaddolimin.