Mengapa Kalium (K)?
Pernah gak lihat tanaman yang daunnya hijau subur, batangnya tebal, tapi buahnya mungkin cukup besar, tapi rasanya kurang manis, atau mudah kena penyakit? Atau malah daun pinggirnya menguning lalu gosong seperti terbakar, padahal airnya cukup?
Nah, ini pembahasan lanjutan setelah N dan P dalam skema NPK, yaitu Kalium (K). Jika N adalah pupuk fase vegetatif, P transisi, K adalah fase akhir alias generatif.
Cont...
#literasipertanian #kimiatanah #biologitanah #NPK #pertanianorganik
Mengapa Fosfor (P)?
Pernah gak lihat tanaman yang ijo royo2, tapi tapi gak panen atau sangat rendah? Nah, inilah pembahasan selanjutnya setelah N dalam skema NPK, yakni fosfor alias P.
Dalam sejarah, sebelum 1840 gandum Eropa mentok 1 ton/ha karena tanahnya kehabisan P. Tahun 1842 John Bennet Lawes nemu "superfosfat" dari tulang + guano yang direndam asam sulfat - jadi pupuk P pabrikan pertama. Hasilnya, uji Rothamsted Inggris buktikan lahan pake superfosfat panennya naik 2.5-3x lipat. Gandum Inggris pun naik dari 1 jadi 2.5-3 ton/ha dalam 50 tahun. Revolusi fosfor ini yang nyelametin Eropa dari kelaparan. Luar biasa bukan?
Cont...
#LiterasiPertanian #KimiaTanah #NPK #biologitanah
Mengapa Urea?
Urea saat ini jadi raja pupuk di Indonesia. Murah (apalagi yang subsidi), mudah didapat, dan efeknya langsung kelihatan: daun hijau dalam hitungan hari, tanaman “ngegas” tumbuh cepat.
Petani suka karena dompet tidak langsung tipis, rezim suka karena produksi pangan terjaga, dan korporasi senang karena penjualan menggunung.
Cont....
#LiterasiPertanian #KimiaTanah #BiologiTanah
Satu kilogram urea mengandung 46% nitrogen (N). N adalah salah satu unsur hara primer yg dibutuhkan tanaman dalam skema N, P dan K. Kandungan 1kg urea jauh lebih padat daripada pupuk kandang atau kompos. Kompos itu paling2 hanya 1-2% saja N nya. Artinya, kalau mau setara N 1kg urea, butuh kompos 23-40an kg. Bayangin saja kalau kamu nanam 1ha padi yg butuh 200an kg urea harus diganti berapa ton kompos itu? 10 ton? Ya, gak sekasar itu juga sih.
Dulu, aneka pupuk kimia seperti urea ini dibuat untuk menggenjot produksi pertanian. Dan faktanya memang menyelamatkan miliaran orang dari kelaparan. Tapi seperti obat kuat, urea selain bikin ketagihan juga merusak tubuh tanah. Mikroba mati, tanah lebih asam, cacing kabur, dan kita semakin bergantung pada “obat” yang sama.
Selain itu, urea sebenarnya bukan pupuk yang ramah. Di tanah, urea diubah jadi amonia oleh enzim urease, lalu jadi amonium, lalu nitrat. Tapi sebagian besar (bisa sampai 50-70%) hilang sia-sia — menguap ke udara sebagai gas N₂O (300 kali lebih ganas daripada CO₂ sebagai pemanas global) atau tercuci ke sungai bikin ikan mati dan air minum tercemar.
Petani tetap bayar, lingkungan yang nanggung, korporasi yang paling untung. Petani? Mungkin mula2 akan senang sebab panenannya meningkat, tapi lama kelamaan tanahnya makin rusak, jadi akan makin sulit mempertahankan produktivitasnya. Lucu juga ya, kita terus-terusan disubsidi supaya tetap ketergantungan.
Lha terus piye mengatasinya?
Memang sulit untuk bergeser, apalagi langsung berpindah ke pertanian alami. Yang bisa dan paling mudah dilakukan saat ini adalah dengan penanaman legum sebagai pupuk hijau. Tanaman seperti kacang tanah, kedelai, turi, sesbania, atau kacang-kacangan penutup tanah (mucuna, centrosema) mampu fiksasi nitrogen 50–200 kg N per hektar per musim, setara dengan 110–440 kg urea (karena urea hanya 46% N).
Rotasikan legum 1 musim penuh atau tanam bersisipan di sawah/padi (misalnya tanam turi di pematang). Dalam 2–3 musim, kebutuhan urea bisa turun 40–70% karena bintil akar legum meninggalkan nitrogen residu di tanah. Praktis: tebar benih legum 15–25 kg/ha, tanam di awal musim hujan, lalu tanam tanaman utama setelah dipangkas.
Kombinasikan dengan pemberian kompos/pupuk kandang secara rutin. Berikan 5–10 ton kompos matang per hektar per musim (setara 25–100 kg N), atau untuk lahan kecil: 2–5 kg kompos per m² tiap tanam. Kompos melepaskan nitrogen secara perlahan (20–40% tersedia di musim pertama), sehingga mengurangi dosis urea hingga 30–50% tanpa penurunan hasil. Campur kompos dengan biochar 10–20% agar nitrogen lebih tertahan di tanah (tahan hingga 3–5 tahun). Lakukan secara bertahap: musim ini kurangi urea 20–30%, tambah legum + kompos, lalu naikkan pengurangan di musim berikutnya. Tanah akan semakin hidup, mikroba aktif, dan panen lebih stabil.
Hahh. Kira2 begitu kawan2. Mari ngopi di gubuk.
Como 1907 is deeply saddened by the passing of Michael Bambang Hartono.
We extend our sincere condolences to the Hartono family and to all at the Djarum Group.
Under the family’s leadership, the Club has entered a new chapter in its history, and we remember him with gratitude and respect.
Mengapa Soeharto tak ditangkap setelah jatuh pada 1998?
Pada tahun 2000, Gus Dur berusaha melakukan itu.
Gus Dur berusaha menangkap Soeharto dan keluarganya.
Sidang dijadwalkan pada 14 September 2000.
Pada 13 September 2000, bom raksasa meledak di Bursa Efek Jakarta.
15 orang tewas terburai menjadi potongan-potongan kecil. Tubuh mereka hancur berceceran oleh bom mobil raksasa yang diparkir di basement Bursa Efek. Puluhan lainnya terluka parah.
Asap tebal membumbung di tengah-tengah SCBD di jantung perekonomian Indonesia. Gedung-gedung kantor besar perusahaan multinasional, bank, dan pemerintahan yang berisi ratusan ribu karyawan dilanda kepanikan dan dievakuasi.
Bom teroris besar itu menyebabkan kepanikan yang lebih besar.
Saat itu, Indonesia sedang tertatih-tatih memulihkan diri dari krisis 1997 dan mengembalikan kepercayaan internasional.
Kesejahteraan ekonomi ratusan juta rakyat bergantung pada kesuksesan pemerintahan Gus Dur melakukan hal itu.
Bom teroris di Bursa Efek sangat menggoncangnya. Harga saham jatuh. Indonesia terancam roboh kembali.
Jika Indonesia tak stabil, jutaan rakyat terancam kembali jatuh miskin dan menganggur.
Tentu saja, secara teori, jika Indonesia roboh, Soeharto dan keluarga Cendana tak akan bisa ditangkap.
Keluarga Cendana tidak akan pernah bisa ditangkap polisi apabila tidak ada polisi dan tidak ada penjara karena Indonesia bubar.
Siapa dalang bom teroris tersebut?
Kecurigaan tentu langsung tertuju pada keluarga Cendana, terutama Tommy Soeharto.
Alasan pertama, serangan bom teroris terjadi satu hari sebelum persidangan kedua yang seharusnya menyeret Soeharto dan keluarganya ke peradilan hukum.
Alasan kedua adalah Gus Dur yang langsung mengumumkan bahwa Tommy adalah tersangka utama dan memerintahlan pemeriksaan. Gus Dur sebagai presiden tentu berkuasa atas informasi intel.
Alasan ketiga, sebelumnya Tommy sudah terlibat dengan serangkaian kasus bom dan penembakan.
Lima bulan sebelumnya pada 13 Maret 2000, Tommy diseret ke hadapan Komisi V untuk diperiksa tentang kasus korupsi dan kegilaan monopoli cengkeh BPPC.
Pada saat itu, jendela ruang rapat Komisi V tiba-tiba ditembak orang misterius dengan senjata api.
Anggota Komisi V merasa sangat terancam. Bagaimana kalau yang ditembak berikutnya bukan jendela kosong, melainkan kepala mereka? Atau kepala anak mereka?
3 bulan kemudian, pada 4 Juli 2000, Tommy diseret Jaksa Agung Marzuki Darusman untuk diperiksa di Kejaksaan Agung.
Satu jam setelah Tommy meninggalkan gedung, gedung Kejaksaan Agung meledak oleh bom.
Ternyata yang meledak seharusnya dua bom. Tetapi salah satu bom untungnya gagal meledak.
Dua bulan kemudian, pada 31 Agustus 2000, sidang pertama kasus korupsi Soeharto dan keluarganya digelar.
Tiba-tiba, bus yang diparkir mencurigakan di samping tempat persidangan meledak. Ada orang yang menaruh bom besar di situ.
2 minggu kemudian, sehari sebelum sidang kedua pengusutan keluarga Cendana, terjadilah bom di Bursa Efek yang sangat brutal dan mengerikan ini. Ini adalah pengeboman teroris paling mematikan sejauh ini.
Gus Dur memerintahkan penyelidikan untuk mengusut Tommy dan antek-antek gerombolan premannya yang diduga keras menjadi dalang terorisme pengeboman Bursa Efek itu.
Pada saat itu, Menteri Pertahanan Mahfud MD menjadi sangat resah.
Ia membaca pola ancamannya: jika Gus Dur terus menginvestigasi Soeharto, gerombolan keluarga Cendana, dan pundi-pundi raksasa kekayaan pribadi hasil rampokan mereka selama 20 tahun terakhir, Indonesia akan terus digoncang bom dan instabilitas. Ini sudah masuk ranah ancaman pertahanan nasional.
Mahfud seakan membaca tulisan yang ditulis dengan darah orang-orang Bursa Efek: "Jika kamu terus mengusut, Republik ini akan jatuh."
Gus Dur bebal. Dua bulan kemudian, Gus Dur menolak permohonan grasi yang dengan sangat belagu diajukan Tommy Soeharto. Saat itu Tommy baru saja didakwa korupsi memaling aset tanah Bulog dan akan segera dipenjara.
Apa yang dilakukan Tommy? Ia kabur dan menjadi buronan.
Pada 14 November 2000, polisi mengirim 18 tim untuk melakukan penggerebekan di 18 lokasi. Sebanyak 206 anggota polisi diturunkan untuk melakukan penggerebakan serentak, termasuk di rumah Soeharto di Jalan Cendana, Jakarta.
Gagal. Tommy tak bisa ditemukan.
Sebulan kemudian, rentetan bom teroris kembali meledak, yaitu pada Malam Natal 24 Desember 2000.
Yang ini sangat mengerikan.
23 gereja berbeda yang tersebar di Batam, Pekanbaru, Jakarta, Mojokerto, Bandung, Ciamis, dan Lombok hancur oleh bom teroris yang dijadwalkan meledak serentak.
Serangan bom serentak ini menewaskan jemaat Kristen yang sedang berdoa, juga menewaskan Riyanto, anggota Banser NU yang ditugaskan menjaga gereja dari ancaman teroris. Ia mati syahid ketika berusaha menjauhkan bom dari para jemaat gereja.
Beberapa minggu kemudian pada Januari 2001, salah satu teman dekat Tommy, Elize Tuwahatu, berhasil ditangkap oleh Polda Metro Jaya. Elize tertangkap basah membawa-bawa tiga buah bom raksasa dari Tommy.
Dari mulut Elize dan pelapornya, berbagai kelakuan Tommy berhasil dibongkar.
Ternyata, berapa hari setelah Bom Malam Natal, Elize ditugasi Tommy untuk menyusun rencana membunuh Jaksa Agung Marzuki Darusman serta Menteri Industri dan Perdagangan Luhut Binsar Pandjaitan dengan bom.
Bom pertama dan kedua ditujukan pada Marzuki dan Luhut, yang dianggap mengancam pundi-pundi raksasa kekayaan dan aset keluarga Cendana.
Apabila Luhut berhasil dibunuh dengan ledakan bom, kematian sadisnya juga akan mengguncang stabilitas industri dan perdagangan Indonesia, mengingat jabatan strategis Luhut saat itu.
Menperindag sebelum Luhut adalah Jusuf Kalla. Menperindag sebelum Jusuf Kalla adalah Rahardi Ramelan di zaman Habibie. Menperindag sebelum Rahardi Ramelan adalah Bob Hasan, operator bisnis keluarga Cendana.
Barangkali Luhut yang saat itu jadi anak buah Gus Dur menyentuh "sesuatu" yang membuat keluarga Cendana dan kroninya (seperti Bob Hasan) sangat marah.
Selain Marzuki dan Luhut, kedua bom itu juga diharapkan memutilasi dan membunuh acak sebanyak-banyaknya staf Kejaksaan Agung dan staf Kemenperindag dan menciptakan sebesar-besarnya teror dan kekacauan nasional.
Bom ketiga ditujukan untuk memutilasi dan membunuh acak sebanyak-banyaknya staf di kantor Direktorat Jenderal Pajak untuk semakin menebar teror di sektor-sektor kunci pemerintahan dan kestabilan ekonomi.
Tommy sendiri ternyata memiliki penyuplai bom yang menurut investigasi kepolisian diduga adalah suatu oknum pengkhianat negara di Kopassus. Secara semangat korsa, ini sangat menyedihkan mengingat Luhut sendiri adalah mantan komandan Kopassus. Tetapi memang, pada zaman Soeharto, Kopassus sempat dipimpin oleh orang yang sangat dekat dengan keluarga Cendana.
Enam bulan kemudian, pada Juli 2001, tragedi kembali terjadi. Hakim yang sedang mengusut Tommy Soeharto, Syafiuddin Kartasasmita, dibunuh dengan sangat brutal di tengah jalanan Jakarta menggunakan senapan mesin ketika sedang menuju tempat kerjanya.
Hakim Syafiuddin ini mati syahid dengan tubuh berlubang-lubang. Kematian mengerikannya sangat menghebohkan Indonesia.
Pembunuhan Hakim Syafiuddin yang luar biasa sangat sadis inilah yang ternyata berhasil digunakan penegak hukum untuk mengumpulkan cukup bukti tak terbantahkan untuk menangkap Tommy Soeharto.
Dalam suatu periode drama kehebohan nasional yang membuat rakyat menempel ke TV, Tommy si Penjahat Nomor Satu diburu oleh penegak hukum.
Tim sangat elite ini diberi nama Tim Kobra dan dikomandoi oleh perwira lapangan bereputasi cemerlang yang sedang naik daun saat itu, Tito Karnavian. Meski begitu, awalnya penyelidikan mengalami kebuntuan.
Menggunakan penyadapan sinyal telepon dan pengamatan intel, lokasi Tommy diisolasi ke sebuah rumah di Bintaro Jaya, Tangerang Selatan.
Akhirnya Tommy berhasil digerebek, diseret keluar, dan ditangkap sebagai hewan buruan terbesar pemerintahan Gus Dur pada 28 November 2001, 4 bulan setelah Syafiuddin mati dibunuh.
Tommy dipenjara selama beberapa tahun dan hidup mewah di penjara dengan sofa, kulkas, TV, dapur, dan akses untuk bermain golf di Jakarta.
Tommy bebas dengan masa tahanan yang sangat dipotong remisi. Setelah bebas, ia langsung berusaha membeli Golkar pada tahun 2009 dengan pundi-pundi raksasa kekayaan keluarganya. Ia dikalahkan Aburizal Bakrie.
Gus Dur sendiri tidak sempat melihat Tommy ditangkap dari posisi menjabat sebagai presiden.
Gus Dur keburu digoncang dengan Operasi Semut Merah dan berbagai krisis politik.
Akhirnya, Gus Dur kalah dan digulingkan dari kursi kepresidenan pada pertengahan 2001.
---
Itulah bagaimana keluarga Cendana berhasil lolos dari jerat hukum.
Soeharto mati dengan pulas dan santai pada tahun 2008. Tubuhnya dikubur di suatu ancient temple mistis di atas bukit yang tersembunyi di tengah hutan lebat kaki Gunung Lawu yang angker, seperti seorang raja Jawa kuno. Ketika gw solo travelling ke situ dengan motor, templenya dijaga segerombolan penjaga.