Came over to Deandra’s and got fed by Om Adit himself. Soto buatan beliau? A solid 10/10, no notes, no constructive criticism. With all due respect to every soto I’ve ever had, this one might’ve just raised the standard permanently. Soto TANPA kecap!
Yin and yang, they say. Black and white; cosmic equilibrium, apparently. Though if ‘m the light, then Hujan’s merely the darkness that comes with having a twin who insists on being my lifelong inconvenience. Even the universe has questionable taste in symmetry.
MALAM t’lah beranjak jauh ketika kendaraannya menepi di muka kediaman Kamala. Deru mesin dibiarkan bersenandung sementara jemarinya mengetuk layar, melayangkan pesan ringkas: gue di depan. Kirim.
Tak ada musabab pelik yang membawanya kemari;
“I’m going solo.” Babe, emang sejak kapan gue nggak solo? Been doing my own thing since day one, so honestly, this’s nothing new. Just me, myself, and whatever questionable decisions I make along the way. At least I know the company’s always guaranteed: me.
Supermarket malam ini tak terlalu ramai. Leonidas membuntut di belakang @lembahara. Katanya masih mau cari es krim titipan Deandra, tapi nyatanya masih berkeliling ke tempat lain.
"Cari apa lagi, Yan?"
KESADARAN MERANGKAK pulang dari peraduan lelap. Anggaraksa mengerjap lamban, menyesuaikan pandangan dengan semburat pagi yang menyusup di sela tirai. Ingatannya berangsur pulih; semalam ia masih berada di apartemen Akar sebelum kantuk melucuti kesadaran.
Ia ingin bertanya, memastikan, namun lidahnya kelu. Barangkali kala ini, dirinya memang tak lagi dikehendaki.
Tanpa sepatah kata, Janalaras putar raga dan beranjak tinggalkan bilik itu. Buah tangan yang dibawanya tertinggal di dekat pintu, luput dari ingatan yang telanjur kalut.
Bukankah mereka rumah bagi satu sama lain? Lantas, sejak kapan pintu itu tertutup baginya?
Jemarinya mengepal; tahan getir nan mendesak ke permukaan, sebelum tungkainya surut selangkah.
“Dean…” lirihnya, tenggelam di antara napas nang memburu.
Apa gerangan yang telah ia perbuat hingga kehadirannya justru mendatangkan nestapa?
Tatapannya beralih pada Deandra yang kini berada dalam rengkuhan Kallias Ares. Ada kecewa yang merambat, perlahan menggerogoti keyakinan yang selama ini ia genggam.
@lumbungakara Kebingungan meruyak, menyisakan Janalaras terpaku dengan beribu tanya berkelindan di benak. Tarikan Kallias Ares buatnya mundur, lamun, bukan itu yang paling tinggal sesak di dada. Melainkan Deandra yang bahkan tak sudi membiarkannya mendekat.