Hi #Healthies
Tahukah kamu saat ini SATUSEHAT telah berkembang menjadi ekosistem teknologi kesehatan
Cek langkah kaki harian? Pakai SATUSEHAT✅
Buat STR seumur hidup? Pakai SATUSEHAT✅
Dan masih banyak lainnya! Penasaran apa saja ekosistem SATUSEHAT?
Ikut tebak-tebakannya yuk
Kadang sebenarnya kita enjoy saja dengan prosesnya, yang susah itu ketika orang2 di sekitar yang tidak enjoy dgn proses yang sedang kita jalani. What a life!
Knp sih Gen Z paling melek mental health?
Knp banyak Boomers & Gen X susah memahami mental health? Ketika anaknya ngeluh dijawab "makanya bersyukur"
Postingan dari yugozerma ini bisa kita jadikan pelajaran gmn kita menyikapi tiap org dgn generasi yg berbeda
Cr: yugorezma di IG
Gpp abis mandi handuk ditaro di kasur.
Gpp ambil pakaian di lemari langsung tarik.
Gpp pulang kantor sepatu selalu transit di ruang tamu.
Gpp kaos kaki, ikat pinggang, jaket tersebar di segala penjuru rumah.
It's okey dear. Let us just make our own world 🫶
Ditanya anak wedok 16 tahun, apakah uang dan kekuasaan mengubah seseorang jadi lebih buruk?
"Lha kamu liat ibu dan ayah gimana? Punya uang bikin kami semena-mena ga?"
"Engga"
"Liat tuh pakde bude, punya uang bikin mereka berlebih-lebihan, ga?"
"Keluarga kita mah humble semua, mom"
Saya ceritakan bagaimana pakdenya yang punya posisi tinggi dan bisa macem-macem di perusahaan, tapi lurus lempeng ga tergoda korupsi dan perempuan.
Budenya tirakatnya luar biasa demi menjaga pakde dan keluarganya. Bude pernah didatangi orang dengan membawa satu tas besar berisi uang. Uang ditolak, orangnya disuruh pulang.
Pakde lainnya yang juga punya posisi penting dan aksesnya kemana-mana, hidupnya blas ga neko-neko. Liburan ya cuman diisi dengan naik kapal dan mancing ikan ke pulau, padahal pasangan suami istri itu keduanya powerful.
Mbah-mbah dan ortu kami dulu punya uang, dipake buat bikin sekolah, bikin universitas, bikin pesantren, bikin rumah sakit dll yang semuanya diwakafkan untuk umat.
"Ayahmu dulu sekolah dari SMA di Amerika, kuliah di Australia, lanjut ke Singapore. Dia punya uang dan kebebasan mau ngapain aja. Tapi apakah dia trus jadi ga bener, narkoba, maen cewe ?"
"Engga"
"Ayah dengan popularitas dan lagunya, bisa banget nyari cewe kalo mau. Lha liat bapakmu, selesai nyanyi langsung pulang, makan di rumah sama kalian"
"Ibu juga sama. Ibu mau ngapain aja juga bisa. Tapi liat, ibu ada di sini bersama kalian. Kerja, ngurus anak, nirakati kalian"
"Bener ..."
"Kamu liat sendiri, ibu pulang meeting tengah malam di luar negeri, masih sholat. Ga ditinggal itu sholatnya meski capek"
Si nduk beberapa kali ikutan ibunya meeting di luar negeri. Dia liat bagaimana ibunya bergaul, dia kenal semua teman-teman ibunya, ikut terlibat ngobrol, dinner. Dia liat bagaimana ibunya lempeng-lempeng aja menjaga value, padahal kalo mau neko-neko ya bisa.
"Jadi uang dan kekuasaan ga mengubah orang ya mom?"
"Ngga. Lebih tepatnya, uang dan kekuasaan menunjukkan karakter asli seseorang".
Kalo seseorang jadi liar, belagu, pamer, maen cewe/cowo, ya berarti emang begitulah karakter aslinya. Kemaren-kemaren ga muncul karakter itu karena ga ada duitnya aja.
Begitu juga kalo malah makin seneng berbagi, semakin seneng membahagiakan keluarga, berarti karakter aslinya ya begitu. Kemaren-kemaren belum bisa banyak sedekah karena duitnya belum cukup.
Tugas dosen itu Tri Dharma:
1. Mengajar - bisa sampai 24 SKS, total honor gak sampai UMR,
2. Meneliti - ditarget Q1 tapi nggak dimodalin, bahkan pakai dana pribadi,
3. Pengabdian - dua poin di atas masih kurang mengabdi, jadi disuruh bikin acara lagi.
Baik lah saya elaborasi dengan cantik di twit singkat berikut.
1. Paparan racun rokok bisa menurunkan kualitas sel telur dan sperma. Bayi yang terlahir dari bibit yang rendah kualitasnya ini akan lebih sulit tumbuh dengan optimal sehingga risiko stunting tinggi.
2. Janin yang terpapar rokok bisa terlahir cacat, jantung bocor, tidak tumbuh dengan baik terlahir BBLR, komplikasi persalinan dll sehingga kemungkinan gagal tumbuhnya tinggi.
3. Bayi yang serumah dengan perokok punya risiko pneumonia berulang yang jauh lebih tinggi daripada yang di rumahnya tidak ada perokok. Pneumonia berulang ini merusak paru hingga oksigen tidak ter-deliver secara /sempurna ke seluruh tubuh untuk anak tumbuh berkembang dengan optimal.
4. Pecandu rokok dari golongan miskin banyak yang lebih prioritas untuk beli rokok daripada beli makanan yang berkualitas untuk anak2nya.
Dan masih banyak sebenernya penjelasan lebih lanjutnya cuman nanti saya takut twit saya jadi tidak singkat lagi. Terima kasih semoga berkenan. 🙏🏻
Masi ingat seorang temen ngasi nasehat ke gue di pesawat, "bro, cewe itu ga butuh sekolah tinggi-tinggi, ujung-ujungnya dia melayani suami doang, ngapain kuliahin adik mu".
Gue senyum doang.
Adik gue yang cewe itu anak bontot, satu-satunya cewe. Punya 3 big brothers.
I sent her to Lim Kok Wing University (ard 2006). She chose hair design as her major.
Beruntung gue bukan tipe yang mengambil keputusan tanpa dasar, ga sadar, trus mudah dipatahkan hanya karna argumen teman saya disampaikan dengan lugas dan tegas. 😁
I want her to experience life overseas. Away from home. Ga punya siapa-siapa, cuma bisa ngandelin diri sendiri dan teman.
Turned out, it was one of the best decisions I took: adik ku berubah jadi cewe yang mandiri.
Awalnya masih sering nelpon ke rumah, nanya ini dan itu, diskusi harus gimana, minta pendapat, ga bisa memutuskan.
Tapi ada 2 moment yang gue menolak bantu, I want her to decide and think on what to do next. Satu minor, yang kedua cukup major.
Yang pertama, dia call, "Ko, ada alat-alat bikin rambut yang satu paketnya RM2,000. Ini akan membantu sih dalam kuliah ku, kita beli apa engga ya?"
Respon gue, "Mel, you decide. Butuh apa engga, akan baik untuk skill mu atau engga, kamu yang tau. Koko ikut aja".
She made her decision.
Yang kedua, dia call dan cerita, "Ko, rumah kami disegel sama Bank, karna owner ga bisa bayar pinjamannya. Jadi kami harus keluar dari rumah ini dan kami masih ada deposit yang owner tahan, gimana ya?"
Respon gue, "Mel, koko ga bisa bantu. Kamu harus beresin urusan itu sendiri sama owner rumah. Nego sendiri gimana baiknya. Cari jalan keluar sendiri".
I even add this, "Jangan telpon lagi untuk urusan mu di sana, ambil keputusan sendiri atau bareng-bareng temen mu"
Telpon gue tutup.
Surprisingly, dia malah jadi leader of the pack. Dia yang mewakili temen-temennya untuk turun dan nego ke owner. Dapetin duitnya balik. Nyari tempat baru dan arrange untuk pindah.
I can't be any prouder.
Of course, dia masih tetep berkabar ke gue, ke orang tua, tapi ada banyak hal yang dia udah ga perlu nanya.
Saat mau kerja part time di resto timur tengah, ya dia apply aja.
Cuma cerita kalo dia sering dapet makan dari resto. Trus kenal semua owner staff resto lain di tempat yang sama. Punya teman dari negara ini, negara itu. Ada cerita seru apa, dll.
She is the leader of her own life.
Life changing event buat Amel, adik ku, adalah ketika dia magang di sebuah salon di Cyberjaya, milik pasangan Prancis - Malaysia.
Kebetulan ownernya baru pindah ke rumah baru dan bikin housewarming party.
Amel dikenalin ke seorang temen mereka di acara itu. They fell in love and then married with 2 kids.
I guess my attempt to buy my sister some life skills, ended up opening up a whole chapter of life for her.
Glad that she is now grow to be a very capable mom and supportive partner for her husband.
Kita ga tau hidup ngarahnya ke mana, tapi kalo niatnya baik, semoga hasilnya juga sama.
WHO staff member killed in Gaza
With heavy hearts, WHO announces the death of one of our staff in #Gaza, in the occupied Palestinian territory. Dima Abdullatif Mohammed Alhaj, 29 years old, had been with WHO since December 2019. She worked as a patient administrator at the Limb Reconstruction Centre, a critical part of the WHO Trauma and Emergency Team.
Dima died today when her parents’ house in southern Gaza—where she had evacuated to from Gaza City—was bombed. She was tragically killed alongside her husband, their six-month old baby boy, and her two brothers. Reportedly, over 50 family and community members sheltering in the same house also died.
Dima had a bachelor’s degree in Environmental and Earth Sciences from the Islamic University of Gaza, and continued to study and work on environmental issues and health. She was a master’s student at Glasgow University, Scotland, UK, as part of the Erasmus exchange program from 2018-2019.
On Women’s Day 2022, Dima said in a WHO social media post that she was proud of her work because “it contributes to giving people hope and a new lease on life.”
Dr Rik Peeperkorn, the WHO representative in the occupied Palestinian territory said “she was a wonderful person with a radiant smile, cheerful, positive, respectful. She was a true team player. Her work was crucial, and she had been requested to take on even more responsibilities to support the Gaza suboffice and team. This is a such a painful loss for all of us. We share our deepest condolences with her mother and father (a long-serving medical specialist in Gaza), her family, and her many friends.”
The humanitarian community and @UN family have lost other members since 7 October. @MSF today lost two doctors. @UNRWA has lost 108 colleagues. These are not just numbers, but people who were working so that others could have a better life.
The death of Dima and her family is another example of the senseless loss in this conflict. Civilians have died in their homes, at their workplaces, while evacuating, while sheltering in schools, while being cared for in hospitals.
When will it stop?
We plead again with all those who hold in their hands the power to end this conflict to do so.
All of the WHO stands alongside Dima’s family and colleagues in the occupied Palestinian territory, the Regional Office for the Eastern Mediterranean, and across the organization to mourn her loss.
See the statement 🔗https://t.co/L9adUoDwmY
Dalam bukunya, “Stolen Focus”, Johann Hari mencoba mencari jawabannya.
Mempertahankan fokus ini penting biar kita bisa mengerjakan sesuatu sampai tuntas. Kalau fokus sudah buyar, butuh minimal 23 menit untuk bisa fokus lagi (Professor Michael Posner, University of Oregon).
@kegblgnunfaedh Mirip mirip lah ya dengan awal kemunculan ojol. Yang konvensional merasa terdzalimi, tp semakin ke sini akhirnya berdamai jg dengan teknologi. Denial hanya akan membuat kita tertinggal.