Transaksi yang tak pernah merugi
Banyak orang beragama dengan logika instan, seakan ibadah hanyalah kalkulasi untung rugi: berapa rakaat, berapa pahala; berapa sedekah, berapa balasan. Padahal Al-Qur’an mengajarkan bahasa lebih luhur: tijārah lan tabūr—perdagangan dengan Allah yang takkan pernah rugi (QS Fāṭir [35]:29).
Al-Ṭabarī menafsirkan lan tabūr sebagai lan tahlik—tidak akan bangkrut. Ibn Kathīr menjelaskan: keuntungannya adalah maghfirah & surga. Al-Qurṭubī menegaskan: berbeda dengan perdagangan duniawi penuh risiko, perniagaan dengan Allah abadi karena modalnya amal ikhlas.
Secara ekonomi, ayat ini masuk akal. Investasi dinilai dari risiko dan hasil. Dagang dunia selalu berisiko rugi, sementara dagang dengan Allah bebas risiko: amal sekecil dzarrah pun diganjar (QS al-Zalzalah [99]:7–8). Sedekah kecil bisa berlipat tak terhingga, sebagaimana QS al-Baqarah [2]:261. Dalam bahasa modern: investasi dengan zero risk dan infinite return, dijamin langsung oleh Allah.
Namun bagi para sufi, ini bukan kalkulasi, tapi tarian cinta. Amal hanyalah persembahan kecil; balasan Allah murni anugerah. Kita memberi secuil amal, lalu Allah membalas dengan samudera kasih. Hati pun tenang: meski dunia menilai amal kecil, di sisi Allah ia takkan sia-sia.
Di era instan, kita sering ingin doa langsung terkabul, bisnis langsung untung. Padahal kita tahu anugerah datang sesuai waktu Allah, bukan sesuai keinginan kita. Seperti petani: menanam hari ini, menuai di musim yang ditentukan.
Tijārah lan tabūr adalah ajakan investasi jangka panjang: dalam bisnis berarti kejujuran dan keberlanjutan, dalam hidup berarti istiqāmah dalam shalat, zikir, dan amal kecil. Di tengah krisis, ia menjadi ketahanan jiwa: ada perdagangan yang takkan rugi—berhubungan dengan Allah.
اللَّهُمَّ اجْعَلْ أَعْمَالَنَا تِجَارَةً لَنْ تَبُورَ،
وَارْزُقْنَا صِدْقَ النِّيَّةِ وَجَمَالَ الصَّبْرِ،
وَأَفِضْ عَلَيْنَا مِنْ نُورِ رِضَاكَ وَرَحْمَتِكَ دَائِمًا.
Ya Allah, jadikan amal kami perdagangan yang takkan rugi, anugerahkan keikhlasan niat dan keindahan sabar, serta limpahkan cahaya ridha dan rahmat-Mu selamanya.
**
Dan Engkau tak pernah kecewakan harapan kami, Ya Rabb 🙏🏻
Tabik,
Nadirsyah Hosen
Tujuh Kali Allah Menguji Kita
Hidup ini bukan sekadar perjalanan, melainkan ruang ujian. Allah tidak menguji untuk menjatuhkan, tetapi untuk menyingkap siapa kita sejatinya di hadapan-Nya. Ujian hadir dalam rupa yang berbeda: kadang manis, kadang getir—namun semuanya menuju satu tujuan: menguji cinta dan kesetiaan kita kepada-Nya.
1.Dengan nikmat yang kita pinta
Doa terkabul, rezeki datang sesuai harapan. Allah ingin tahu: apakah kita bersyukur, atau merasa segalanya lahir dari diri sendiri. Nikmat bisa jadi tangga menuju surga, bisa pula jerat kesombongan.
2.Dengan doa yang tak terkabul
Saat jawaban tak kunjung tiba, Allah sedang menakar sabar: apakah kita terus berharap dan beribadah, atau berpaling karena kecewa. Penundaan bukan penolakan, tapi pendidikan hati agar tetap setia.
3.Dengan memberi kepada orang lain
Apa yang kita minta jatuh ke tangan orang lain. Inilah ujian hati: apakah kita menjadi pendengki, atau ridha menerima takaran rezeki. Dengki hanya membakar dada, sementara ridha menenangkan jiwa.
4.Dengan pemberian yang berbeda
Kita minta A, Allah beri B. Iman diuji: percayakah kita bahwa pilihan-Nya lebih bijak? Apa yang tampak asing hari ini, sering kali rahmat besar yang baru disadari esok.
5.Dengan kehilangan
Bukan hanya harta, tetapi juga jabatan dan orang-orang terkasih. Kehilangan mengingatkan bahwa segalanya milik Allah. Apakah kita kembali kepada-Nya, atau karam dalam kesedihan tanpa arah.
6.Dengan kelapangan hidup
Kadang ujian terbesar justru kelapangan. Kekayaan, kedudukan, dan pujian bisa melalaikan. Allah ingin tahu: apakah di puncak kejayaan kita tetap merunduk tawadhu, atau lupa pada Dia yang memberi segalanya.
7.Dengan diri kita sendiri
Hawa nafsu, ego, dan bisikan hati. Di situlah rahasia cinta: apakah kita mencintai Allah hanya karena pemberian-Nya, atau karena Dia memang layak dicintai sepenuh hati.
اللَّهُمَّ اجْعَلْ كُلَّ بَلَاءٍ نُورًا، وَكُلَّ دَمْعَةٍ مَطَرًا، وَكُلَّ جِرَاحٍ جِسْرًا نَجُوزُ بِهِ إِلَيْكَ.
Ya Allah, jadikan setiap ujian seperti cahaya yang menuntun, setiap air mata bagai hujan yang menyuburkan iman, dan setiap luka itu jembatan yang mendekatkan kami kepada-Mu.
Tabik,
Nadirsyah Hosen
Bolehkah Pemerintah Naikkan Gaji Hakim dan Anggota DPR di Tengah Jabatan?
Pertanyaan ini sering bikin rakyat geregetan: kok bisa pejabat naikin gajinya sendiri, padahal rakyatnya masih susah? Di negara demokrasi, isu ini memang sensitif. Masalah utamanya: jangan sampai kenaikan gaji berubah jadi “suap halus” untuk membeli loyalitas DPR atau hakim.
Ada dua model besar. Pertama, model konstitusional. Di Amerika Serikat, Konstitusi (Pasal I Ayat 6) dan 27th Amendment mengatur bahwa kenaikan gaji Kongres baru berlaku setelah pemilu berikutnya, sehingga mencegah self-enrichment. Rakyat diberi kesempatan lebih dulu untuk menghukum mereka di bilik suara. Untuk hakim, Pasal III melarang penurunan gaji agar tetap independen, tapi kenaikan sah untuk memperkuat posisi mereka.
Kedua, model komisi independen. Australia punya Remuneration Tribunal untuk menentukan gaji parlemen dan hakim. Inggris memakai Independent Parliamentary Standards Authority (IPSA) dan Judicial Salaries Review Body. Jadi politisi tak bisa seenaknya menaikkan gaji sendiri.
Indonesia agak unik. Gaji pokok DPR diatur lewat undang-undang, tapi tunjangan cukup lewat Peraturan Presiden. Inilah celah yang bikin kenaikan bisa terjadi di tengah periode, yang langsung menuai kritik publik. Untuk hakim pun mirip: gaji lewat UU, tapi tunjangan bisa dinaikkan eksekutif—menimbulkan kesan pemerintah berusaha “mengamankan” putusan.
Kasus nyata menunjukkan jurang antara aturan dan rasa keadilan rakyat. Di Inggris, kenaikan gaji sah secara prosedur, tapi publik marah karena waktunya pasca skandal biaya. Di Indonesia, hampir setiap kenaikan tunjangan DPR dianggap bukti elite tak peka pada penderitaan rakyat. Di AS, publik lebih tenang karena aturan konstitusional kenaikan gaji tak bisa dinikmati anggota Kongres periode saat ini.
Kesimpulannya, menaikkan gaji di tengah jabatan tidak otomatis ilegal. Tapi secara etika politik, waktunya sangat menentukan. Jika dilakukan saat pemerintah butuh suara DPR atau sedang menghadapi perkara besar di pengadilan, publik wajar menilainya sebagai political bribery by salary. Akhirnya fungsi pengawasan DPR dan penegakan hukum Pengadilan bisa dpertanyakan.
Tabik,
Nadirsyah Hosen
Salah Paham Terhadap Ayat “Lakum Dīnukum Wa Liyadīn”
Ayat penutup dari Surat al-Kāfirūn ini sering kali terdengar tegas dan final:
لَكُمْ دِينُكُمْ وَلِيَ دِينِ
“Untukmu agamamu, dan untukku agamaku.”
Sekilas ia terdengar seperti garis batas yang kaku. Namun siapa sangka, di balik redaksi singkat dan padat itu, tersimpan samudra kebijaksanaan Qur’ani yang dalam: tentang kemerdekaan hati, kemurnian iman, dan penghormatan terhadap perbedaan yang tidak berarti permusuhan.
Imam al-Ṭabarī dalam tafsirnya menjelaskan bahwa ayat ini bukanlah pengumuman permusuhan, melainkan penegasan prinsip dengan penuh adab. Ketika kaum Quraisy menawarkan kompromi—mari sesekali engkau menyembah tuhan kami, agar kami pun mau menyembah Tuhanmu—Allah menjawab dengan kalimat yang lugas namun elegan: tidak ada negosiasi dalam hal tauhid. Namun lihatlah, penolakan itu disampaikan tanpa makian, tanpa hasutan, tanpa kebencian.
Al-Qurṭubī menyebut ini sebagai bentuk iqrār bi al-ḥāl, yakni pengakuan terbuka bahwa realitas keberagaman dalam keyakinan adalah sesuatu yang nyata dan tak bisa dihapus dengan paksaan. Ia tidak menyuruh memerangi yang berbeda, tapi menegaskan batas: kamu punya jalanmu, dan aku punya jalanku. Dalam bahasa modern: kita bisa berbeda, tanpa saling meniadakan.
Ibn Kathīr menekankan bahwa ayat ini turun bukan dalam suasana konflik, tapi dalam negosiasi yang menggoda: kompromi ringan demi persatuan. Tapi wahyu menegaskan: agama bukan panggung pencitraan. Bukan wilayah tukar-menukar demi tenar atau diterima. Keyakinan adalah komitmen jiwa, bukan strategi sosial.
Sayyid Quṭb dalam Fi Ẓilāl al-Qur’ān memandang ayat ini sebagai deklarasi kebebasan spiritual dan kejelasan identitas. Ayat ini menunjukkan bahwa seorang Muslim harus berdiri dengan mantap di atas imannya, sembari tetap menebar kasih dalam relasi sosial. Ini bukan ajakan menjauh dari dunia, tapi seruan untuk hadir di dunia dengan jati diri yang utuh.
Namun sayangnya, ayat yang penuh hikmah ini sering disalahpahami. Berikut beberapa bentuk salah kaprah yang cukup sering ditemui:
1. Disangka Seruan Permusuhan
Sebagian orang mengira ayat ini adalah bentuk pengusiran atau permusuhan terhadap non-Muslim. Padahal para mufassir sepakat bahwa ini adalah penolakan terhadap kompromi akidah, bukan penolakan terhadap keberadaan yang berbeda. Ayat ini justru menegaskan bahwa hidup berdampingan bukan berarti harus menyatu dalam keyakinan. Perbedaan itu ada, dan tetap dihormati.
2. Disalahgunakan untuk Melegitimasi Relativisme
Di sisi lain, ada pula yang menyalahgunakan ayat ini untuk membenarkan bahwa semua agama setara dan semua jalan sama benarnya. Padahal sebelumnya, ayat-ayat dalam surat ini menegaskan bahwa tauhid dan syirik adalah dua jalur yang tak bisa dipersatukan. Maka ayat ini bukanlah deklarasi bahwa semua benar, melainkan penegasan bahwa perbedaan itu nyata—dan tetap dihormati, bukan dikaburkan.
3. Dianggap Membatalkan Kewajiban Dakwah
Ada pula yang menyimpulkan bahwa ayat ini adalah akhir dari segala dakwah, seolah Islam hanya perlu membiarkan orang lain dengan agamanya tanpa peduli. Padahal Rasulullah ﷺ tetap berdakwah setelah ayat ini diturunkan. Bahkan lebih lembut, lebih sabar, lebih tulus. Ayat ini bukan akhir dari dakwah, tapi akhir dari ilusi kompromi akidah.
4. Ditarik ke Semua Konteks
Ada yang menggunakannya sebagai pembenaran untuk bersikap pasif dalam hubungan sosial lintas agama. Padahal konteks ayat ini adalah akidah dan ibadah, bukan interaksi sosial. Dalam hal muamalah (perdagangan, tolong-menolong, kerja sama, hidup bertetangga) Islam memerintahkan keadilan dan berbuat baik (ihsan) bahkan kepada yang berbeda iman.
Lanjut ke bawah yah…
Indahnya Pemandangan Pemakaman Baqi Tempo Dulu
Beginilah pemakaman Baqi (makam keluarga Nabi SAW) sebelum dihancurkan oleh rezim dinasti Saud, dulu masih jelas ini makam siapa, sekarang sudah tidak jelas lagi dan tidak terawat. Dinasti Saud berusaha menghapus jejak sejarah Nabi
Wow!!!
Michael Bloomberg, "taipan yahudi" di Amerika Serikat, terang-terangan nyumbang Rp690 Miliar ke Israel!!
Tak hanya itu, ternyata Bloomberg juga mendanai LSM2 di Indonesia buat matiin industri tembakau nasional!
https://t.co/UzZNaLP11f
🤯
Demi ketenangan hati dan pikiran.
Aku sengaja membiarkan beberapa orang berpikir keliru tentang aku.
Aku diam, sebenarnya bukan karena aku takut atau tidak berdaya.
Melainkan hasil dari pengendalian diri.
Aku ingat bagaimana aku di bicarakan, aku juga memahami dengan baik,
Assalamualaikum wr. wb.,
Teman-teman semua yang kami hormati, hari ini Mbah Nun sedang istirahat di rumah sakit. Mohon doa dari teman-teman semua agar Mbah Nun segera bisa selesai dari istirahatnya.
Terima kasih banyak.
Wassalamualaikum wr. wb.
Yogyakarta, Kamis 6 Juli 2023
Bagaimana pertolongan pertama setelah digigit Hewan Penular Rabies?
Cuci luka dgn detergent di bawah air mengalir.
Detergent diharapkan dpt meluruhkan amplop virus shg mengurangi resiko invasi virus masuk ke dalam tubuh.
Segera ke RS terdekat supaya ditangani lgsg oleh dokter.
Pada moment lebaran kali ini semuanya kita maafkan kecuali orang pajak, bea cukai, pejabat ASN songong & wakil rakyat anti kritik nir akhlak.
#idulfitri1444H#Lebaran2023
Akhir-akhir ini anak petinggi karyawan negara pada bangsat semua beritanya,
anak para pelayan masyarakat kenapa kebanyakan pada ga beres semua !!!
Apa mungkin karna sering dikasih empan dari hasil yg tidak halal/korupsi ???
@Paltiwest Barangkali ini yang menjadikan kegelisahan Pak Menkes yang kebetulan bukan dokter, dan justru bisa melihat secara jernih. Butuh revolusi untuk mendobrak semuanya.
Gus Baha : Jangan terlalu membesar-besarkan hal yang berpotensi membuat orang biasa jadi susah menjalankan syariat Islam.
Hindarilah omongan seperti misalnya saat bulan ramadhan: "Rugi, Ramadan hanya setahun sekali kok gak salat tarawih di masjid berjamaah."
DULU MOROWALI, KINI BULUNGAN
.
.
.
Ketika berat otak kita hanya berkisar 2% saja dari berat tubuh namun dia meminta jatah paling besar yakni lebih dari 20% oksigen yang dibutuhkan tubuh,