🇮🇩 Pajak buku di Indonesia : 12%
🇲🇾 Pajak buku di Malaysia : 0%
🇬🇧 Pajak buku di Inggris : 0%
🇮🇳 Pajak buku di India : 0%
Di mana bumi dipijak, di situ rakyat dipalak 🙏🏻
Pertamina bilang harga asli Pertalite Rp18.040/liter.
Lo cuma bayar Rp10.000.
Selisih Rp8.040 "ditanggung pemerintah" , alias ditanggung pajak lo.
Kedengarannya heroik.
Sampai lo baca data BPS 2024:
20% rumah tangga TERKAYA Indonesia mengonsumsi 39,99% dari seluruh Pertalite yang dijual.
Senilai Rp41 TRILIUN subsidi rakyat masuk ke tangki kendaraan orang2 yang paling mampu beli Pertamax.
Total subsidi BBM yang salah sasaran? Rp81 triliun/tahun.
Dan Bahlil , Menteri ESDM-nya sendiri , yang ngomong potensi salah sasaran subsidi energi tembus Rp100 triliun/tahun.
Jadi selama ini orang miskin yang nggak punya kendaraan, yang naik angkot tiap hari, ikut bayar pajak buat subsidi bensin kendaraan orang kaya.
Negara mana lagi yang minta rakyat miskin urunan subsidi BBM buat orang kaya, terus bilang itu "keberpihakan pada rakyat"?
🤷♂️
Fun Fact :
1. Dulu yg dapet THR itu cuma PNS, tapi semenjak pekerja demo Pekerja swasta juga dapet THR
2. Dulu juga jam kerja 16 jam ++ tapi semenjak demo jadi 8 jam.
Macet mu yg dirasa sekarang bisa terkonversi jadi bahagia dan sejahteramu di masa depan.
- Ga bisa menangani bencana Sumatra? Dibelain.
- Keluar negeri terus? Dibelain.
- Kurban pakai APBN? Dibelain.
- Rupiah melemah? Dibelain.
- BBM naik? Dibelain.
- Harga kebutuhan pokok naik? Dibelain.
- PHK massal terjadi? Dibelain.
- Daya beli masyarakat turun? Dibelain.
- Utang negara bertambah? Dibelain.
- Pajak dinaikkan? Dibelain.
- Defisit melebar? Dibelain.
- IHSG anjlok? Dibelain.
- Lapangan kerja seret? Dibelain.
- Investasi mandek? Dibelain.
- Harga beras naik? Dibelain.
- Harga listrik naik? Dibelain.
- Program kontroversial jalan terus? Dibelain.
- Pejabat bikin pernyataan blunder? Dibelain.
- Kritik publik diabaikan? Dibelain.
- Demonstrasi mahasiswa diremehkan? Dibelain.
- Janji kampanye belum terealisasi? Dibelain.
- Menteri bermasalah dipertahankan? Dibelain.
- Kabinet gemuk? Dibelain.
- Anggaran membengkak? Dibelain.
- Kepercayaan pasar turun? Dibelain.
- Rating pemerintah turun? Dibelain.
- Apa pun yang terjadi: Dibelain.
Siapa pun yang mengkritik:
Disalahin.
Sesuci itu kah sosok yg pernah ada ISU HAM ini di mata kalian?
Yang akan selalu ditakuti di negara ini ternyata adalah anak-anak muda yang berkumpul, berdiskusi, lalu berdiri memegang poster perlawanan dan berteriak dengan lantang tanpa rasa takut. Setiap era, selalu lahir anak anak muda baru dengan semangat yang membara.
Demo mahasiswa dan buruh menghasilkan:
1) Jam kerja 8 jam sehari, lebih dari itu wajib dihitung lembur.
2) Ada upah minimum, UMR, buat buruh atau karyawan perusahaan.
3) UMR juga tiap tahun disesuaikan dengan inflasi dan kebutuhan hidup.
Mau kaya gaji pokok PNS yang gak berubah dari tiga puluh tahun lalu? Kaya tunjangan fungsional dosen yang nominalnya gak berubah dari 2007? Tuh kalau gak pernah demo, suka-suka mereka.
4) THR juga hasil demo tahun 1960an. Kita masih nikmatin sampai hari ini.
5) BPJS ketenagakerjaan.
6) Cuti tahunan minimum 12 hari.
7) Reformasi. Suharto turun.
Kalau nggak mungkin hari ini semua sosmed diblokir sama "Departemen Penerangan".
Mungkin semua berita di TV cuma datang dari "Berita Malam" sama "Dunia Dalam Berita" punya TVRI dan direlay semua TV swasta.
Pidato Presiden selalu live. Mau kalian dengerin "nyenyenye" live?
***
Semua itu kita nikmati hari ini.
Gitu banyak yang nyinyirin rakyat demo.
Macet paling berapa jam sih?
Jangan nyinyir sama pendemo.
THR, upah minimum, hak lembur, sampai Reformasi 1998 yang membuka jalan demokrasi hari ini. Semuanya lahir dari orang-orang yang berani bersuara dan turun ke jalan.
demo tuh yah emang harus distruptif, bikin macet, ngeganggu kegiatan sehari-hari, karena tujuan demo ya biar di denger pejabat dan bikin mereka TERGANGGU untuk merubah kebijakan, kalau ada "area khusus demo" ngapain coba? teriak2 dilapangan ga didenger?
Our president, leader of the Republic of Indonesia, watches the poor eat their meal.
He does the watching from a lavish setting, his own plate stacked with expensive food.
Poverty as an evening's entertainment.
Wajar sih, Mexico ini masih masuk Developing nation dengan jumlah penduduk sampai 133 jutaan, isu sosialnya masih mirip-mirip dengan Indonesia; kemiskinan, ketimpangan struktural.
Ga heran kemarin rame guru-guru Mexico demo besar-besaran karena pemerintahannya memprioritaskan Pildun ketimbang kenaikan upah guru. Mirip kayak di mana gitu yaa 😰😰