Intinya:
Pasar terlalu sibuk bahas aliran dana ETF dan perubahan indeks MSCI/FTSE, padahal Mutual Fund (reksa dana/MF) jauh lebih berpengaruh
Kepemilikan MF di saham Indonesia mencapai Rp 515 T per Mei 2026, 5x lebih besar daripada ETF yang hanya Rp 100 T
Asing sangat dominan: sekitar 79% di MF dan 93% di ETF
Di saham big cap seperti BBCA, porsi asing bahkan >85%, Jadi gerakan asing langsung sangat memengaruhi
Perubahan kepemilikan MF di Mei:
Jual keras (turun nominal & jumlah lembar): BBCA (paling besar), BMRI, BREN, UNTR, ANTM, AMMN, GOTO, dll
Serok bawah (nominal turun, tapi lembar naik): BBRI, ASII, AMRT, ADRO, dll
Beli (naik nominal & lembar): TLKM, BBNI, INDF, ICBP, ISAT, BRPT, UNVR, dll
Kesimpulan: Tekanan jual bersih di Mei lebih banyak dipicu oleh Mutual Fund yang didominasi asing dibanding ETF. Kalau asing pesimis, saham-saham blue chip langsung kena imbas keras
Data ini hanya referensi, bukan rekomendasi beli/jual. MF juga bukan selalu “smart money”
@Smash1014314 Padahal Singapura dan negara tax heaven lain jg begini
Giliran mereka menawarkan fasilitas yg sama, ga protes 🤣🤣
Giliran Indonesia di caci maki..
Iye..iye.. pst di blg negaranya bersih, jujur, dll .. wkwkwk
Intinya sama aj..
Aku nganggur lama sampe skrg masih hahahaa... Apa yg kulakukan? Keluar, ketemu & nyapa org, nyapa temen2 di sosmed jg. Aku ngakrabin pak RT, ikut segala macam kepanitiaan di RT sampe tingkat Desa, krn aktif ditawarin jd petugas sensus (duitnya lumayan, kerjanya sebentar)...
@ardisatriawan Kota Padang Panjang di Sumatera Barat Pak, Bandaranya di Pariaman dekat kota Padang estimasi 30 menit ud ada tol, Sekolah, Kampus, dan RS bagusnya di Kota Bukittinggi estimasi 20 menit. Udara segar, dingin, beragam kuliner, pemandangan apik, dan pace nya slow bgt.
Podcast ini IELTSnya mungkin di bawah 6.0 tapi saling mengerti dan diskusinya enak. Ini tuh gambaran kenyataan penggunaan bahasa inggris sehari-hari. Jadi kalau ada yang grammar nazi di kehidupan sehari-hari. Getok aja. Hahaha
🔍 DEEP RESEARCH: $INET (Sinergi Inti Andalan Prima Tbk.)
$INET tutup di 210 kemarin, naik dari low 148 minggu lalu. Tapi lo jangan liat rebound-nya doang, ini saham yang sama yang dulu nyentuh 935. Turun 77.5% dari puncak. Dan yang bikin gw penasaran bukan chartnya, tapi kenapa pasar nge-hukum saham yang fundamentalnya lagi ngebut kaya gini.
Buka aja laporan Q1 2026 mereka. Revenue Rp383 miliar. Itu naik 3.069% year-on-year. Revenue 1 kuartal aja udah 4x lipat revenue setahun penuh 2025. Laba bersih Rp13.65 miliar, naik 792%. FY2025 kemarin laba meroket 1.744% ke Rp24.49 miliar. Angka-angka ini bukan growth biasa, ini hyper-growth perusahaan infrastruktur digital yang lagi transformasi dari ISP lokal jadi grup backbone nasional.
Terus kenapa sahamnya dihajar? Ada beberapa hal. Rights issue $INET Rp3.2 triliun di harga 250 per saham, oversubscribed 52x waktu itu, antusiasmenya gila. Tapi sekarang harga 210, di bawah harga pelaksanaan. Semua yang ikut RI sekarang merah minimal 16%. Belum lagi pengendali, PT Abadi Kreasi Unggul Nusantara yang borong besar di 410 (Februari) dan 304 (Maret). Mereka sekarang underwater 31-49%. Entah ini conviction atau desperation, tapi yang jelas mereka terus beli.
Di sisi broker flow ada sinyal mixed. Mirae Asset yang tadinya net buyer 6 bulan tiba-tiba flip jadi distributor gede, mereka dari 50.6% terjun ke 30.7% di 30 hari terakhir. Tapi di saat yang sama Mandiri Sekuritas (+6.839 lot) dan Ajaib (+5.223 lot) akumulasi di harga rata-rata 211-212. Seakan ada transfer barang dari tangan lemah ke tangan kuat di zona bawah.
SID juga ngasih gambaran. Dari puncak 177.932 investor (Februari) sekarang 161.894, turun 9% doang. Artinya mayoritas retail masih hold underwater. Capitulation belum terjadi. Kalau lo cari bottom sejati, mungkin belum di sini.
Tapi story jangka panjang $INET menarik. Mereka lagi ngebangun ekosistem vertikal: akuisisi backbone fiber (Trans Hybrid Communication), tenaga kerja (PADA), kabel laut (SGI), plus masuk data center lewat anak usaha baru SIDI. Kalau ekspansi ini mulai menghasilkan, revenue kuartalan yang udah Rp383B bisa jadi baseline, bukan anomali.
Ko Chris Apriliony Salah satu yang Green Flag, and i dare to put my names on him. Alumn Tambang Trisakti 2010 yg jdi Leader YB Sekuritas di Batam (Dulu namanya JUC). Dari Kuliah dibantu om (Dia yg sharw di YT), Ktmu trader hobby main pingpong mobil bagus di Apartemn Medit
Apakah secara historis reversal dari bottom harus didukung foreign net inflow?
IHSG naik 7,6% Selasa dan 2,7% Rabu.
Asing? Masih net sell Rp 2,45 T dan Rp 3,13 T.
Banyak yang menyimpulkan Asing masih buang barang atau ini rally ini palsu.
Sounds logical.
Tapi premisnya layak diuji dengan data.
Apakah flow Asing/Domestik ini relevan dalam menentukan ini reversal atau bukan?
Saya backtest 4 crash terbesar IHSG: GFC 2008, Taper Tantrum 2013, koreksi 2015, dan COVID 2020.
Tiga dari empat reversal dimulai saat asing masih net sell.
Di 2013 dan 2015, kumulatif flow bahkan masih negatif di bulan keenam, padahal index sudah naik 15–16%.
Inflow besar baru datang di bulan ke-5 sampai ke-12, setelah recovery terbentuk.
COVID paling ekstrem: IHSG naik 56% dalam 12 bulan, dan sepanjang itu asing tetap kumulatif net sell sekitar Rp 27 T.
Asing baru berbalik net buy bulanan pertama kali November 2020, saat index sudah jauh di atas bottom.
Apakah ini berarti 8 Juni sudah pasti THE bottom?
Tidak ada yang bisa menjamin itu, termasuk saya.
Yang bisa dikatakan dengan jujur: rebound dua hari ini terjadi di atas turnover yang naik (Rp 21,7 T → 28,0 T → 31,7 T), breadth-nya lebar, dan absennya foreign inflow bukan alasan valid untuk mendiskreditkan rally, karena secara historis memang tidak pernah jadi prasyarat.
Satu catatan lagi yang jarang dibahas. Label "asing" di data bursa itu flag pada order broker, bukan beneficial ownership.
Dengan makin umumnya struktur nominee dan jasa "masking" kepemilikan.
Garis pemisah antara "real" foreign vs domestic makin kabur.
Watch the tape, not the nationality flag on it.
Indonesia punya 56 juta "pengusaha."
Malaysia cuma 3 juta.
Kedengarannya bangga. Padahal itu alarm.
Malaysia 75% pekerjanya formal, bergaji, terserap sistem.
Indonesia? 38%.
Sisanya jadi "pedagang" bukan karena mau, tapi karena nggak ada pilihan lain.
Bukan wirausaha. Survival mode.
Selisih itu bukan bukti kita lebih entrepreneur.
Itu bukti sistem kerja kita gagal nyerap orang.
Emergency rate hikes alone won't restore confidence in Indonesia, say @Moss_Eco@Karishmajourno. Deeper changes are required (via @opinion) https://t.co/o2hg7Hk9rs
URUTAN MEMULAI BELAJAR SAHAM
✨✨✨✨✨✨✨✨✨✨
✨ A THREAD ✨
✨✨✨✨✨✨✨✨✨✨
Kali ini aku bakalan urutin apa yg sudah aku tulis di highlight aku, jadi biar ga bingung mulainya tuh darimana 🙂
Btw, aku saat ini pake aplikasi stockbit untuk transaksi jual beli saham harian.
Pertama kali yg harus dilakukan dalam belajar saham, tentunya punya akunnya dulu.
Jadi belajar ini dulu yaa