JUST IN: Dua peserta Latsarmil KDMP meninggal dunia. 🚨
1. Almh Anisa Muyassaroh
Satdik Dodikjur Rindam VI/Mulawarman, Balikpapan. Meninggal dunia akibat heat stroke.
2. Alm Yonanda Muhammad Taufiq
Satdik Puslatpur Kodiklatad Baturaja Meninggal dunia akibat henti jantung.
Satu nyawa yang hilang saja seharusnya cukup menjadi alasan untuk melakukan evaluasi menyeluruh. Ketika dua peserta meninggal dalam proses yang sama, pertanyaan mengenai urgensi, proporsionalitas, dan aspek keselamatan tidak bisa lagi diabaikan. Benar-benar perlu ada evaluasi serius terhadap relevansi Latsarmil dengan tugas dan tanggung jawab seorang Manajer KDMP.
Deniz Undav mencuri perhatian dunia berkat penampilan gemilangnya di Piala Dunia. Tetapi, siapa sangka dia harus melewati gaya hidup frugal untuk bisa sampai ke titik ini.
Setelah lulus sekolah, Undav pernah belajar menjadi operator mesin. Itu dia lakukan untuk tetap survive karena bukan berasal dari keluarga mapan.
Undav di-release oleh akademi Werder pada usia 16 tahun dan melanjutkan karir bersama dua akademi kecil di Lower Saxony, SC Weyhe dan TSV Havelse.
Undav mengawali karir senior bersama tim senior Havelse di Regionalliga. Dia bahkan masih bermain di divisi keempat hingga usia 22 tahun. Masa awalnya merintis sebagai pesepakbola amatir tidaklah mudah. Dia bahkan kesulitan untuk sekadar makan enak, karena hanya punya 100 euro per bulan.
Undav muda kadang hanya makan roti panggang dan salad kol selama dua minggu. Jika ada rezeki lebih, dia kadang bisa membeli mayones untuk menambah rasa.
Selama lebih dari setahun, dia juga tidak pernah membuang sampah botol minumnya. Dia menyimpan botol tersebut untuk mendapat uang tambahan.
Momen-momen sulit itu akhirnya terbyarkan dengan kesuksesan yang sekarang dia dapatkan. Undav bukan hanya jadi salah satu striker terbaik di Bundesliga, tapi juga pahlawan bagi negaranya.
Source: Sport Bild
REMINDER buat selalu cuci atau minimal bilas minuman kaleng sebelum diminum 😅
“kok sampe segitunya?”
jadi gini, pas koas dulu pernah jaga IGD, ketemu pasien yg datang dg keluhan demam beberapa hari, mual, muntah, badan lemes, dan sakit kepala…sekilas keliatannya kayak infeksi ringan atau flu biasa, eh ternyata
Contoh lain buruknya manajemen United:
Overpaying satu pemain di saat keuangan lagi nggak sehat-sehat banget dan klub butuh tambahan pemain di banyak posisi.
Cunha bagus, PL proven, tapi nggak sespesial itu untuk dihargai > £60 juta.
United kini kudu jual Garna & Rashford.
It all could have went very different for Iran if:
- It had no missiles & drones able to penetrate opponents defenses and answer back...
↪️ 🇺🇲 + 🇮🇱 would have certainly hit Powerplants & bridges
- It had no 60% enriched weaponizable Uranium...
↪️ Entirely possible that it's Missile Cities & Nuclear sites would have been hit by chemical or even tactical nuclear weapons
- It had no persistent & credible control over the Strait of Hormuz on which world economy depends...
↪️ A U.S. naval & economic blockade could have put Iran under siege without any leverage to counter it with time on its side
- It had no super-hardened Missile & Drone Cities...
↪️ U.S. & Israeli stand-off missile power, and Airpower, would have neutralized Iran's capability to hit back at will and persistently
- It had no ambush-type air-defenses to hold opposing Airpower at risk...
↪️ 🇺🇲 & 🇮🇱 Airpower with low-cost guided bombs could have suppressed Missile & Drone launch operations and badly degrade Iran's missile launcher fleet
➡️ Only the combination of all of this, and more, lead to the outcome we witnessed
Iran is a very... different country...
Kemarin gw sempet nanya ke temen gw, emang Choky Sitohang ini apa sih maksudnya?
.
Temen gw bilang kalau dia raja olah
.
Gw jadi lihat konten2 dia. Menurut gw dia hebat. Bisa menyapa tuan rumah secara baik, meninggikan tuan rumah dan koleganya dengan baik.
.
Ngolah itu ya emang harus kayak gini. Keren sih menurut gw.
Belajar komunikasi lagi hari ini dari CHOKY SITOHANG, TOP GLOBAL NGOLAH.
Percaya atau nggak, skill ini bisa buat hidup kamu jadi lebih mudah. Ada banyak pelajaran yang bisa kita catat dari 1 video ini aja.
1. 00:01 "Pak Edi yang mana ini? Udah lama ini nggak ketemu kayaknya"
Ini konteksnya kalau kamu masuk ke ruangan, lagi cari seseorang tapi belum tatap muka. Atau kamu tau orang itu, tapi baru via online dan belum pernah ketemu offline.
2. 00:07 Salaman seenggaknya kalau di video durasinya 8 detik sampai 00:15 tapi itu karena dipotong videonya, at least 10 detik. Jadi ketika salaman jangan buru-buru dilepas.
3. 00:09 "Terima kasih kepercayaannya, terima kasih berkatnya buat keluarga kami"
Kalau kita dapat project atau pekerjaan, jangan lupa untuk nyapa yang ngasi project atau pekerjaan itu. Sampaikan terima kasih karena udah percaya.
4. 00:22 "And, this Raynaldo. Good to see you, brother"
Lagi-lagi penting buat riset dulu, mau ketemu siapa, apa jabatan atau posisinya, istri atau anaknya. Orang bakal lebih senang kalau kita tau tentang dia.
5. 00:43 "Apa kabar, sehat? Baik atau bahagia?"
Nah, ini memang kelas PEMAEN. Jawaban "baik" dibawa ke next level jadi "bahagia. Bisa jadi referensi kalau kamu nanya kabar orang lain terutama kalau jumpa di event yang memang harusnya orang happy.
6. 00:47 "Pembina saya ini. Itokku"
Di detik 00:33 juga ada penggunaan "Direktur saya". Harus diakui Indonesia adalah negara timur yang senang menggunakan panggilan honorifik, untuk nunjukkin rasa hormat, status sosial, jabatan, usia, atau hubungan tertentu.
7. 00:58 "Ini auditor yang bicara"
Ini lanjutan dari frame sebelumnya di detik 00:56 kalau Choky dipuji terlihat lebih muda. Nah, kalau di event atau momen tertentu kamu dipuji, terima. Bahkan amplify. Misal dipuji pintar, amplify, "Ah, kalau bapak yang bilang, saya nggak ada keraguan".
Poin mana yang bakal kamu praktekkin? 😅
Two Iranian players and head coach Amir Ghalenoei criticised World Cup organisers for travel restrictions that they say are impacting the team’s preparations and performance at the tournament.
Speaking after a 2-2 draw with New Zealand, Ghalonoei, striker Mehdi Taremi and goalscorer Mohammad Mohebbi said that they were being forced to fly back to their base camp in Mexico hours after Monday’s match at SoFi Stadium near Los Angeles.
Taremi and Ghalenoei said that the team had hoped to do a recovery session on Tuesday in Los Angeles, the day after the match, but had been told they couldn’t.
“They have said we have to leave immediately,” Ghalenoei said through an interpreter. “We are really troubled by that. We don’t know why they are returning us, to be honest. It seems very strange. It seems others are doing the planning for us.”
He continued: “Our team is the most oppressed one in the whole World Cup.”
🔗 https://t.co/R3iNrc6feo
A number of Americans have decided to go to the stadiums where Iran is playing and cheer for the Iranian national football team, due to the difficulties the US government has created for Iran's national team (such as denying visas to some team members and preventing Iranian fans from being in the US to support their team).
They are also encouraging other Americans to join this action.
I am here to remind you that so far Iran hasn't used even 5% of its military might. When it goes to 30%, West Asia will be changed forever. When it goes to 50%, Israel will be over, and the US will have 100,000 soldiers less than it does today (many thousands dead, the rest injured and traumatized for life), and will be in a depression that will make 1929 look like a picnic. When Ghalibaf says 'you will see a different Iran', this is roughly what he means.
Remember that Iran has literal millions of soldiers ready to deploy from Yemen to Iraq's borders with Syria and Jordan, and Palestine. They have a huge native land army, well trained, well equipped, and able to invade any neighbour within hours with massive force, accompanied by thousands of drones that wrack everything in their way. And that's before hundreds of ballistic and cruise missiles that target every [piece of infrastructure and command and control.
They haven't decided to put this juggernaut army into motion yet, but when they do, no force on earth will be able to stop it.
Don't be fooled by the sweetness and playfulness of Iran's representatives. These are hardened fighters, veterans of vicious and fierce battles, and true believers. When they decide to act, October 7 will seem like a sweet pastoral day in comparison.
Every day, we are getting closer to this point of no return