When Nokia engineers examined the original iPhone in the summer of 2007, they found a 2-megapixel camera with no flash, no autofocus, and no video. Their flagship phone, released three months earlier, had a 5-megapixel Carl Zeiss lens (the optics brand used in Leica cameras), autofocus, an LED flash, and video recording. Nokia beat Apple on every camera specification. Nokia also no longer makes phones.
Apple's advantage came from three engineering decisions, none of which appeared on a spec sheet. Speed was the first. Nokia's camera took 6 seconds just to open the app, with the whole process reaching 8 seconds before a first photo could be taken. Apple chose fixed focus deliberately, locking the lens at a fixed point where anything from arm's length to the horizon stays sharp. With the autofocus delay gone, the whole process took under 2 seconds from pocket to saved photo. For the actual photos people take of people and places, that speed was worth more than 3 extra megapixels.
The second decision was matching resolution to the actual use case. A 2-megapixel image is 1,600 by 1,200 pixels. The iPhone's own screen in 2007 was 320 pixels wide. The most common destination for a camera phone photo was a text message or an email with a file size limit. Apple sized the sensor for where photos were going, not for what looked best on a product box.
The third decision was the path from shutter to shared. Sharing a photo on the Nokia N95 meant opening the image, pressing Options, choosing Send, picking Bluetooth or email or a picture text, and working through sub-menus from there. On iPhone, every photo went straight into a built-in album, swipeable with a finger, emailable in two taps. Apple designed the camera as a communication tool first.
Nokia held roughly half of global smartphone sales in 2007. By 2013, that number had collapsed to single digits. Microsoft bought Nokia's phone business for $7.2 billion and wrote off virtually the entire investment as a loss within 15 months. Digital camera shipments peaked at 121 million units in 2010 and fell 94% by 2023. Apple became the company most closely linked to the phrase "digital camera" in media analysis by 2013, built from a sensor that lost to Nokia on paper.
The Nokia engineers who analyzed that first iPhone were right that the numbers didn't add up. The market had simply stopped counting them.
اجمل أفتتاح في كأس العالم في التاريخ
متخيلين الافتتاح يتابعونه المليارات على كوكب الارض من جميع الاديان والجنسيات
بدأ بأية من القرآن الكريم، وترجموها بنفس الوقت لكل اطياف العالم
قطر في كأس العالم استغلوا الافتتاح لتقدم رسالة عظيمة لجميع العالم ❤️
Stanislas Dehaene adalah seorang neuroscientist yg udah 3 dekade meneliti cara otak manusia bekerja.
Tahun 2020 kemarin, dia nulis buku berjudul “How We Learn” yg bahas cara otak kita memproses & mengingat ilmu baru.
Aku udah selesai baca dan isinya bener2 mind-blowing, terutama soal tips praktis yg disebut Dehaene sebagai 4 PILLARS OF LEARNING.
A thread 🧵 by Narasi Visual
Kemarin, @TheEconomist mempublikasikan dua artikel soal Indonesia
Judul artikel pertama: Presiden Indonesia sedang membahayakan ekonomi dan demokrasi
Subjudulnya: Prabowo Subianto terlalu boros dan terlalu otoriter
Perlu diketahui, Spendthrift artinya orang yang menghamburkan uang secara tidak bijak. Diksi ini lebih keras dari sekadar “boros”. Dalam konteks negara, ada kesan ceroboh dan tidak bertanggung jawab secara fiskal.
========
Judul artikel kedua: Indonesia, negara mayoritas Muslim terbesar, sedang menempuh jalur yang berisiko
Subjudulnya: Prabowo Subianto sedang menggerogoti keuangan negara—dan demokrasinya.
Di artikel ini, pemilihan diksi “Eroding” rasanya memperkuat artikel lainnya. Jeopardising (membahayakan) masih bicara soal risiko ke depan. Eroding (menggerogoti) berarti prosesnya sudah berlangsung. Rasanya pelan, diam-diam, tapi nyata. Bagaikan batu yang berlubang oleh tetesan air.
@cupinotcupcakes@yusrilfahriza Tapi orang yg terlalu nyentrik di penampilan, biasanya punya pemikiran nyentrik juga kak 🥲😂
Karna logika aja se pick me pick me nya kita pilih kacamata biar keliatan on point, keknya mentok di motif belang” aja sih, ga yg beda banget kek kacamata tes gt 😂😂😂
Lo pernah concern gak soal privacy waktu pake AI?
entah lo pake ChatGPT, Claude, Gemini, atau Grok.
Coba coba, inget bentar, dalam sebulan ini lo udah ketik apa aja?
📄upload dokumen rahasia negara
💳paste statement kartu kredit minta dianalisis
💔curhat soal masalah percintaan
📸upload foto KTP buat diketik ulang
💼paste data klien, gaji karyawan, atau strategi internal kantor
📝curhat tentang bos lo, temen lo, atau pasangan lo
Sekarang bayangin semua itu: nama lengkap, alamat, nomor rekening, foto wajah, rahasia kantor, percakapan paling pribadi disimpan dipakai melatih model.
"ah masa sih, kan ada toggle privacy?"
Ada. tapi default-nya semua ON. dan tiap AI beda banget level keamanan defaultnya.
gue compare keempatnya 👇
𝟴𝟬% 𝗻𝗮𝗽𝗮𝘀 𝗽𝗲𝗺𝗯𝗮𝗻𝗴𝘂𝗻𝗮𝗻 𝗱𝗮𝗲𝗿𝗮𝗵 𝗸𝗶𝘁𝗮 𝗺𝗮𝘀𝗶𝗵 𝗯𝗲𝗿𝗴𝗮𝗻𝘁𝘂𝗻𝗴 𝗽𝗮𝗱𝗮 𝗽𝗲𝗻𝗱𝗮𝗽𝗮𝘁𝗮𝗻 𝗻𝗼𝗻-𝗽𝗮𝗷𝗮𝗸, yang masih kental dengan transfer dari pemerintah pusat. Padahal, Indonesia memiliki lebih dari 91 ribu wilayah administratif, salah satu yang terbesar di ASEAN, melampaui negara seperti Thailand, Filipina, dan Kamboja.
Menurutmu, apa yang perlu diperbaiki agar daerah bisa lebih mandiri secara fiskal? 🤔
Read more: https://t.co/2ZpD6rcz2v
Lanjut pembahasan di komen yaa 👇
#LembagaPenyelidikanEkonomiMasyarakat #EkonomiIndonesia #KeuanganDaerah #APBD #PembangunanDaerah
Ada kisah agak menyedihkan yg orang2 gatau soal perjalananku bisa sampai jadi jurnalis TV, diundang sana-sini jadi speaker, dan pas sekolah menang lomba speech/storytelling/debat bhs Inggris.
Waktu pas SD, hasil tes IQ keluar dan hasil punyaku Superior. Tapi di balik itu ada problem lebih besar, bahwa aku gak bisa komunikasi dengan baik dan orangnya gak pede mampus. Bahkan ditanya kabar aja ngejawabnya ga jelas.
Akhirnya, ibuku dipanggil ke sekolah dan guru bhs Indo-ku ngasih tau ‘ada yg salah nih sama nih anak’.
Udah gitu akhirnya pelan2 aku dilatih baca puisi depan kelas, terus storytelling, dan karena aku suka nulis, guruku nyuruh aku buat baca tulisanku depan kelas — sampai ditunjuk kepala sekolah ikut lomba. Dan polanya terus begitu sampai SMA.
Supaya kita punya skill komunikasi dan bisa artikulasi kemampuan bicara kita, intinya perluh dilatih. Dan yg penting, ada support system yg oke. Kalo kata @keharyapatihan berkali2 bilang ke aku ‘push the limit’
Data ini menarik karena menunjukkan bahwa masalah utama Indonesia saat ini bukan inflasi yang liar. Inflasi masih terkendali, dan pertumbuhan uang beredar masih berada di zona yang relatif sehat.
Tapi untuk investor, pertanyaan berikutnya bukan hanya berapa besar uang yang beredar, melainkan ke mana uang itu mengalir?
Saya pikir Op-Ed Pak @ChatibBasri valid.
Pertama, NPL perbankan saat ini berada di sekitar 4% dibandingkan 27% pada 1998.
Kedua, Inflasi juga jauh lebih rendah di kisaran 2–3% dibandingkan sekitar 60% saat krisis,
Ketiga, Suku bunga berada di level 6–7% versus sekitar 80% pada masa itu.
Secara komparatif historis, fondasi makroekonomi Indonesia memang sudah jauh lebih kokoh.
Namun, ada satu risiko yang justru muncul dari keyakinan bahwa kondisi saat ini sudah lebih aman, yaitu DISTORSI INSENTIF YANG TIMBUL AKIBAT ADANYA JAMINAN IMPLISIT.
Ketika pasar meyakini bahwa pemerintah dan Bank Indonesia akan selalu bertindak sebagai penyangga terakhir, maka disiplin fiskal dan kehati-hatian pelaku pasar berpotensi melemah. Tentu ini bukan semata soal niat, tetapi soal perubahan psikologi risiko. Ketika rasa aman meningkat, kewaspadaan cenderung menurun.
Fenomena ini dikenal sebagai moral hazard yang terbentuk secara struktural.
Intinya bukan apakah krisis 1998 akan terulang persis, karena konteksnya jelas berbeda, tetapi bagaimana ekspektasi terhadap campur tangan pemerintah dapat mendorong pengambilan risiko yang lebih tinggi dari yang seharusnya.
Narasi pemerintah soal “tidak perlu panik” memang perlu dilakukan. Tetapi, pesan ini juga harus disertai DISCLAIMER bahwa stabilitas tidak bisa hanya bertumpu pada keyakinan, melainkan pada disiplin kebijakan yang konsisten.
Kepercayaan pasar pada akhirnya tidak dibangun dari jaminan, tetapi dari rekam jejak yang terus terjaga.
Adik-adik, kakak-kakak semuanya. Kali ini gw mau bicara tentang sesuatu yang sudah menyiksa rakyat Indonesia selama bertahun-tahun. Bukan korupsi. Bukan inflasi. Tapi sesuatu yang lo rasain setiap kali mau mudik atau liburan dan buka aplikasi Traveloka, lalu langsung menutup aplikasinya lagi karena tidak sanggup melihat angkanya.
Yes. Tiket pesawat domestik Indonesia. Yang harganya bisa lebih mahal dari tiket ke luar negeri. Yang bikin relawan bencana harus muter lewat Malaysia dulu baru bisa ke Aceh. Yang udah dikeluhkan jutaan orang tapi tidak pernah beneran berubah.
Gw udah baca risetnya. Gw udah cek datanya. Dan sekarang gw mau cerita ke lo semua, pelan-pelan, dengan bahasa yang bisa dimengerti semua orang, kenapa ini terjadi dan siapa yang sebetulnya diuntungkan dari penderitaan kita bersama. 🧵
Chatib Basri (mantan Menkeu, sekarang Harvard Visiting Scholar) nulis di Kompas pagi ini soal rupiah Rp17.345:
intinya, jangan trauma 1998. fondasi sekarang beda.
3 poin yang penting:
1. CDS Indonesia naik tipis — investor belum kabur. beda dengan 1998 yang krisis kepercayaan total.
2. inflasi terkendali. pelemahan rupiah tidak otomatis berarti krisis perbankan. instrumen kebijakan sudah jauh lebih lengkap (BI rate, intervensi, stabilizer fiskal).
3. risiko terbesar bukan kurs — tapi disiplin anggaran. kalau defisit terjaga dan komunikasi transparan, capital outflow bisa ditekan.
bridge ke dev/freelancer:
— income USD naik sekitar 2.6% bulan ini (kalau charge USD)
— biaya hidup kemungkinan naik dalam 6–12 bulan (efek impor ke harga lokal)
— net effect-nya adalah, dev yang dibayar USD masih net positive, tapi tetap perlu waspada inflasi domestik
nyambung dengan poin minggu lalu, yaitu punya 1 income stream USD itu hedge yang nyata, bukan teori.
source: artikel lengkap di Kompas, 4 Mei 2026 (opini halaman 7)
Merinding tapi takjub lihat ini. 👇🏻 🔥
Gambar paling detail permukaan Matahari yg pernah diambil.. granula plasma raksasa, suhu 5500°C, konveksi magnetik yg chaotic.. tapi ini baru hanya "kulit" tipisnya.
Matahari kita yg terlihat "tenang" dari Bumi sebenarnya neraka plasma dgn badai magnetik yg bisa bikin aurora global atau blackout listrik dunia kalau lidah api dgn CME besar.
Tapi yg lebih dahsyat: energi dari fusi inti Matahari butuh 100.000 tahun untuk keluar ke permukaan. Artinya cahaya yg menyinari kita sekarang lahir di inti Matahari zaman es terakhir.
Kita lagi mandi cahaya Matahari dari masa lalu yg jauh.. sementara Matahari "hidup" di waktu yg beda.
Jadi.. di Astronomi dan fisika jgn sebut "jgn sering nengok ke masa lalu" krn semua yg kita lihat dan rasakan ya masa lalunya itu. 😁😁
Nyokap waktu itu pernah bilang kalo mau cari laki laki baik itu, lihat gimana dia memperlakukan sesama manusia mungkin yang level ekonominya dibawah dari kita
First date pergi makan dan semuanya berjalan normal seperti biasa. Sampe pas pulang dibantuin kang parkir terus dia ngebentak dan marah2in tukang parkir padahal masalahnya sangat sepele
Sorry to say tapi gue langsung cut off yang modelan begini. Gak bisa sama cowok yang suka remehin orang 🥹
Ingat dan tanamkan dalam mindset kalian : "HACKATHON ITU LOMBA MEMBACA!"
Ya, benar. Gak salah baca kok kalian!
Setelah menang 40 hackathon internasional, satu pola yang selalu muncul di tim yang kalah.
Apa tuh?
Langsung buka VS Code tanpa baca deskripsi track.
Mereka bikin project keren.
Kodenya rapi.
UI-nya smooth.
Tapi pas demo, juri tanya "Ini solve masalah apa?"
Jawabannya gak nyambung sama track yang diikuti.
Malunya keinget sampai lebaran tahun depan.
Kenyataannya, juri hackathon gak punya waktu banyak.
Mereka review puluhan project dalam sehari.
Yang melaju sampai final adalah mereka yang punya problem statement jelas.
Sesimpel itu.
Yang kita lakuin jauh sebelum nulis satu baris kode:
👉 Baca deskripsi track minimal 3x
👉 Identifikasi masalah spesifik yang diminta
👉 Pastikan project kamu menjawab masalah itu
Problem statement yang tajam sering ngalahin project dengan kode rapi nan sempurna.
Ini bukan opini.
Ini pola dari 40 kemenangan.
Mau belajar cara breakdown track hackathon yang bener?
Yuk gabung komunitas Dev Web3 Jogja.
Link di bio seperti biasa ya!
Sebenarnya ini lumrah di metropolitan, bahwa mobilitas perkotaan didominasi pergerakan penglaju lintas administratif.
Banyak penglaju dari Sidoarjo dan sekitarnya yang beraktivitas di Surabaya (sayangnya, data O/D GKS+ belum dapat kami share).
Fenomena yang juga terjadi di Jabodetabek, pergerakan terbesar berasal dari aktivitas lintas wilayah (contoh foto di bawah ini).
Bedanya, di Jabodetabek ada KRL yang jadi opsi mobilitas ketika transportasi jalan lumpuh (walau harus desak-desakan), sementara penglaju Surabaya cuma bisa mbatin sambil misuh-misuh.