“maybe i will live long enough to see this country become progressive. or maybe i will die in the hands of our oppressors.”
i wrote about my experience of being queer in indonesia.
( https://t.co/uLLx1ZeMIX )
btw, tahun 1998 orang sudah waswas tapi ga menyangka kalau bakal separah itu sampai minoritas tionghoa dibakar dan dibunuh rame-rame di tengah jalan. mungkin sekarang kalian juga mikir pas tiba saatnya kalian bakal masih sempet lari mengungsi, tapi kenyataan mungkin ngga gitu
Sebetulnya peraturan ini udah lama dibuat di PERPRES Nomor 111 Tahun 2025 tentang Kebijakan Umum Pertahanan Negara Tahun 2025-2029, yang diteken Prabowo di Jakarta pada 24 Oktober 2025 jadi udah hampir setahun lalu.
Kenapa rame lagi sekarang? Isu ini naik gara-gara ada perayaan pride month oleh UKM Suara Mahasiswa (SUMA) Universitas Indonesia di medsos aja.
Dan FYI aja di era lahirnya ORDE BARU dulu tuduhan penyuka sesama jenis begini dilegitimasi sebagai pengekor PKI loh.
Saat pembantaian massal 1965-1966, ada tuduhan bahwa anggota Gerwani (organisasi perempuan yang dikait-kaitkan dengan PKI) berhubungan seks sesama jenis, dan tuduhan ini dipakai untuk membenarkan pendiskreditan bahkan pembunuhan terhadap mereka.
Jadi pola tuduhan seksual/moral buat legitimasi kekerasan politik ini sebenarnya udah ada sejak Orde Baru lahir.
Awalnya ragu buat ngepost di first account mengingat isinya adalah keluarga, teman, dan kolega yang konservatif/homofobik/02 garis keras.
Tapi that Fyodor Dostoevsky "you betrayed yourself for nothing" quote keeps haunting me, so fuck it.
Maaf kalo gw belom openly queer sampe masih temenan sama orang-orang homophobic karna gw butuh koneksi mereka selama kuliah dan urusan finansial gw kedepannya, maaf sm diri gw sendiri karna gak bisa punya privilege buat cuma temenan sm ally atau queer sampe nelen omongan jahat-
Klasik banget.
Ketika gak bisa nyelesaiin masalah riil kayak korupsi, judi online, program cacat, yang disasar malah kelompok rentan dan minoritas.
Perpres ini cuma pengalihan isu murahan buat nutupin ketidakmampuan pemerintah. Musuh imajiner sengaja diciptain biar rakyat hilang fokus dari bobroknya sistem dan ujung-ujungnya apa?
Benar,
Konflik horizontal.
Kita pernah punya pengalaman buruk dengan masa bersiap, anti Islam-masyumi era Soekarno, anti PKI di 65, anti china era orba, toleran vs radikal era jokowi, sekarang pindah ke LGBT.
.
Semua bisa jadi korban, tergantung rezim otoritarian mau ke mana. Jangan sampe kita jadi alat.
Ini bahaya banget, SEMUA orang bisa kena dampaknya bukan cuma LGBT kalau bener-bener ada. Buka mata dah coba.
Ini malah bisa jadi hukum karet yang bisa jadi senjata untuk semua. Undang-undang yang dirancang untuk menargetkan satu kelompok minoritas jarang berhenti di situ. Bakal selalu melebar menjadi alat kontrol terhadap siapa saja yang dianggap tidak normal atau mengganggu. Mirip pasal-pasal karet UU ITE.
Identifikasi juga mustahil, coba dah gimana caranya?
Bagaimana negara mendefinisikan LGBT? Apakah dengan penampilan, koleksi seni, like di medsos, atau sekadar fitnah tetangga? Kalau aparat dikasih kekuasaan longgar, yang kena bukan cuma LGBT, tapi siapa saja yang feminine, tomboy, single lama, atau punya musuh.
Potensi penyalahgunaan aparat itu gede. Di negara di mana aparat masih suka sewenang-wenang, menambah pasal pidana subjektif sama saja memberi peluru kosong yang bisa ditembakkan ke siapa saja. Hari ini LGBT, besok bisa kamu yang suka seni seperti tari, besoknya temenmu yang dianggap terlalu dekat sama temen, atau tongkrongan kena fitnah.
Ini bukan perlindungan masyarakat, tapi perluasan kekuasaan negara ke ranah pribadi.
Hukum yang berdasarkan moralitas mayoritas tanpa batas yang jelas adalah undangan terbuka untuk tirani terhadap kehidupan pribadi semua warga.
i once naively believed that men just genuinely considered women less capable but now i understand that they know women are every bit as competent as them and they actively sabotage women’s social mobility because a financially dependent woman is easier to control, own, and rape.
Indonesian will write this on protests but then support criminalization of queer people, keep silent when there's religious persecution and immediately becoming a neoliberal capitalist that deny Indonesian systemic neo colonialism. We're truly the worst people to speak on this.
recycle aja terus narasi dari orba. bedanya dulu PKI, sekarang LGBT. dulu narasi nya cina jahat, sekarang LGBT jahat. capek ga sih, gini mulu main nya? kalian rakyat capek ga sih, dimainin gini mulu? kapan belajarnya? mau remed brp kali sblm kt maju? BANGUN WOI
Apparently June is scoliosis awareness month as well as pride month, so it's just a great month for people like me who are not straight in any way, shape, or form