logika aneh prabowo untuk kesekian kalinya:
- 14 agustus di gedung MPR larang kementrian ada acara seremonial apapun lagi
- katanya hemat anggaran supaya bisa bangun sekolah dll
- 3 hari berselang, hari ini ada acara karnaval dari seluruh kementrian dia
- ada total 53 kementerian
- artinya ada 53 pameran karnaval hari ini
- angggap per kementerian anggaran 10 jt = 530 jt buat karnaval hari ini kalo 100 jt berarti ada = 5,3 miliar
@fitri__v3@kumparan gak ada istilah mantan presiden
contohnya mantan presiden US Obama penyebutannya gk pernah pake "Former President" tapi tetap Mr President atau US President 44
Guys, ini gilaa sihh
Suster Natalia.
Perempuan yang tidak menikah.
Tidak punya harta pribadi.
Mengabdikan seluruh hidupnya untuk gereja dan umatnya di Labuhanbatu, Sumatera Utara.
Dan sekarang dia harus menanggung beban Rp28 miliar yang raib bukan uangnya sendiri
tapi uang 1.900 jiwa umat yang dia jaga amanahnya.
bahkan dia bilang
ke teman dia yang suster juga
dia akan masuk penjara.
dia cerita
Setiap kali ketemu umat yang sederhana itu,
saya selalu katakan:
mari, masa depan anak-anakmu melalui menabung.
Tapi sekarang masa depan mereka itu hancur di tangan saya.
Kronologi yang perlu semua orang pahami:
Credit Union Paroki Aek Nabara koperasi simpan pinjam di bawah naungan gereja sudah berjalan 45 tahun tanpa masalah.
Umat menabung perak demi perak.
Untuk sekolah anak.
Untuk biaya sakit.
Untuk masa depan.
Total yang terkumpul dan ditempatkan di deposito: Rp28 miliar lebih dari 1.900 anggota.
Di 2019 Andi Hakim Febriansyah
Kepala Kas BNI Unit Aek Nabara
mendatangi pengurus CU.
Menawarkan produk bernama BNI Deposito Investment
dengan bunga 8% per tahun.
Lebih tinggi dari deposito biasa.
Pengurus percaya.
Karena siapa yang tidak percaya kepada kepala kas bank negara yang datang dengan seragam resmi, ID card BNI, dan pick-up service resmi yang sudah berjalan sejak 2015?
Tujuh tahun berjalan.
Bunga masuk rutin setiap bulan.
Tidak ada masalah.
Sampai Desember 2025 dan semuanya mulai runtuh:
CU mengajukan pencairan Rp10 miliar untuk pinjaman ke anggota.
Bertahap minta Rp2 miliar dulu.
Januari 2026 tidak cair.
Februari 2026 tidak cair.
5 Februari Suster Natalia panggil Andi.
Andi bilang besok.
Besok tidak cair.
Andi minta semua bilyet deposito untuk pembaruan. Suster menyerahkan semuanya karena percaya.
Sore hari Andi sudah di jalan ke Medan katanya cuti.
Lalu 23 Februari bukan Andi yang datang.
Tapi kepala kas baru.
Dengan kalimat yang mengubah segalanya:
Per hari ini saudara Andi Hakim Febriansyah bukan pegawai BNI lagi.
Dan produk yang ditawarkan itu bukan produk BNI.
Suster Natalia pingsan lima menit.
Yang lebih ngeri dari hilangnya uang itu:
Bilyet deposito yang dipegang Andi dibakar. Sengaja. Supaya tidak ada barang bukti.
Tapi Andi salah hitung.
Satu bilyet tersimpan di tangan pastor lain yang kebetulan tidak ada di tempat saat pengambilan.
Satu bilyet itu yang menjadi bukti bahwa semua ini nyata.
Andi sudah menyiapkan skenario dari jauh hari. Tanggal 23 Februari itu hari yang sama dia ambil semua bilyet dia sudah mengajukan pengunduran diri. Dan dua hari kemudian dia terbang ke luar negeri bersama istrinya lewat Bali ke Australia, lalu ke New Zealand.
Sambil cuti dia masih angkat telepon Suster Natalia. Masih bilang "aman, Suster."
Masih janjikan pencairan.
Setelah red notice diterbitkan oleh Interpol dan Australian Federal Police Andi kembali ke Indonesia 30 Maret 2026 dan ditangkap di Kualanamu.
Di dalam pemeriksaan dia mengakui semua perbuatannya.
Uangnya?
Dipakai untuk sport center, kafe, mini zoo, tanah, dan berbagai aset yang kini sedang dilacak dalam proses TPPU.
Dan sekarang masuk ke bagian yang paling mengkhawatirkan:
BNI melakukan verifikasi internal sendiri.
Tanpa transparansi.
Tanpa melibatkan korban dalam proses.
Hasilnya: BNI bersedia mengganti Rp7 miliar.
Dari Rp28 miliar lebih.
Dan pada 26 Maret 2026 tanpa persetujuan CU-PAN BNI mentransfer Rp7 miliar itu ke rekening korban secara sepihak.
Seolah dengan mentransfer itu kasus selesai.
Kuasa hukum CU-PAN dari Gani Djemat & Partners menolak keras.
Karena:
Berdasarkan prinsip Vicarious Liability perusahaan bertanggung jawab atas tindakan pegawai yang dilakukan dalam kapasitas jabatannya.
Andi beroperasi dengan ID card BNI, jabatan BNI, fasilitas pick-up service BNI, dan atas nama BNI selama tujuh tahun.
Ini bukan tindakan pribadi yang kebetulan dilakukan oleh orang yang bekerja di BNI. Ini tindakan yang bisa terjadi karena dia adalah BNI di mata korban.
POJK Nomor 22 Tahun 2023 Pasal 10 ayat 1 juga menegaskan: pelaku usaha jasa keuangan wajib bertanggung jawab atas kerugian konsumen akibat kesalahan pegawainya.
Tidak ada klausul kecuali kalau pegawainya nakal.
Dan respons BNI yang paling menyakitkan menurut korban:
Enam kali mediasi.
Satu kali aksi damai.
Sepanjang itu tidak satu pun pejabat BNI dari kantor cabang atau wilayah yang mengucapkan kata "maaf" atau kami prihatin kepada korban.
Yang datang dari pihak BNI hanya satu permintaan berulang: Berikan kami bukti pendukung.
Padahal semua data transaksi ada di sistem BNI sendiri.
Semua perpindahan uang dari kas lancar ke rekening Andi tercatat di rekening koran BNI.
Bukan di tangan korban.
Baru Wakil Menteri BUMN yang mengundang korban dan itulah pertama kalinya ada pejabat yang mengucapkan kata permohonan maaf dan rasa prihatin.
Satu hal yang tidak bisa diabaikan:
Suster Natalia sekarang punya utang pribadi ke beberapa orang.
Karena ada anggota CU yang butuh uang untuk berobat yang tidak bisa dia biarkan meninggal di rumah sakit sementara dana CU tidak bisa diakses.
Dia yang tidak punya harta pribadi meminjam uang untuk membayar tagihan rumah sakit umatnya.
"Saya tidak bisa biarkan umat meninggal di rumah sakit, Pak."
BNI adalah bank BUMN.
Bank milik negara.
Diawasi oleh OJK.
Dijamin kepercayaannya oleh nama negara Indonesia.
Dan di bawah namanya selama tujuh tahun seorang kepala kas menjalankan skema penipuan yang menyedot uang 1.900 jiwa umat gereja yang menabung perak demi perak untuk masa depan anak-anak mereka.
BNI tidak bisa menyebut ini hanya masalah oknum lalu cuci tangan dengan transfer Rp7 miliar yang tidak transparan prosesnya.
Karena korban bukan menyimpan uang kepada Andi Hakim.
Korban menyimpan uang kepada BNI.
Dan BNI harus mengembalikannya penuh tanpa pengecualian.
Kalau tidak ini bukan hanya kasus kriminal biasa.
Ini adalah konfirmasi bahwa di negeri ini orang miskin yang menabung untuk masa depan anaknya bisa kehilangan segalanya karena sistem yang seharusnya melindungi mereka justru membiarkan hal ini terjadi selama tujuh tahun.
@senogp Ini list misteri yg disusun Rokushikimaster tahun 2016 (10 tahun yg lalu), disaat semua hal dibawah belum diungkap oleh Oda, apakah semua sudah ada jawabannya sekarang ๐คญ๐
Guys kata Tom Lembong di podcast Malaka dan ini salah satu yang paling jujur yang gw dengar dari mantan pejabat Indonesia soal kondisi sekarang.
Dia bilang kebijakan luar negeri Indonesia sekarang paling berantakan sejak 1965.
Bukan sejak 1998. B
ukan sejak reformasi. Tapi sejak 1965.
Dan dia kasih contoh konkret yang bikin gw tidak bisa bantah.
Beberapa minggu lalu Indonesia bergabung ke Board of Peace yang diketuai Amerika dan Israel.
Seminggu setelah itu Amerika dan Israel menyerang Iran.
Sekarang Indonesia ngemis ke Iran minta kapal tanker kita boleh lewat Hormuz.
Dan Iran dalam kondisi marah besar habis diserang mau simpati ke kita?
Itu konsekuensi langsung dari kebijakan luar negeri yang tidak berprinsip.
Soal energi ini yang paling bikin gw ngeri.
Stok BBM dan LPG nasional kita hanya ekuivalen dengan 20 sampai 25 hari konsumsi.
Itu saja.
Kalau Hormuz tidak buka dalam 25 hari puluhan kota di Indonesia bisa kehabisan bensin dan gas.
Ibu ibu tidak bisa masak.
Logistik lumpuh.
Bukan skenario jauh.
Itu risiko yang menurut Tom Lembong sangat nyata dan sangat dekat.
Bandingkan dengan Jepang yang stoknya 250 hari. China yang stoknya 1,3 miliar barel.
Mereka sudah siap dari jauh jauh hari.
Kita masih 20 hari dan tidak ada rencana darurat yang jelas.
Dan ini yang paling menyakitkan dari semua yang dia bilang.
Tahun lalu harga minyak dunia lagi murah.
Surplus 2 juta barel per hari.
Itu saat yang sempurna untuk borong dan nambah cadangan nasional.
Tapi tidak dilakukan.
Uangnya dialihkan ke program program lain yang multiplier effect-nya kecil yang kita sudah tau semua itu yaps EMBEGE
Soal tarif Trump Indonesia panik duluan. Buru buru negosiasi. Dapat kesepakatan tarif 19%. Eh satu hari kemudian Mahkamah Agung Amerika batalkan tarif itu karena ilegal. Negara yang tidak panik sekarang cukup bayar 10%. Kita yang paling semangat negosiasi malah kena 19%.
Tom Lembong bilang ini pelajaran lama yang terus diulang. Kalau kita tinggalkan prinsip demi keuntungan jangka pendek hasilnya selalu buruk. Selalu.
Dan kata dia satu satunya hal yang bisa dilakukan masyarakat sekarang hemat. Kencangkan ikat pinggang. Nabung. Dan mulai pikirin alternatif kalau LPG benar benar langka.
Karena pemerintah sendiri belum punya solusinya.
Karena memang tidak semua harus dan cocok meniru pola kerja Proyek Suku Api. Proyek Suku Api dibiayai dari royalti buku cetak (yang menurut perkiraan saya nilainya tidak besar, mengingat buku terlaris mereka Nenek Moyangku Seorang Anarkis saja, penjualannya belum menyentuh seribu eksemplar, sementara yg mendownload edisi digitalnya kurang dari 2 ribu eksemplar) serta dari donasi.
Sementara buku Reset Indonesia dijual full cetak, untuk angkatan pertama saja sudah laku 11 ribu eksemplar. Uang penjualannya tentu besar, dan itu memungkinkan mereka untuk bisa bikin roadshow diskusi dan bedah buku di puluhan titik (di mana satu titik minimal dihadiri oleh 50 orang) secara gratis untuk peserta, juga memungkinkan mereka untuk mengalokasikannya sebagai biaya produksi konten media sosial tentang konsep Reset Indonesia. Sehingga dampak paparan isu dan pengetahuannya bisa jauh lebih besar. Orang-orang yang membeli buku, secara tidak langsung, turut mengongkosi peserta diskusi dan bedah buku secara gratis. Subsidi silang.
Baik Proyek Suku Api maupun Reset Indonesia adalah sama-sama inisiasi yang baik, keduanya sama-sama mengangkat isu kedaulatan pangan, energi, dan air. Keduanya menggunakan strategi penyebaran pengetahuan yang berbeda, dengan keunggulan dan kekurangannya masing-masing.
Oh ya, btw, tidak ada yang salah dengan menyebarkan ideologi sambil mencari profit. Itu bukan dua hal yang saling menegasikan. Pram melakukannya. Melalui Tetralogi Buru-nya itu, ia menyebarkan semangat kebangkitan nasional serta kritik terhadap kolonialisme dan feodalisme. Dan melalui Tetralogi Buru-nya itu pula, Pram mendapatkan profit untuk menghidupi dirinya dan keluarganya.
Kemuliaan seorang guru tidak berkurang hanya karena ia menerima gaji, dan semangat menyebarkan gagasan seorang penulis tidak lantas menjadi invalid hanya karena ia menerima royalti.
@MCBAIN7979ohzf@ladidaix@ZohranKMamdani If you really say something like this, then you don't know anything about politics, there are no eternal enemies and no eternal friends in politics.
Hi,
I'm Jewish. Many of my closest friends are Jewish. I love them all. My whole family is Jewish, I love them all too. My community is Jewish. Love them all. I love Judaism. I host shabbat dinners, celebrate Jewish holidays, sing Jewish prayers, study Torah & Talmud, and love Jewish culture, history and expression.
But I'm not a Zionist. Zionism was an ideology that said, let's create a Jewish state in a country that's 97%+ non-Jewish.
That's why, when Zionists bought land in Palestine from the 1900s-1948, they uprooted the people living on the land because they weren't jewish.
That's why, when Zionists created cooperatives in Palestine in the 1910s, 1920s and 1930s, they insisted on "Hebrew Labor", i.e., "Jews only" -- no Arabs allowed. That's why, in the 1930s, Zionists expelled Palestinian Arabs from working at Jewish companies and business. Jews only! https://t.co/gItfTIMOso
That's why, in 1948, Zionists militias ethnically cleansed 750,000 Palestinians from their homes.
That's why, from 1949-1956, Israeli forces shot & killed b/w 2,700-5,000 overwhelmingly unarmed Palestinians trying to return to their homes after the war. Because they were the wrong religion/ethnicity (source: Benny Morris, Border Wars, p.416).
That's why Israel expelled another ~30-40,000 Palestinians from Israel from 1949-1959. https://t.co/1d4VqUjxvE
That's why Israel expelled another ~250,000 Palestinians from Gaza & the West Bank when it occupied those territories in 1967.
That's why Israel continued to expel Palestinians from the occupied territories from 1968-1993, many hundreds of thousands of them. They had the wrong DNA. https://t.co/16FarJ7vAw
The Zionists wanted to create a Jewish State with a Jewish majority in a land of overwhelmingly Palestinians.
That's why Israel has become such a pariah state over the years, because it's insistence on jewish rule in a country with so many Palestinians.
That's why Zionism has led Israel to become an apartheid state, according to every relevant human rights organization (@ICAHD in 2010, @UNESCWA in 2017, @YeshDin in 2020, @AdalahCenter in 2020, @btselem in 2021, @hrw in 2021, @fidh_en in 2021, @alhaq_org in 2022, @Addameer in 2022, @AlMezanCenter in 2022, @cacalqudsuni in 2022, @AdvocacyJlac in 2022, @miftahpal in 2022, @ICJ_org in 2022, @DAWNmenaorg in 2022, @amnesty in 2022), since it cannot grant the ~5-6 million occupied Palestinians Israeli citizenship. Israel chose apartheid and Jewish supremacy over democracy. It had to.
Zionism also explains why Israel is now committing genocide (according to @hrw@amnesty@MSF@AlHaq@UNHumanRights@UN_HRC@pchrgaza@AlMezanCenter@WarOnWant@PHRIsrael@BtSIsrael & 86% of the members of the International Association of Genocide Scholars), because, what a Zionist dream it would have been had Palestine been a land without any people on it! the ideology incentivized genocide.
So, please don't conflate Judaism -- that has existed for 3,300+ years -- with your 150-yr-old anti-Jewish ideology founded on the principles of forcible displacement & genocide
Judaism will last as long as their are humans on the planet. Zionism is imploding in real time.