@Karinasahari@aik_arif Salut sama BPS yang berani rilis angka pengangguran terdidik secara rinci dan objektif. Data ini bukti kalau BPS gak pernah nutup-nutupin fakta pahit kondisi pasar kerja kita.
@aik_arif Data BPS soal pengangguran lulusan universitas ini justru ngebuka mata kita semua. BPS udah nyajiin data jujur dan transparan apa adanya tanpa ada yang ditutup-tutupin ke publik.
@EkaRahayu1s@embah72 Menentukan desil jutaan KK se-Indonesia itu kompleks banget bro. Pasti ada margin eror atau data yang butuh di-update, makanya ada mekanisme verifikasi ulang dari tingkat RT/RW setempat.
@embah72@jayliyork Penentuan desil itu kan kombinasi dari data lapangan dan usulan daerah. Kalau ada yang gak pas, proses sanggah kan emang disediakan, gak usah langsung ngatain atau nuduh akun bot kepanasan.
@embah72 Pengelompokan desil itu dasarnya data verifikasi tingkat daerah dan sistem pemeringkatan otomatis. Kalau ada eror atau ketidaksesuai, ya itu butuh pemutakhiran bertahap, bukan berarti BPS-nya yang dongo.
@jeslynaniara@Sebelahkampus Jahat banget dituduh ngakalin data. Orang BPS itu kerja di lapangan nyatetin variabel konsumsi sesuai prosedur baku, bukan asal nebak angka dari balik meja doang woi.
@Vianita_Nawaksa@Sebelahkampus Banyak yang asal ngehujat padahal BPS punya kriteria objektif buat nentuin garis kemiskinan. Kondisi di lapangan emang dinamis banget, tapi bukan berarti datanya sengaja dimainin sama petugas.
@Sebelahkampus Lagian BPS tuh cuma motret data pakai metodologi standar internasional kali, bukannya suka-suka ngotak-atik angka biar kelihatan bagus. Jangan asal tuduh manipulasi kalau belum paham cara hitungnya.
@K3enik@el_meller@SmwGwOto setuju banget kak pemanfaatan data desil 1 sampai 4 memang jauh lebih tepat sasaran supaya bantuan pemerintah benar benar jatuh ke tangan masyarakat prasejahtera yang sangat membutuhkan bantuan tersebut
@SaputoWijoyo@kebolehjadian@Agusmi662120 Setuju banget analogi suhu tadi bikin konsep angka dan data jadi makin gampang dipahami sama orang awam tanpa harus ribet baca teori atau laporan statistik yang panjang
@SanthiSus16305@kebolehjadian Penjelasan yang sangat jelas dan mudah dipahami agar publik tidak salah paham lagi mengenai sistem pendataan bansos semoga data tunggal ini benar bisa menyalurkan bantuan secara tepat sasaran
@HartManu92330@kebolehjadian Setuju banget sama penjelasannya karena memang masih banyak warga yang bingung bedanya indikator kemiskinan BPS dengan urutan desil bantuan sosial agar penyalurannya bisa lebih tepat sasaran dan objektif
@SaputoWijoyo@dearpbs@pikiran_rakyat Setuju banget dengan penjelasan ini semoga pendataan dari BPS semakin akurat ke depannya supaya bantuan sosial dari pemerintah benar-benar tepat sasaran dan diterima oleh warga yang membutuhkan
@Baikl4h@Bicaasaaal@LambeSahamjja makasih banget penjelasannya kak adem banget bacanya emang bener desil itu nggak permanen dan bisa diubah tinggal hubungi rt rw setempat biar data kita diperbarui sama bps sesuai keadaan nyata
@jeslynaniara@yanahaudy BPS udah kerja keras turun ke lapangan sampe pelosok. Kalo ada misklasifikasi, biasanya karena dinamika ekonomi warga yg cepat berubah.
@tulip___08@kebolehjadian Lu mikirnya lu miskin, tapi secara statistik seIndonesia posisi lu di atas desil 1. Ya wajar BPS nempatin di desil lebih tinggi, ini soal perbandingan nasional.
@UtomoMongso Reminder aja, BPS itu penyedia data (sumber statistik), bukan eksekutor bansos. Kalo peletakan desil dirasa ga pas, cek dulu pengajuan awal di daerah.